Berpotensi Terjadi Bencana Banjir Faktor Dominan Penyebab Banjir

June 10, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

Banjir bandang yang sama terjadi di Lamongan Jawa Timur, Kutancane Aceh .... Perbedaan akibat pengaruh luar, misalnya ka...

Description

Potensi dan upaya penanggulangan bencana banjir sungai wolowona, nangaba dan kaliputih di Kabupaten Ende

TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Lingkungan

Oleh : Meilani Safira Indradewa A130906008

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008

i

POTENSI DAN UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR SUNGAI WOLOWONA, NANGABA DAN KALIPUTIH DI KABUPATEN ENDE

Disusun Oleh : Meilani Safira Indradewa A 130 906 008

Telah disetujui oleh Tim Penguji Nama

Tanda Tangan ..................

1. Dr.rer.nat Sajidan, M.Si .................. 2. Ir. Solichin, MT

Mengetahui

Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan

Dr. Prabang Setiyono, M.Si NIP. 132 240 171

ii

POTENSI DAN UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR SUNGAI WOLOWONA, NANGABA DAN KALIPUTIH DI KABUPATEN ENDE

Disusun Oleh : Meilani Safira Indradewa A 130 906 008

Telah disetujui oleh Tim Penguji Jabatan

Nama

Tanda Tangan

Ketua

Dr. Prabang Setiyono, M.Si

..................

Sekretaris

Dr. I Gusti Ayu KRH., SH., MM

..................

Anggota Penguji

1. Dr.rer.nat Sajidan, M.Si

..................

2. Ir. Solichin, MT

..................

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana

Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan

Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D

Dr. Prabang Setiyono, M.Si

NIP. 131 472 192

NIP. 132 240 171

iii

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya : Nama : Meilani Safira Indradewa NIM

: A 130 906 008

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul Potensi Dan Upaya Penanggulangan Bencana Banjir Sungai Wolowona, Nangaba, Dan Kaliputih Di Kabupaten Ende, adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut diberi citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudiaan hari terbukti peryataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, Maret 2008 Yang membuat pernyataan,

Meilani Safira Indradewa NIM A 130 906 008

iv

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitiaan Tesis ini dengan baik. Tesis ini berjudul ” Potensi Dan Upaya Penanggulangan Bencana Banjir Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih Di Kabupaten Ende”. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Magister pada Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Pada kesempatan yang baik ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.rer.nat. Sajidan, M.Si., dan Bapak Ir. Solichin, MT., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan serta saran-saran dalam penyelesaian tesis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada: 1.

Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti program S2 di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2.

Dr. Prabang Setiyono, M.Si, selaku ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3.

Dr. I Gusti Ayu KRH., SH., MM, selaku sekretaris Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4.

Kementrian Lingkungan Hidup atas bantuan dan kepercayaan yang diberikan kepada penulis untuk menempuh pendidikan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5.

Bupati Kabupaten Ende yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

6.

Pemerintah Kabupaten Ende yang telah membantu dan memberikan masukan demi terlaksananya kegiatan penelitian ini, khususnya Bapedalda Kabupaten Ende.

v

7.

Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran selama penulis mengikuti Program Pascasarjana.

8. Seluruh karyawan Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan bantuan dan pelayanan yang baik kepada penulis. 9. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Ilmu lingkungan Universitas Sebelas Maret Angkatan 2006, atas kebersamaannya dalam melaksanakan studi. 10. Keluarga besar Indradewa khususnya kedua orangtua, bibi Hj. Leny dan Aba Yusuf Indradewa atas segala dukungan dan do’a. 11. Suami tercinta yang terus memberikan motivasi hingga akhir penulisan ini, ibu serta keluarga atas dukungannya. 12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Semoga tesis ini bermanfaat bagi yang berkepentingan.

Surakarta,

Maret 2008

Penulis

vi

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………

i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING.....………………………..

ii

HALAMAN PERNYATAAN.....................................................................

iv

KATA PENGANTAR…………………………………………………….

v

DAFTAR ISI………………………………………………………………

vii

DAFTAR TABEL…………………………………………………………

ix

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………...

x

DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................

xi

ABSTRAK...................................................................................................

xii

ABSTRACT.................................................................................................

xiii

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang……………………………………………………

1

B. Batasan Masalah………………………………………………….

5

C. Rumusan Masalah........................................................... …….…..

6

D. Tujuan Penelitian…………………………………………………

6

E. Manfaat Penelitian…………………………………………...…...

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori.....………………………………………….. …

8

1. Sungai....................…………………………………… ………

8

2. Bagian-Bagian Sungai………………………………….……

9

3. Ekosistem DAS.......................………………………… ……

10

4. Curah Hujan......................................... ………...………..…….

12

5. Iklim......................................... ………...……………………

17

6. Banjir.......................…………………………................... …

19

7. Mitigasi Bencana Banjir..................................................... ….

21

8. Vegetasi............................................................................. ……

26

9. Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat..............……… ……......

27

10. Upaya Pemerintah Dalam Penanggulangan Banjir………….

31

vii

B. Hasil Penelitian Yang Relevan………….....……………………

33

C. Deskripsi Wilayah Penelitian ………….....………………………

33

1. Lingkungan Fisik ………………...................……………

33

2. Sungai Wolowona …………….....………………………

37

3. Sungai Nangaba ……….....………………..…………………

41

4. Sungai Kaliputih……….....…………………………………

45

D. Kerangka Berpikir Penelitian…………….....……………………

48

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian ………………...................………

50

B. Bahan dan Peralatan……………......…………………….……

50

C. Metode Penelitian…………………......…………………………

51

D. Definisi Operasional…………......………………………………

56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian....................................... ………….......................

59

1. Deskripsi Data................................................................………

59

2. Analisis Deskripsi Data..................................................... ……

64

B. Pembahasan....................................... …………………………....

68

1. Faktor Alamiah Dominan Yang Memicu Banjir di Sungai

68

Wolowona,Nangaba dan Kaliputih.. …..................................... 2. Faktor Non Alamiah Dominan Yang Memicu Banjir di Sungai

74

Wolowona,Nangaba dan Kaliputih...................... ….................. 3. Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat di Sungai Wolowona,

75

Nangaba, Kaliputih.............. .................. .……………… …… 4.Upaya Stakeholder Dalam Menanggulangi Bencana Banjir.......

79

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ................................................... ……………...........

86

B. Implikasi............................................................ …........................

87

C. Saran............................................................................... ………

88

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………… LAMPIRAN

viii

90

DAFTAR TABEL

Nomor

Keterangan

Hal

Tabel 2.1

Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt Dan Ferguson.

19

Tabel 2.2

Metode Pengendalian Banjir

25

Tabel 2.3

Daftar Jenis Flora

38

Tabel 2.4

Daftar Tanaman Budidaya

39

Tabel 2.5

Jenis Fauna diwilayah sungai Wolowona

40

Tabel 2.6

Prosentase Tingkat Pendidikan Masyarakat

41

Tabel 2.7

Jenis Fauna di wilayah Sungai Nangaba

43

Tabel 2.8

Prosentase Tingkat Pendidikan Masyarakat

44

Tabel 2.9

Jenis Fauna di Wilayah Sungai Kaliputih

47

Tabel 2.10.

Prosentase Tingkat Pendidikan Masyarakat

48

Tabel 11.

Sebaran Frekuensi Apersepsi Masyarakat

59

Tabel 12.

Sebaran Frekuensi Skor Apersepsi

60

Tabel 13.

Sebaran Frekuensi Skor Persepsi

61

Tabel 14.

Sebaran Frekuensi Skor Persepsi

63

Tabel 15.

Sebaran Frekuensi Skor Aktifitas Masyarakat

64

Tabel 16.

Sikap Apersepsi dan Persepsi Masyarakat

67

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar 2.1

Keterangan Bagian-bagian Sungai

Hal 9

Gambar 2.2

Pengaruh Bentuk DAS Pada Aliran Permukaan

15

Gambar 2.3

Pengaruh Kerapatan Parit/Saluran Pada hidrogaf Aliran

16

Gambar 2.4

Pembagian Iklim Menurut Schimidt Dan Ferguson

18

Gambar 2.5

Peta Kabupaten Ende

34

Gambar 2.6

Peta Topografi DAS

35

Gambar 2.7

Peta Tata Guna Lahan DAS

36

Gambar 2.8

Peta DAS Wolowona

37

Gambar 2.9

Peta DAS Nangaba

42

Gambar 2.10 Peta DAS Kaliputih

46

Gambar 2.11 Skema Kerangka Berpikir

49

Gambar 3.1

Komponen Analisis Data Model Interaktif

56

Gambar 4.1

Distribusi Frekuensi Apresepsi Masyarakat Tentang Faktor Penyebab Banjir

60

Gambar 4.2

Distribusi Frekuensi Apresepsi Masyarakat Tentang Upaya Pemerintah

61

Gambar 4.3

Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat

62

Gambar 4.4

Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat

63

Gambar 4.5

Banjir Bandang Di sungai Ekoreko desa Roworeke (1988)

71

Gambar 4.6

Jembatan Yang Rusak Akibat Banjir Bandang (1988)

72

Gambar 4.7

Banjir bandang kampung Ndungga (2003)

72

x

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Keterangan

Lampiran 1.

Foto-foto Penelitian

Lampiran 2.

Peta DAS

Lampiran 3.

Penampang Sungai Wolowona

Lampiran 4.

Data Curah Hujan

Lampiran 5.

Perhitungan Debit Banjir

Lampiran 6.

Rekapitulasi Angket

Lampiran 7.

Uji Normalitas Angket

Lampiran 8.

Uji Validitas Pertanyaan Angket

xi

ABSTRAK

Meilani Safira “ POTENSI DAN UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR SUNGAI WOLOWONA, NANGABA, DAN KALIPUTIH DI KABUPATEN ENDE”. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ende, Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur selama 6 bulan sejak bulan September 2007 sampai dengan Februari 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor alamiah dominan penyebab bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih, faktor non alamiah dominan penyebab bencana banjir di ketiga sungai tersebut, persepsi dan partisipasi masyarakat, serta upaya stakeholder dalam menanggulangi bencana banjir. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Deskriptif baik secara kualitatif dengan jenis pendekatan non eksperimen dan pendekatan kuantitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Faktor alamiah dominan penyebab bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih adalah curah hujan yang ekstrim. 2. Faktor non alamiah dominan penyebab bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih adalah antropogenik atau aktifitas masyarakat. 3. Persepsi masyarakat adalah positif tentang faktor alamiah dominan penyebab banjir. 4. Partisipasi masyarakat masih dirasakan kurang dalam menanggulangi bencana banjir. 5. Upaya Stakeholder dalam menanggulangi mitigasi bencana banjir belum dilakukan secara terkoordinasi dan berkesinambungan.

BAB I

xii

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya dapat menyebabkan korban jiwa, kerugian harta benda dan kerusakan pembangunan yang telah dibangun selama ini. Bencana alam yang terjadi akibat eksploitasi sumberdaya alam tanah, hutan, dan air secara berlebihan serta akibat perubahan cuaca atau iklim global telah mengakibatkan bertambahnya lahan kritis, selain itu dampaknya akan mengubah tata guna air, sehingga dapat mengakibatkan banjir, kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi. Salah satu fenomena alam yang menimbulkan kerugian besar yang selalu mengancam beberapa wilayah di Indonesia adalah bencana banjir. Banjir merupakan suatu fenomena alam biasa, namun akan menjadi suatu yang sangat merugikan jika mengancam keberadaan hidup manusia. Berbagai peristiwa banjir terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir di berbagai tempat di Indonesia. Selama bulan Januari 2002 sampai Februari 2003, telah terjadi 72 kali bencana banjir dan tanah longsor di berbagai tempat. Banjir tersebut menyebabkan 85.000 hektar lahan sawah rusak. Banjir di Pacet Mojokerto, Jawa Timur yang terjadi tahun 2003 telah menyebabkan 26 orang meninggal dan 12 orang hilang, banjir bandang di Sungai Bohorok Langkat, Sumatera Utara menelan korban lebih dari 200 orang dengan kerugian materi kurang lebih 700 milyar (Kompas, 8 November 2003). Banjir bandang yang sama terjadi di Lamongan Jawa Timur, Kutancane Aceh Tenggara dan Kabupaten Jember Jawa Timur. Pada tahun 2008 banjir menggenangi sejumlah wilayah di Jawa Timur akibat meluapnya beberapa sungai. Banjir juga melanda wilayah Kabupaten Gresik. Propinsi yang tertimpa bencana banjir cukup parah pada akhir tahun 2007 dan 2008 adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada akhir Desember 2007 banjir bandang melanda Grobogan dan wilayah Surakarta akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Fakta kejadian banjir tersebut merupakan beberapa contoh dari banyak kejadian banjir di Indonesia.

xiii

Banjir yang terjadi disebabkan oleh hujan yang deras dan terjadi terus menerus. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena telah terjadi perubahan iklim global di Indonesia, salah satu dampaknya adalah ketidakteraturan musim yang ditandai oleh fenomena Elnino (musim kering berkepanjangan) dan Lanina yaitu hujan yang turun terus menerus. Pengelolaan sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan adalah faktor lain yang erat hubungannya dengan aktifitas manusia disamping faktor alam tersebut diatas. Untuk meningkatkan pendapatan hidup orang akan melakukan penjarahan hutan (ilegal logging), pengolahan tanah pada daerah lindung tanpa memperhatikan dan mengindahkan kaidah konservasi. Dengan pemanfaatan daerah hutan untuk areal budidaya akan mengakibatkan berkurangnya luasan penutupan lahan (land covering), hal ini akan mengakibatkan peningkatan limpasan aliran permukaan (suplay run off) yang bisa mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor karena tidak ada lagi vegetasi yang berfungsi menahan air. Aktivitas penebangan hutan di hulu akan menyebabkan sedimentasi dan banjir di hilir. Buruknya pengelolaan di daerah hulu yang menyebabkan rusaknya kawasan tersebut, berakibat buruk pada kawasan hilir Daerah Aliran Sungai. Kondisi baik buruknya pengelolaan lahan di dalam DAS dapat dilihat dari keluaran sistem DAS, yaitu debit banjir dan debit sedimen yang terjadi. Kabupaten Ende merupakan salah satu Kabupaten yang berada di daratan Flores Propinsi Nusa Tenggara Timur, dengan luas wilayah berkisar

±204.660 Km² dan jumlah

penduduk tercatat 249.876 jiwa yang tersebar di 20 Kecamatan. Pada wilayah tersebut terdapat sungai - sungai yang mengalir ke utara dan selatan. Sebagian dari sungai-sungai tersebut merupakan sungai musiman, pada musim penghujan sering terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi kekeringan. Bentuk alur sungainya berkelok-kelok atau meandering dari hulu sampai hilir. Kondisi ini sangat berpengaruh pada jenis dan karakteristik alirannya. Berdasarkan hasil penelitian dan survey Direktorat Geologi Bandung bekerjasama dengan GTZ Jerman menerangkan bahwa Kabupaten Ende adalah salah satu kabupaten yang rawan terhadap bencana alam baik tanah longsor, banjir bandang, gelombang pasang, gempa serta badai/ angin ribut. Beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Ende berpotensi terjadinya bencana banjir bandang antara lain : DAS Wolowona, DAS Ngalupolo, DAS Nangaba,

xiv

DAS Nangapanda, DAS Nangakeo, DAS Watuneso, DAS Wolowaru, DAS Ndondo dan DAS Loworea. Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende (2007), tingkat kerusakan hutan dan lahan di Kabupaten Ende telah mencapai 43% dari luas kawasan hutan yang ada. Sedangkan kondisi penutupan lahan hutan oleh hijaunya vegetasi hutan hanya mencapai 21% dari luas wilayah daratan Kabupaten Ende. Angka tersebut lebih rendah dari standar penutupan vegetasi kawasan hutan minimal 30% untuk mampu menopang kehidupan di sekitarnya, sebagaimana dipersyaratkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pada tahun 1988, terjadi banjir bandang yang melanda Sungai Wolowona dan Nangaba. Banjir bandang yang sama terjadi pada tahun 2003 di beberapa kecamatan di Kabupaten Ende yang menelan banyak korban jiwa, hanyutnya tanaman pertanian dan perkebunan rakyat, rusaknya infrastruktur yang berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan data dari Badan Kesbang Linmas Kabupaten Ende bahwa terjadi banjir pada Februari 2008 yang mengakibatkan kerusakan bendungan, tanggul dan jembatan di Kecamatan Wewaria, Detusoko, Maurole. Data lain dari Sub Dinas SDA dan Irigasi Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai NTT menyebutkan bahwa terdapat 94 buah sungai rawan banjir di NTT, termasuk Sungai Wolowona di DAS Wolowona Kabupaten Ende. Beberapa sungai yang perlu di waspadai menjelang musim hujan ada 23 buah sungai dengan perkiraan luas areal genangan ±41.804 ha, perkiraan luas genangan Sungai Wolowona adalah 714 ha dan akan ada kemungkinan terjadi banjir bandang di sungai tersebut. Terjadinya banjir, tanah longsor, kekeringan dan kesulitan air, di Kabupaten Ende pada tahun-tahun belakangan ini merupakan indikasi dari berkurangnya penutupan vegetasi lahan hutan saat ini. . Atas dasar beberapa kejadian bencana banjir tersebut diatas, maka penulis merasa perlu untuk mengetahui sejauh mana potensi bencana banjir dan faktor-faktor dominan yang memicu bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende serta untuk mengetahui persepsi dan tingkat partisipasi masyarakat dan upaya yang telah dilakukan oleh stakeholder dalam menanggulangi masalah bencana banjir di sungai tersebut.

xv

B. Batasan Masalah Penelitian dilakukan di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende. Dalam penelitian ini dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup sekitar sungai berupa faktor alamiah maupun non alamiah. Faktor alamiah mencakup topografi, debit sungai, komponen biotik dengan objek pengamatan berupa penggunaan lahan dan penutupan vegetasi di sekitar sungai. Faktor non alamiah

yang diamati ditinjau dari segi sosial budaya manusia

(culture) dengan mengetahui seberapa besar persepsi dan partisipasi masyarakat sekitar sungai terhadap lingkungan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam menanggulangi bencana banjir yang terjadi di tiga sungai di Kabupaten Ende dan upaya penanggulangan yang dilakukan Pemerintah terhadap masalah tersebut.

C. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Faktor alamiah dominan apakah yang berpotensi memicu timbulnya bencana banjir di sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende ?

2. Faktor non alamiah dominan apakah yang berpotensi memicu timbulnya bencana banjir di sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende?

3. Bagaimanakah tingkat persepsi dan partisipasi masyarakat dalam menanggulangi potensi bencana banjir ?

4. Bagaimanakah upaya yang telah ditempuh oleh stakeholder ( pemerintah dan masyarakat) dalam penanggulangan pengurangan resiko bencana yang dilakukan terhadap wilayahwilayah yang rawan bencana banjir ?

D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

xvi

1. Untuk mengetahui faktor-faktor alamiah dominan yang berpotensi memicu timbulnya bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor non alamiah dominan yang berpotensi memicu timbulnya bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende.

3. Untuk mengetahui tingkat persepsi dan partisipasi masyarakat dalam menanggulangi potensi bencana banjir.

4. Untuk mengetahui upaya yang telah ditempuh oleh stakeholder (pemerintah dan masyarakat) dalam penanggulangan pengurangan resiko bencana yang dilakukan terhadap wilayahwilayah yang rawan bencana banjir.

E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1.

Manfaat Praktis a.

Dapat memberikan informasi hasil kajian ilmiah tentang kemungkinan

terjadinya

bencana banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Ende. b.

Dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Ende dalam mengambil keputusan kebijakan perencanaan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai).

2.

Manfaat Teoritis a.

Sebagai sumber informasi dan pengetahuan tentang pengelolaan DAS agar dapat mengurangi resiko bencana banjir.

b.

Untuk kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan

bidang lingkungan khususnya

penanganan daerah rawan bencana banjir. c.

Dapat digunakan sebagai dasar pengembangan penelitian lanjutan pada masa yang akan datang.

xvii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Sungai

Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai dijelaskan bahwa sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sampai sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan (Pasal 1 ayat (1)). Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai dihitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam (Pasal 1 ayat (5)). Bangunan sungai adalah bangunan yang berfungsi untuk perlindungan, pengembangan, penggunaan, dan pengendalian sungai (Pasal 1 ayat (6)). Bangunan sungai dimaksud adalah bendungan, anggelan, bronjong, talud tanggul, pintu air, bangunan pembagi banjir dan sebagainya. Garis sempadan sungai adalah garis batas luar pengaman sungai (Pasal 1 ayat (7)). Sungai sebagai sumber air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai fungsi serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan manusia (Pasal 7 ayat (1)). Sungai mempunyai fungsi yang luas antara lain sebagai penyedia air, prasarana transportasi, penyediaan tenaga, penyediaan material (pasir, batu), sarana penyaluran air dan sarana rekreasi. Daerah sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai (Pasal 1 ayat (II)). Pada daerah sempadan dilarang membuang sampah dan limbah padat dan atau cair, mendirikan bangunan permanen untuk hujan dan tempat usaha (Pasal 12).

2. Bagian-bagian Sungai

xviii

Dalam sebuah sungai terdapat perbedaan antara bagian-bagiannya. Ke arah memanjang, sebuah sungai dapat dibagi ke dalam beberapa bagian yang berbeda sifatsifatnya yaitu: a. Hulu sungai yang dapat berupa sungai jeram atau torrential river, dan sungai jalin atau braided river. b. Sungai alluvial. c. Sungai pasang surut atau tidal reach river. d. Muara sungai atau estuary. e. Delta sungai yang akan

ditinjau karena berpengaruh terhadap sungai yang

membentuknya.

Sungai jeram

sungai alluvial

s.pasang surut

muara

Gambar 2.1. Bagian-bagian Sungai. (Sumber: Mulyanto, 2007)

Perbedaan antara sebuah sungai dengan sungai lainnya dapat disebabkan karena: a. Perubahan waktu, misalnya sebuah sungai akan lebih landai karena proses erosi dan sedimentasi yang terus terjadi sepanjang waktu. b. Letak topografi dari sungai dan DASnya yang dapat berpengaruh terhadap fungsifungsinya.

xix

c. Perbedaan akibat pengaruh luar, misalnya karena tindakan manusia, perubahan iklim dan lain lain.

3. Ekosistem Daerah Aliran Sungai Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Sistem tersebut mempunyai jumlah tertentu, tergantung pada jumlah dan jenis komponen yang menyusunnya. Besar kecilnya suatu ekosistem tergantung pada pandangan dan batas yang diberikan pada ekosistem tersebut. Ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang teratur. Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dianggap sebagai suatu ekosistem (Asdak, 2004: 10). Lingkungan hidup didefenisikan sebagai satu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan prilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup, 1997: 2). Lingkungan hidup disusun oleh 3 (tiga) komponen, atau yang sering disebut A-B-C environment yang terdiri dari komponen Abiotic environment atau lingkungan fisik, Biotic environment atau lingkungan hayati, dan Culture environment atau lingkungan sosial ekonomi budaya. Pengertian Daerah Aliran Sungai sesuai Undang-Undang Sumber Daya Air N0.7 Tahun 2004 adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas dilaut sampai dengan perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan. Suatu DAS dipisahkan dari wilayah lain disekitarnya oleh pemisah alam topografi seperti punggung bukit atau gunung. Daerah Aliran Sungai mempunyai karakteristik yang spesifik serta berkaitan erat dengan unsur utamanya seperti jenis tanah, tata guna lahan, topografi, kemiringan dan panjang lereng. Karakteristik biofisik DAS dalam merespon curah

xx

hujan yang jatuh dapat memberikan pengaruh terhadap besar kecilnya evapotranspirasi, infiltrasi, perkolasi, air larian, aliran permukaan, kandungan air tanah dan aliran sungai. Kajian ekosistem DAS dibagi menjadi tiga daerah: a).

Daerah hulu sungai. Karakteristik daerah hulu adalah sebagai berikut : merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar, bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan.

b).

Daerah hilir sungai. Karakteristik daerah hilir sungai adalah sebagai berikut : merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan lereng kecil sampai dengan sangat kecil, pada beberapa tempat merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi dan jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominasi hutan atau gambut.

c).

Daerah tengah sungai. Daerah aliran sungai bagian tengah merupakan daerah transisi dari kedua karakteristik biogeofisik DAS hulu dan hilir (Asdak, 2004:11).

4. Curah Hujan (Presipitasi) Presipitasi adalah jatuhnya semua butiran air atau kristal es dari asmosfir ke permukaan bumi. Presipitasi dalam bentuk cair disebut hujan atau rain. Jumlah curah hujan dinyatakan dalam tebalnya lapisan air yang jatuh di atas permukaan tanah yang rata dengan satuan milli meter (mm). Hujan merupakan faktor penting dalam analisis hidrologi. Analisis dan desain hidrologi tidak hanya memerlukan volume atau ketinggian hujan, tetapi juga distribusi hujan terhadap tempat dan waktu. Distribusi hujan terhadap waktu disebut hyetograph, atau grafik intensitas hujan terhadap waktu.

xxi

Besaran-besaran hujan yang sering digunakan dalam analisis hidrologi antara lain: tinggi curah hujan, jumlah hari hujan, frekuensi serta intensitas hujan. Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. Curah hujan ini disebut curah hujan daerah (Sosrodarsono dan Takeda, 1978). Untuk menghitung curah hujan di suatu DAS umumnya digunakan tiga cara penghitungan yaitu: Rata-rata Aritmetik, Teknik Poligon dan teknik Isohyet. Proses terjadinya hujan adalah karena adanya perpindahan masa air basah ke tempat yang lebih tinggi sebagai respon adanya beda tekanan udara antara dua tempat yang berbeda ketinggiannya. Di tempat tersebut terjadi akumulasi air pada suhu yang rendah maka terjadi proses kondensasi, dan akhirnya masa air basah tersebut jatuh sebagai air hujan (Asdak, 2004). Air hujan yang jatuh kepermukaan tanah, akan mengalami proses

infiltrasi

(peristiwa masuknya air ke dalam permukaan tanah secara vertikal), evapotranspirasi (peristiwa hilangnya air melalui vegetasi melalui proses intersepsi dan transpirasi yang tergantung pada jenis vegetasi dan ketersediaan air dalam tanah serta kelembaban tanah) dan sisanya mengalir menjadi limpasan (runoff) dengan laju aliran tertentu (debit air). a.

Limpasan (runoff) Limpasan (runoff) merupakan bagian dari air hujan yang mengalir di atas permukaan dan aliran yang berasal air tanah yang mengalir ke saluran atau sungai. Aliran permukaan berasal dari air hujan yang mengalir setelah mengalami proses infiltrasi dan penguapan dan sisa air hujan akan mengalir langsung diatas permukaan tanah menuju alur aliran terdekat. Limpasan merupakan gabungan antara aliran permukaan, aliran-aliran yang tertunda pada cekungan dan aliran bawah permukaan (subsurface flow).

b.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Limpasan

xxii

Aliran pada saluran atau sungai tergantung dari berbagai faktor secara bersamaan. Dalam kaitannya dengan limpasan, faktor yang berpengaruh secara umum dapat di kelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu :

i. Faktor Meteorologi Faktor-faktor meteorologi yang berpengaruh pada limpasan adalah karakteristik hujan yang meliputi ; a.

Intensitas hujan Pengaruh intensitas hujan terhadap limpasan permukaan sangat tergantung pada laju infiltrasi, maka limpasan permukaan sejalan dengan peningkatan intensitas curah hujan. Intensitas hujan berpengaruh pada debit maupun volume limpasan.

b.

Durasi hujan Total limpasan dari suatu hujan berkaitan langsung dengan durasi hujan dengan intensitas tertentu.

c.

Distribusi curah hujan Laju dan volume limpasan dipengaruhi oleh distribusi dan intensitas hujan diseluruh DAS. Hujan dengan intensitas tinggi pada sebagian DAS dapat menghasilkan limpasan yang besar dibandingkan dengan hujan biasa yang meliputi seluruh DAS.

ii. Karakteristik DAS a.

Luas dan Bentuk DAS Laju dan volume aliran permukaan makin bertambah besar dengan bertambahnya luas DAS. Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran dalam sungai. Pengaruh bentuk DAS terhadap aliran permukaan dapat ditunjukkan dengan memperhatikan dua buah DAS yang berbeda

xxiii

namun mempunyai luas yang sama dan menerima hujan dengan intensitas yang sama.

Gambar 2.2 Pengaruh bentuk DAS pada aliran permukaan (Sumber : Suripin, 2004) Bentuk DAS memanjang dan sempit cenderung menghasilkan laju aliran permukaan yang lebih kecil dibandingkan dengan DAS yang berbentuk melebar atau melingkar. Hal ini terjadi karena waktu konsentrasi DAS yang memanjang lebih lama dibandingkan DAS melebar, sehingga terjadinya konsentrasi air di titik kontrol lebih lambat yang berpengaruh pada laju dan volume aliran permukaan. b.

Topografi Tampakan rupa muka bumi atau topografi seperti kemiringan lahan, keadaan dan kerapatan parit dan atau saluran, dan bentuk-bentuk cekungan lainnya mempunyai pengaruh pada laju dan volume aliran permukaan. DAS dengan kemiringan curam disertai parit/saluran yang rapat akan menghasilkan laju dan volume aliran permukaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan DAS yang landai dengan parit yang jarang dan adanya cekungan-cekungan.

xxiv

Gambar 2.3 Pengaruh kerapatan parit/saluran pada hidrograf aliran (Sumber : Suripin, 2004) c.

Tata Guna Lahan Pengaruh tata guna lahan pada aliran permukaan dinyatakan dalam koefisien aliran permukaan (C), yaitu bilangan yang menunjukkan perbandingan antara besarnya aliran permukaan dan besarnya curah hujan. Angka koefisien aliran permukaan ini merupakan salah satu indikator untuk menentukan kondisi fisik suatu DAS. Nilai C berkisar antara 0 sampai 1. Nilai C = 0 menunjukkan bahwa semua air hujan terintersepsi dan terinfiltrasi ke dalam tanah, sebaliknya untuk nilai C = 1 menunjukkan bahwa semua air hujan mengalir sebagai aliran permukaan. Pada DAS yang masih baik harga C mendekati nol, semakin rusak suatu DAS maka harga C makin mendekati satu.

c.

Debit Aliran Debit air adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air yang melewati suatu

penampang melintang sungai atau saluran per satuan waktu yang dinyatakan dengan m3/det. Debit aliran merupakan gabungan air hujan yang jatuh langsung di atas permukaan saluran air/sungai, air permukaan dan aliran air bawah tanah. Debit aliran sungai dapat berasal dari beberapa sumber air, yaitu :

xxv

1.

Limpasan permukaan merupakan bagian limpasan yang melintas di atas permukaan tanah menuju saluran sungai.

2.

Limpasan bawah permukaan/aliran bawah permukaan merupakan sebagian dari limpasan permukaan yang disebabkan oleh bagian presipitasi yang berinfiltrasi ke tanah permukaan dan bergerak secara lateral melalui horizonhorizon tanah bagian atas menuju sungai .

3.

Limpasan permukaan langsung merupakan bagian limpasan permukaan memasuki sungai secara langsung setelah curah. Limpasan ini sama dengan kehilangan presipitasi atau hujan efektif. Limpasan permukaan yang mengalir ini akhirnya mencapai saluran sungai dan menambahkan debit sungai.

5.

Iklim

Penentuan tipe iklim menurut Schmit dan Ferguson bahwa klasifikasi ini hanya memperhatikan unsur iklim yaitu hujan dan memerlukan data bulanan paling sedikit sepuluh tahun. Kriteria yang digunakan adalah penentuan bulan kering, bulan lembab dan bulan basah dengan pengertian sebagai berikut: Bulan Kering (BK)

: bulan dengan hujan kurang dari 60 mm

Bulan Lembab (BL) : bulan dengan hujan antara 60 mm-100 mm Bulan Basah (BB)

: bulan dengan hujan di atas 100 mm

dalam menentukan bulan kering, bulan lembab dan bulan basah, tahun demi tahun selama periode pengamatan yang kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya.

xxvi

Penentuan tipe iklimnya adalah digunakan nilai Quotient (Q) yaitu: Q=

Rata-rata bulan kering (BK) Rata-rata bulan basah (BB)

x 100%

Dari perhitungan nilai Q tersebut dan dengan menggunakan segitiga Schmidt dan Ferguson, maka didapatkan delapan tipe iklim dari A hingga H seperti pada gambar berikut ini:

xxvii

Gambar. 2.4 Pembagian iklim menurut Schmidt dan Ferguson (Sumber : Handoko, 1994)

Tabel 2.1 Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt dan Ferguson Sumber: Handoko (1994)

Tipe Iklim Nilai Q (%) A. Daerah sangat basah dengan vegetasi hutan 0 - < 0,143 hujan tropis B. Daerah basah dengan vegetasi berupa hutan 0,143 hujan tropis 0,333

-

<

C. Daerah agak basah dengan vegetasi hutan 0,333 rimba, diantaranya terdapat jenis vegetasi 0,600 yang daunnya gugur pada musim kemarau, misalnya jati

-

<

D. Daerah sedang dengan vegetasi hutan musim

-

<

-

<

0,600 1,000 E. Daerah agak kering dengan vegetasi hutan 1,000 sabana 1,670 F. Daerah kering dengan vegetasi hutan sabana G. Daerah sangat padang ilalang

kering

dengan

1,670 – 3,000

vegetasi 3,000 7,000

-

,

H. Daerah ekstrim kering dengan vegetasi > 7,000 padang ilalang Berdasarkan data curah hujan di Kabupaten Ende Tahun 2002 s/d 2006, perhitungan perbandingan jumlah rata-rata bulan kering dan jumlah rata-rata bulan basah dengan nilai Q : 1,117, maka menurut Schmidt dan Ferguson, wilayah Kabupaten Ende termasuk dalam tipe iklim E ( daerah agak kering dengan vegetasi hutan sabana )dengan

xxviii

curah hujan rata-rata tahunan 1.255 mm, suhu udara rata-rata 27,70C, serta kelembaban udara rata-rata 83,4%.

6. Banjir

Banjir adalah aliran air di permukaan tanah yang relatif tinggi dan tidak dapat ditampung oleh saluran drainase atau sungai, sehingga

melimpah ke

genangan/aliran

dalam

kanan jumlah

dan yang

kiri serta melebihi

menimbulkan normal

dan

mengakibatkan kerugian pada manusia. Banjir sering dikenal dalam 2 bentuk, berupa penggenangan pada daerah yang biasanya kering atau bukan rawa, dan banjir sebagai akibat terjadinya limpasan air dari alur sungai yang disebabkan karena debit pada sungai melebihi kapasitas pengalirannya (Siswoko, 1985:17). Banjir disuatu tempat dengan

kondisi

tertentu

bukan

merupakan

masalah

bahkan

bermanfaat bagi kehidupan, misalnya untuk sarana penggelontoran kayu. Banjir dapat disebabkan oleh 2 (dua) jenis penyebab, yaitu : 1). Faktor alam seperti curah hujan, erosi dan sedimentasi, topografi dan geofisik sungai, kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai, penurunan tanah, kerusakan bangunan pengendali banjir, dan sebagainya;

2). Faktor manusia antara lain perubahan tata guna

xxix

lahan, pembuangan sampah, kawasan kumuh disepanjang sungai, perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat, dan sebagainya. Kedua faktor tersebut dapat terjadi secara bersama-sama yang dapat membuat banjir menjadi sangat merugikan. Pada umumnya, banjir yang terjadi di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : a. Banjir sebagai akibat meluapnya sungai Jenis banjir ini terjadi karena kapasitas saluran/sungai tidak mampu menampung debit air yang ada sehingga air meluap keluar melewati tanggul sungai. Daerah yang terkena banjir jenis ini biasanya adalah daerah sekitar (kanan/kiri) sungai yang letaknya cukup rendah atau merupakan dataran banjir. Pada daerah perkotaan biasanya disebabkan oleh kapasitas drainase/saluran air yang ada tidak mampu menampung lagi air hujan seiring dengan pertumbuhan kota. Dapat juga terjadi suatu banjir yang terjadi di daerah hilir sebagai akibat hujan deras di bagian hulu, hal ini terjadi akibat karakteristik DAS tersebut (kelerengan, karakteristik tanah dan batuan, penutup lahan dan sebagainya) atau mungkin telah rusaknya sistem hidrologi di bagian hulu, jenis ini dikenal juga sebagai `banjir kiriman'.

b. Banjir lokal Banjir lokal adalah banjir yang disebabkan oleh tingginya curah hujan

xxx

dalam periode waktu tertentu (intensitas hujan) yang dapat menggenangi daerah yang relatif lebih rendah (ledokan). Jenis banjir ini dapat terjadi pada daerah ledok/cekungan fluvial yang memiliki kelembaban tanah yang tinggi sehingga pada waktu terjadi hujan lebat, peresapan air ke dalam tanah sangat kecil. Dapat juga terjadi pada daerah ledok di perkotaan yang memiliki persentase penutupan lahan terbangun yang tinggi (permukiman) sehingga peresapan air berkurang/tidak dapat berlangsung dengan baik. c. Banjir yang disebabkan oleh pasang surut air laut Jenis banjir ini terjadi pada dataran aluvial pantai yang letaknya cukup rendah atau berupa cekungan dan terdapat muara sungai dengan anak-anak sungainya sehingga jika terjadi pasang dari laut atau 'rob' maka air laut atau air sungai akan menggenangi daerah tersebut Jenis banjir ini tidak disebabkan oleh hujan sehingga meskipun pada musim kemarau dapat terjadi banjir. 7. Mitigasi Bencana Banjir

Banjir dapat merupakan suatu bencana apabila banjir tersebut mengakibatkan terganggunya aktivitas manusia. Oleh karena itu, bencana banjir tidak hanya merupakan masalah fisik saja tetapi mencakup banyak aspek sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat. Peta kerawanan banjir dapat dijadikan dasar dalam mitigasi bencana banjir, dalam tahap kesiapsiagaan (preparedness), serta rekonstruksi dan pembuatan tanggul atau bendung dalam penanganan/pengurangan ancaman

xxxi

banjir tersebut. Dalam pemetaan daerah rawan banjir maka sebaiknya dilakukan beberapa tahapan pemetaan, yaitu: survey tinjau, survey semi detil dan survey detil. Berdasarkan peta kerawanan banjir yang telah dibuat, maka mitigasi bencana banjir dapat diiakukan dengan 2 cara, yaitu cara teknik (engineering), dan cara non teknik (non-engineering). Cara teknik misalnya melalui pengelolaan daerah banjir dengan membuat bendungan, bendung/dam pengendali banjir, tanggul di sepanjang sungai, pengerukan dasar sungai, dan sebagainya; sedangkan cara non teknik adalah dengan membuat peraturan tata ruang agar pemanfaatan lahan yang tidak ramah lingkungan di daerah rawan banjir dan kawasan resapan air dapat dikendalikan, serta dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan banjir. Banjir amat sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia terutama pada musim penghujan. Kondisi semacam ini biasanya akan diikuti dengan rusaknya lingkungan, hilangnya sarana dan prasarana perkenomian masyarakat, serta kemungkinan jatuhnya korban jiwa yang meninggal, hilang, cedera dan menderita, akibat kehilangan tempat tinggal ataupun rusaknya lahan pertanian dan perkebunan. Untuk mengurangi dampak yang merugikan pada setiap terjadinya banjir tersebut, diperlukan usaha penanggulangannya secara efektif di bawah koordinasi Bakornas PBP. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Studi Bencana UGM Yogyakarta (2002), bahwa pelaksanaan penanggulangan bencana banjir harus melewati 3 (tiga) tahap utama, yaitu : (1) tahap sebelum

xxxii

terjadi bencana; (2) tahap selama terjadi bencana, dan (3) tahap setelah bencana. 1. Tahap sebelum bencana : Ada 4 kegiat an pokok yang harus dilaksanakan secara lint as sektoral oleh Departemen atau lembaga teknis, meliputi : a. Pembuatan Peta Rawan Banjir Pembuatan peta rawan banjir dilaksanakan secara fungsional oleh Bakosurtanal dengan melibatkan Kantor Meneg LH/Bapedal, dan Departemen Dalam Negeri, serta Departemen Pekerjaan Umum. b. Sosialisasi

peta

daerah

rawan

banjir

dan

pemberdayaan

masyarakat. Sosialisasi ini melibatkan Departemen/Dinas Sosial, Bakornas PBP/ Satkorlak PBP/Satlak PBP, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kehutanan dan instansi terkait lainnya. c. Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Banjir Pencegahan dan mitigasi banjir dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan melibat kan Satkorlak PBP/Badan Kesbanglinmas Propinsi dan Kabupaten/Kota. d. Sistem Peringatan Dini Peringatan dini dilaksanakan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Departemen Perhubungan dengan melibatkan LAPAN, BPP Teknologi, kantor Meneg LH/Bapedal dan instansi lain yang terlibat. 2. Tahap bencana terjadi :

xxxiii

Ada 5 kegiatan pokok yang harus dilaksanakan secara lintas sektoral, meliputi : a.

Pencarian Dan Pertolongan (SAR) Pencarian dan pertolongan dilaksanakan secara fungsional oleh BASARNAS dengan melibatkan unsur TNI, POLRI, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kehutanan yang dibantu oleh PMI dan semua potensi yang ada.

b.

Kaji Bencana Dan Kebutuhan Bantuan Kaji bencana dan kebutuhan bantuan, dilaksanakan secara fungsional oleh Sekretariat Bakornas PBP dengan melibatkan Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial serta dibantu oleh PMI dan LSM.

c.

Bantuan Kesehatan Bantuan

penampungan

dilaksanakan Depertemen

oleh

korban,

Departemen

Kesehatan,

kesehatan Sosial

Departemen

dan

dengan

Dalam

pangan

melibatkan

Negeri,

unsur

TNI/POLRI, PMI, LSM. d.

Bantuan Penampungan dan Pangan

e.

Bantuan Air Bersih dan Sanitasi Bantuan air bersih dan sanitasi dilaksanakan secara fungsional oleh Departemen Pekerjaan Umum yang dibantu oleh Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, PMI dan LSM.

3. Tahap Setelah Bencana

xxxiv

Pada tahap ini ada 3 kegiatan pokok yang harus dilaksanakan secara lintas sektoral, meliputi : pengkajian dampak banjir, rehabilitasi dan rekonstruksi serta

penanganan pengungsi korban banjir. a. Pengkajian dampak banjir dilaksanakan secara fungsional oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan melibatkan Departemen Dalam Negeri/Satkorlak PBP dan unsur Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian, Bapedal, Departemen Kehutanan dan instansi terkait lainnya. b. Rehabilitasi lahan dan konservasi biodiversitas dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan dengan melibatkan instansi terkait c. Penanganan pengungsi dilaksanakan oleh Departemen Sosia l dengan

melibatkan

Depertemen

Kesehatan,

Departemen

Dalam Negeri, unsur TNI/POLRI, PMI, LSM. Menurut Kodatie (2005), bahwa pada prinsipnya ada 2 metode pengendalian banjir yaitu metode struktur dan metode non struktur. Untuk lebih jelasnya metode tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Tabel 2.2. Metode Pengendalian Banjir (Sumber : Kodatie, 2005) Skala Prioritas I

Metode Metode Non Struktur § § § § § §

Pengelolaan DAS Pengaturan Tata Guna Lahan Law Enforcement Pengendalian erosi di DAS Pengaturan dan pengembangan daerah banjir Dll

xxxv

II

Metode Struktur : Bangunan Pengendali Banjir § § § § § § § §

III

Bendungan (dam) Kolam retensi Pembuatan check dam ( penangkap sedimen) Bangunan pengurang kemiringan sungai Groundsill Retarding Basin Pembuatan polder Dll Metode Struktur : Perbaikan dan Pengaturan Sistem Sungai

§ § § § § §

Sistem jaringan sungai Normalisasi Sungai Perlindungan Tanggul Tanggul Banjir Sudetan (by pass) Floodway,dll. 8. Vegetasi

Komponen biotik yang erat kaitan dengan ketersediaan air adalah Vegetasi. Vegetasi adalah semua tumbuh-tumbuhan atau tanaman penutup tanah yang sangat berpengaruh terhadap aliran permukaan antara lain : a)

Meningkatkan kapasitas inflltrasi air hujan ke dalam tanah oleh aktifitas perakaran tanaman dan penambahan bahan organik sehingga dapat mengurangi volume aliran permukaan.

b) Meningkatkan panjang lintasan dan kekasaran permukaan sehingga mengurangi daya rusak aliran permukaan yang menyebabkan erosi tanah. c)

Meningkatkan kehilangan air tanah akibat meningkatnya evapotranspirasi sehingga tanah cepat lapar air. Efektititas Tanaman dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh

tinggi tanaman dan kontinuitas dedaunan sebagai kanopi, kerapatan tanaman, dan kerapatan sisitem perakaran. Keberadaan vegetasi dalam hutan dan lahan mempunyai pengaruh terhadap kemampuan potensial tanah menahan air hujan dan aliran permukaan sebelum air mengalir ke sungai. Hutan mempunyai fungsi ekologi yang sangat penting, antara lain hidrologi, penyimpan sumber genetik, pengatur kesuburan tanah hutan, dan iklim. Pepohonan

xxxvi

yang lebat mampu menahan laju derasnya air hujan sehingga tidak menyebabkan kerusakan tanah. Di dalam tanah hutan yang gembur dan berhumus, air tersimpan dan terlindung kemudian mengalir secara teratur melalui pori-pori tanah dan keluar lagi sebagai mata air di bagian yang lebih rendah. Selain fungsi ekologi, hutan juga mempunyai fungsi produksi dan sebagai pengatur tata air dan pelindung terhadap degradasi tanah oleh hujan karena hutan dapat mendorong peresapan air ke dalam tanah. Hutan pinus mempunyai kandungan lengas tanah lebih tinggi daripada kandungan lengas tanah di semak belukar dan tanaman pangan. Semakin tua umur tegakan pinus juga semakin besar kemampuannya untuk meresapkan air ke dalam tanah. Tanaman pangan atau hortikultura yang ditata sesuai pola tanam dan teknik konservasi dapat mengurangi erosi tanah. Hasil penelitian jangka panjang dan dilakukan di berbagai penjuru dunia juga menunjukkan bahwa jumlah aliran air meningkat apabila: (1). Hutan ditebang atau dikurangi dalam jumlah yang cukup besar; (2). Jenis vegetasi diubah dari tanaman yang berakar dalam menjadi tanaman yang berakar dangkal; dan (3) Vegetasi penutup tanah diganti dari tanaman dengan kapasitas intersepsi tinggi ke tanaman dengan tingkat intersepsi yang lebih rendah. Semakin besar perubahan tata guna lahan, misalnya perubahan dari hutan menjadi lahan pertanian, semakin besar pula perubahan yang terjadi pada air larian. Respon aliran air diperkirakan akan lebih besar di wilayah dengan tanah yang dalam dan curah hujan tahunan tinggi. Sementara respon perubahan aliran air tersebut rendah di daerah iklim panas (Asdak : 2004).

9. Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Persepsi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi adalah melalui pengindraan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). (Wirawan, 2002). Pengalaman seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam berbagai aspeknya sangat menentukan persepsi seseorang terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, agama maupun tradisi

xxxvii

keseharian dari masyarakatnya. Persepsi seseorang terhadap suatu obyek dapat berubahubah. Proses perubahan persepsi disebabkan oleh proses pada sistem saraf pada indera manusia dan proses psikologis yang antara lain dijumpai dalam pembentukan dan perubahan sikap. Persepsi masyarakat terhadap suatu obyek atau peristiwa merupakan landasan pokok bagi timbulnya sikap dan perilaku. Makna positif atau negatif sebagai hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu sangat tergantung dari bentuk dan proses interaksinya. Pengalaman seseorang merupakan faktor yang penting dalam pembentukan persepsinya terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam berbagai aspeknya sangat menentukan persepsi seseorang terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik sosial, ekonomi, budaya, agama maupun tradisi keseharian dari masyarakatnya. Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat terhadap proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan (Mikkelsen, 2003) dalam Arifin (2007). Partisipasi masyarakat adalah proses dimana masyarakat turut serta mengambil keputusan. Pada hakekatnya pelibatan masyarakat merupakan bagian dari proses perencanaan untuk mengakomodasi kebutuhan, aspirasi dan fokus mereka. Tujuannya adalah untuk mengeliminir kemungkinan terjadinya dampak negatif. Ini tidak hanya sekedar menghindari protes masyarakat, tetapi sebagai upaya untuk memperoleh input dari masyarakat tentang segala sesuatu yang menyangkut nasib mereka. Ada beberapa pandangan tentang partisipasi ditinjau dari kualitas yaitu: a.

Partisipasi sebagai masukan kebijaksanaan, dimana informasi, aspirasi dan “concern” dari publik akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

b.

Partisipasi sebagai strategi, dalam konteks ini partisipasi diperlakukan sebagai alat untuk memperoleh dukungan dari publik.

c.

Partisipasi sebagai komunikasi, dilakukan berdasarkan anggapan bahwa pemerintah (project proponent) memiliki tanggung jawab untuk menampung aspirasi dari masyarakat.

xxxviii

d.

Partisipasi sebagai media pemecahan publik, sebagai cara untuk mengurangi ketegangan dan memecahkan konflik

e.

Partisipasi sebagai terapi sosial, dilakukan untuk menyembuhkan “penyakit sosial” seperti alienation, pawerlessness seperti rasa minder dan sebagainya. Batasan tentang masyarakat cukup beragam dan mencakup berbagai faktor. Beberapa

ahli telah mencoba memberi definisi tentang masyarakat. Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah itulah yang dinamakan dengan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan masyarakat selalu berubah. Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Raph Linton dalam Soerjono Soekanto (1995:26). Manusia senantiasa mempunyai naluri

yang kuat untuk hidup bersama dengan

sesamanya. Semenjak dilahirkan manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama. Pada hubungan antara manusia dengan sesamanya, maka reaksi yang timbul mengakibatkan bertambah luasnya sikap dan tindakan seseorang. Reaksi dalam hubungan antar manusia cenderung untuk menyerasikan dengan sikap dan tindakan pihak lain. Hal ini pada dasarnya disebabkan manusia mempunyai dua hasrat yang kuat dalam dirinya, yaitu keingingan untuk menjadi

satu

dengan

sesamanya

atau

manusia

lain

di

sekelilingnya.

Manusia

mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut, yakni lingkungan sosial dan alam. Selain itu, dalam menyerasikan diri dengan lingkungan-lingkungan tersebut manusia senantiasa hidup dengan sesamanya untuk menyempurnakan dan memperluas sikap dan tindakannya agar tercapai kedamaian dengan lingkungannya. Masyarakat pada dasarnya merupakan sistem adaptif karena masyarakat merupakan wadah untuk memenuhi berbagai kepentingan dan juga untuk bertahan. Masyarakat juga

xxxix

mempunyai berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat hidup terus. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain: informasi, energi, materi, sistem komunikasi, sistem produksi, sistem distribusi, sistem organisasi sosial, sistem pengendalian sosial, perlindungan warga masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa dan hartanya. Masyarakat senantiasa merupakan suatu sistem karena mencakup berbagai komponen dasar yang saling berkaitan secara fungsional. Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang bercorak agraris tradisional. Lebih dari 80% penduduk Indonesia berada di daerah pedesaan. Integrasi sosial pada masyarakat yang bercorak agraris tradisional didasarkan atas nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang merupakan kesepakatan di antara para anggotanya. Nilai-nilai itu memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di atara para anggota masyarakat (Nasikun, 1984: 9). Secara sosial, struktur masyarakat Indonesia dicirikan masih adanya pelapisan sosial yang cukup tajam antara lapisan bawah dan lapisan atas. Pada masyarakat Indonesia tumbuh polaritas sosial berdasarkan kekuatan politik dan kekayaan. Lapisan bawah adalah mereka yang berposisi lemah, baik secara ekonomi maupun politik, sedangkan lapisan atas adalah mereka yang secara ekonomi relatif kaya dan berkuasa. Semakin meluasnya pertumbuhan sektor ekonomi modern, perbedaan antara pelapisan sosial lapisan bawah dan lapisan atas semakin tajam.

10. Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana Banjir Meningkatnya masalah banjir merupakan salah satu dampak negatif dari kebijakan pembangunan yang sampai saat ini lebih mementingkan aspek pertumbuhan ekonomi dan perhatian terhadap kelestarian lingkungan sangat kurang. Penataan lingkungan dalam rangka pembangunan di dataran banjir belum memasukkan air sebagai faktor pembatas sehingga kurang mengantisipasi adanya resiko tergenang banjir. Sementara itu, upaya mengatasi banjir sampai saat ini masih mengandalkan upaya konvensional yang berupa rekayasa struktur di sungai (in stream) yang mempunyai keterbatasan, bersifat represif dan kurang menyentuh

xl

akar permasalahan. Selain itu upaya mengatasi masalah banjir sampai saat ini tidak seimbang dengan laju peningkatan masalah yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Nugroho, 2004). Dalam rangka membantu pemecahan masalah banjir khususnya di tingkat kabupaten dan kota perlu dibentuk forum komunikasi konservasi air dan banjir, yang fungsinya membantu pemerintah untuk memecahkan berbagai permasalahan air. Forum ini diharapkan akan terus berkembang sebagai sarana koordinasi yang efektif karena mekanisme kerjanya dilandasi dengan etos kerja sama yang setara, tanpa ada hambatan birokrasi. Pembangunan harus menjamin terselenggaranya konservasi air dan mencegah banjir, yang ditunjukkan dengan tata ruang yang sesuai bagi perlindungan tata air, perlindungan lahan dari berbagai kerusakan, memelihara kesuburan tanah, konservasi air untuk berbagai penggunaan. Termasuk pengelolaan yang bijaksana untuk berbagai pemanfaatan, perlindungan banjir, dan mengurangi sedimentasi lumpur, serta berbagai sampah industri maupun rumah tangga (Alikodra, 2003). Keberadaan banjir tidak dapat dicegah, pemerintah bersama masyarakat hanya dapat meminimalkan melalui penerapan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air yang berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat dengan penyuluhan, kampanye, dan bimbingan tentang cinta lingkungan diintensifkan sebagai program pembangunan pemerintah daerah. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai fasilitator, tokoh dan pemuka masyarakat sebagai sosok anutan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai pendamping pembangunan, dan perguruan tinggi sebagai pengembang teknologi sangat berarti untuk melangkah bersama dalam memberdayakan peran aktif masyarakat sebagai upaya pengendalian banjir dan kekeringan. Teknis pelaksanaannya dirumuskan bersama secara komprehensif di bawah koordinasi Departemen PU dan Departemen Kehutanan yang bertanggung jawab atas kelestarian sumber air dalam lingkup kawasan Daerah Aliran Sungai. Di tingkat kelembagaan penanganan masalah banjir berarti juga soal sistem hidrologi. Dalam perencanaan pengendalian banjir, pemecahannya harus ditinjau dari sudut pandang kawasan DAS, tidak dapat per daerah administratif yang ada dalam suatu kawasan. Badan Pengelolaan Sumber Daya Air dapat ditunjuk sebagai koordinator. Pembicaraan harus dilakukan bersama

xli

antar pemerintah daerah kota/kabupaten (dinas terkait) dalam satu pandangan, yaitu program perbaikan komponen-komponen sistem hidrologi DAS. (Kartana, 2004).

B. Hasil Penelitian Yang Relevan Belum ada penelitian yang khusus meneliti tentang potensi banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende. Penelitian yang pernah dilakukan adalah “ Desain alternatif konstruksi dinding pengaman palungan sungai wolowona Kabupaten Ende”. Hasil penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa : terjadinya bencana alam banjir pada kawasan Sungai Wolowona akibat adanya luapan dan pukulan atau benturan air pada dinding palungan sungai, yang menyebabkan lebar sungai melampaui rezim sungai yang sudah ada bahkan telah menjangkau lahan potensial masyarakat sekitar.

C. Deskripsi Wilayah Penelitian 1. Lingkungan Fisik Daerah Kabupaten Ende secara Geografis terletak pada 121° 30'00" BT - 123°00'00" BT dan 8°00'00"LS - 9°00'00" LS. Jumlah penduduk tahun 2007 adalah 249.876 jiwa (56.982 KK), dengan luas wilayah : 2.046,60 km², terdiri dari 20 Kecamatan dan 213 Desa/ Kelurahan (191 Desa dan 22 Kelurahan). Batas wilayah Kabupaten Ende adalah : 1.

Sebelah Utara : Laut Flores

2.

Sebelah Timur : Kabupaten Sikka

3.

Sebelah Selatan

4.

Sebelah Barat : Kabupaten Ngada

: Laut Sawu

Berikut ditampilkan peta administrasi Kabupaten Ende pada gambar 2.5 dibawah ini :

320000

330000

340000

350000

360000

370000

380000

390000

KEMENTERIAN NEGARA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL 9080000

9080000

Jl. Abd ul Muis No.7 Jakarta Pusat

PETA ADMINISTRASI KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR SKALA 1 : 130.000 PETUNJUK LETAK PETA NEGARA KE SATUAN REPUBLIK INDONESIA

9070000

9070000

LAUT FLORES

KALIMANTAN

SUMATERA

SULAWESI MALUKU

PAPUA

JA WA NUSA TENGGARA

9060000

9060000

PROVINSI NUSA TENGGAR A TIMUR

S #

KABUPATEN ENDE

U

S #

B

T

S #

S

5

0

Kecamatan Maurole

9050000

xlii

Proyeksi Sistem G rid Datum Zone UTM

9050000

Kecamatan Wewaria

5

15

: Transverse M ercator : Universal Transverse Mercator : WGS 84 : 51 Selatan

LEGENDA : Simbol Administrasi :

KABUPATEN NGADA

10

Kilometer Kecamatan Kota Baru

# Y S #

S #

Simbol Lainnya :

Ibukota Kabupaten

Jalan

Ibukota Kecamatan Sungai

Batas Provinsi

KABUPATEN SIKKA

Batas Kabupaten

Kecamatan Maukaro

Batas Kec amat an

e

Pelabuhan Udara

9040000

9040000

Pembagian Wilayah Administrasi : Kecamatan Detusoko (Luas wilayah = 155,76 km2) Kecamatan Ende

Kecamatan Nangapanda (Luas wilayah = 295,93 km2) Kecamatan Ndona

Gambar 2.5 Peta Kabupaten Ende (Sumber : Bappeda Kab.Ende, 2007)

a. Topografi Topografi adalah tingkat kemiringan lahan yang dinyatakan dengan prosen (%). Dua unsur topografi yang paling berpengaruh terhadap aliran adalah kemiringan dan panjang lereng. Semakin curam dan semakin panjang lereng maka semakin besar kecepatan aliran permukaan dan bahaya erosi. Metode konservasi tanah secara mekanik untuk memperkecil kemiringan dan memperpendek panjang lereng dapat memperlambat aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah (Arsyad, 1989: 118). Keadaan topografi wilayah tengah dan selatan Kabupaten Ende adalah perbukitan dan pegunungan sedangkan wilayah utara adalah dataran rendah dan sebagian perbukitan 79,4 % dengan ketinggian < 500 m dpl dan 20,6 dengan ketinggian > 500 m dpl. Bentuk lahan daerah penelitian mempunyai fisiografi datar, berbukit, curam dan sangat curam serta kemiringan lereng dan panjang lereng yang masih alami. Keadaan topografi 3 sungai yang berada di DAS Wolowona, Nangaba dan Kaliputih.

xliii

Gambar 2.6 Peta topografi (Sumber : Hasil Pengolahan SIG )

b. Geologi Kabupaten Ende terletak pada Pulau Flores dan merupakan bagian dari busur Banda-Dalam bergunungapi yang terlengkung di sekitar Laut Banda. Bagian P. Flores ini sangat tidak teratur. Lebarnya tidak sama di semua tempat dan garis pantai juga banyak likunya. Daerah ini bagian terbesar merupakan pegunungan. Ciri utamanya ialah morfologi gunungapi dengan sejumlah kerucut yang tampak jelas karena masih bekerja hingga saat ini. Lereng gunung umumnya terjal, dibanyak tempat kemiringan mencapai 45° - 60° dan bahkan lebih terjal lagi. Pengaliran disini dengan sendirinya menyesuaikan keadaan medan. Dibagian hulu sungai yang kelandaiannya masih besar, lembah bentuk- V adalah lazim. Makin ke hilir, penampang lembah berubah jadi bentuk U dan dataran sungai makin melebar.

c. Tata Guna Lahan Penggunaan lahan pertanian biasanya dibedakan berdasarkan komoditi yang diusahakan seperti sawah,tegalan, kebun kopi dan sebagainya. Penggunaan lahan diluar pertanian dapat dibedakan dalam penggunaan perkotaan, pedesaan pemukiman, industri,

xliv

rekreasi, dan sebagainya. Kondisi lahan disepanjang Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih digunakan sebagai wilayah perkebunan yang didominasi oleh jenis vegetasi tanaman perkebunan. Penggunaan lahan di tiga (3) sungai tersebut ditampilkan pada peta dibawah ini.

Gambar 2.8 Peta Tata Guna Lahan (Sumber : Hasil Pengolahan SIG )

2.

Sungai Wolowona

a. Gambaran umum Sungai Wolowona Sungai Wolowona terletak di sebagian wilayah Kecamatan Ende Timur dan Ndona Kabupaten Ende, Flores, NTT. Posisi geografis pada 08˚50΄01˝ LS 121˚40΄44˝ BT. Topografi wilayahnya berupa dataran dan perbukitan. Luas DAS Wolowona 19.103,90281 ha, panjang Sungai Wolowona adalah ± 31,50 km, lebar rata-rata antara 15-30m, dengan tingkat kemiringan 75%. DAS Wolowona termasuk tipe DAS melebar dengan kerapatan parit/saluran tinggi, sehingga cenderung menghasilkan aliran permukaan yang lebih besar. Letaknya memanjang sejajar dengan jalan raya arah timur wilayah kabupaten Ende (jalan sumbu jurusan

xlv

Ende- Maumere). Hulu sungainya adalah kaki gunung Lepembusu dan muaranya Nanganesa (kawasan timur Kota Ende). Wilayah Sungai Wolowona ditampilkan pada gambar dibawah ini.

DAS WOLOWONA

Gambar 2.8 Peta DAS Wolowona (Sumber : Hasil Pengolahan SIG ) Sungai Wolowona merupakan muara dari beberapa sungai lain dari hulu DAS Wolowona. Bangunan Sungai Wolowona antara lain bronjong, dan kegiatan yang sedang berjalan adalah normalisasi sungai Wolowona untuk meminimalkan bencana banjir. Pada beberapa ruas sungai disebelah hulu muara terdapat badan jalan, jembatan, pemukiman penduduk, persawahan, terminal dan lainnya sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat di Kabupaten Ende. Sungai Wolowona juga digunakan sebagai tempat cuci, pemandian dan rekreasi. b. Lingkungan Biotik

i. Flora Flora yang diamati dalam penelitian disekitar Sungai Wolowona berada pada ekosistem terestrial/daratan. Kondisi komponen biotik berkaitan dengan bentuk-bentuk penggunaan lahan, secara langsung

xlvi

memberikan gambaran keberadaan kelompok vegetasi secara umum, yakni vegetasi di sawah, tegal, hutan. Terdapat jenis vegetasi (flora) yang beranekaragam, didominasi oleh vegetasi alami yang berupa semak belukar seperti jenis putri malu (Mimmosapudica), rumput teki (Killinga monocephala) , tanaman perdu dan tanaman tingkat tinggi serta jenis pohon tahunan baik jenis buah maupun peneduh. Adapun hasil inventarisasi beberapa jenis flora yang hidup di sepanjang wilayah Sungai Wolowona dapat disajikan pada tabel 2.3 berikut: Tabel 2.3 Daftar Jenis Flora di Wilayah Sungai Wolowona

No 1. 2. 3. 4.

Nama Sengon Mahoni Beringin Rumput gajah

5. 6. 7. 8. 9.

Petai Cengkeh Bambu

Nama latin Keterangan Albazia falcata +++ Sweetinia macropila +++ Ficus benyamina ++ Pennisetum +++ purpureum Parkin spesiosa ++ Eugenia aromatica ++ Dendrocalamus +++

Jati Kelapa

Tectona Grandis L.f Cocus nucifera

+++ +++

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Ende, 2007 Keterangan :

+ ++ +++

: Sedikit : Sedang : Banyak

Selain tanaman kayu-kayuan masyarakat juga menanam tanaman budidaya sebagaimana terlampir pada tabel berikut ini.

xlvii

Tabel 2.4 Nama Lokal No 1. Cabe rawit 2. Kacang panjang 3. Wortel 4. Kubis 5. Pisang 6. Jeruk 7. Jagung 8. Nanas 9. Padi 10. Ubi Kayu 11. Mangga

Daftar Tanaman Budidaya Nama Latin Keterangan Capsicum annum +++ Vigna sinensis +++ Dacus carota ++ Brassica sp +++ Musa sp +++ Citrus +++ Zea mays +++ Ananas sp

++

Oryza sativa Manihot sp

++ +++

Mangivera indica

++

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Ende, 2007. Keterangan : + : Sedikit ++ : Sedang +++ : Banyak Disepanjang bantaran Sungai Wolowona terdapat lahan yang oleh masyarakat sengaja ditanami maupun yang tumbuh dengan sendirinya. Secara umum tingkat kerapatan vegetasi di Sungai Wolowona adalah rendah atau tidak rapat sehingga berpengaruh pada potensi terjadinya banjir.

ii. Fauna

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan ada beberapa jenis fauna liar yang hidup di sekitar lokasi Penelitian dan beberapa diantaranya bukan merupakan satwa langka dan hewan buas

dan

dilindungi

keberadaannya

namun

kebanyakan

merupakan satwa liar pada umumnya seperti burung (Aves), berbagai

jenis

serangga

(Insekta)

xlviii

dan

sejenis

spesies

lainnya.Kondisi Fauna/hewan di daerah penelitian terdiri dari hewan ternak dan hewan liar. Berbagai jenis fauna baik yang hidup liar maupun hewan ternak tersaji pada tabel berikut ini : Tabel 2.5. Jenis Fauna di wilayah Sungai Wolowona No 1. 2.

Jenis Fauna Jenis Fauna Liar Ayam hutan Ular

3.

Babi hutan

4.

Tikus Jenis Fauna Budidaya Ayam kampung Kambing Itik Sapi Babi Anjing

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Nama Latin Gallus varius Bungarus Vasciatus Sus scrofa vittatus Rattus sp

Gallus Muntiacus sp Annas sp Bibos sp Sus sp Canis sp

Sumber : Data Primer ( 2007 ) c. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Aspek sosial budaya yang terjadi di masyarakat tidak akan lepas dari adat-istiadat yang berlaku dimasyarakat tersebut. Sedangkan corak dan ragam adat-istiadat di suatu daerah tidak bisa dilepaskan dari karakteristik masyarakat yang menempatinya. Adat-istiadat yang berlaku disekitar lokasi penelitian merupakan kebiasaan dari masyarakat yang dipercaya secara turun-temurun dan telah dianggap sebagai suatu norma yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat setempat masih memegang adat budaya Ende-Lio dalam kehidupan

xlix

sehari-hari. Tingkat pendidikan masyarakat di sepanjang Sungai Wolowona dapat ditampilkan pada tabel berikut ini : Tabel 2.6 Prosentase rata-rata Tingkat Pendidikan Masyarakat No Tingkat Pendidikan Prosentase 1 Tidak sekolah 15 % 2 SD 51 % 3 SMP 7% 4 SMA 12 % 5 Sarjana 5%

Sumber: Profil Desa Ndungga, 2006 Mata pencaharian masyarakat di Sungai Wolowona adalah petani, buruh, pegawai dan pedagang. Selain pekerjaan diatas, masyarakat sekitar memanfaatkan sungai Wolowona untuk kegiatan menggali pasir dan batu. Dampak negatif pengambilan tanah, pasir dan batu di sungai Wolowona antara lain dinding sungai mudah longsor, bangunan sungai mudah runtuh atau rusak karena tidak adanya pasir, batu dan tanah yang berfungsi untuk melindungi bangunan sungai, dinding sungai dari erosi dan hantaman arus air. Aktifitas lain masyarakat yang dapat berdampak pada kerusakan lingkungan adalah membuang sampah di sungai. Sungai Wolowona sering mengalami banjir pada musim hujan, sehingga pemerintah terus melakukan upaya untuk menanggulangi masalah tersebut. Namun peran serta masyarakat belum maksimal dalam mendukung upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah.

3.

Sungai Nangaba

a. Gambaran Umum Sungai Nangaba Sungai Nangaba merupakan pertemuan dari sungai Pu’u beto dan Pu’u dombo. Banjir sering terjadi di sungai Nangaba yang merupakan tempat pertemuan beberapa anak sungai. Sungai Nangaba adalah sungai utama di DAS Nangaba dengan luas DAS 7.315,72625 ha, panjang sungai adalah 11,5 km dengan tingkat kemiringan 65%. Tipe DAS Nangaba adalah melebar dengan kerapatan parit/saluran tinggi, sehingga cenderung menghasilkan aliran permukaan yang lebih besar. Posisi geografis pada 08˚47΄44˝ LS 121˚35΄35˝ BT. Jumlah penduduk Kecamatan Ende 15.814 jiwa. Topografi wilayahnya terbagi atas :

l

a.

Datar

: 0,24 %

b.

Bergelombang

: 4,34 %

c.

Curam

: 23,29 %

d.

Sangat curam

: 72,13 %

DAS NANGABA

Gambar 2.9 Peta DAS Nangaba. ( Sumber : Hasil Pengolahan SIG )

b. Lingkungan Biotik

i. Fauna Di sepanjang bantaran sungai Nangaba terdapat lahan yang digunakan masyarakat untuk menanam berbagai jenis vegetasi dan terdapat pula jenis tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya. Tanaman yang ditanam masyarakat antara lain mangga (Mangivera indica), nangka, rambutan, kopi, coklat, padi (Oryza sativa), kacang panjang (Vigna sinensis), ubi (Manihot sp), pisang (Musa sp), pepaya, jagung (zea mays). Jenis tanaman lain yang diusahakan pemerintah seperti sengon (Albazia falcata), mahoni (Sweetinia macropila), cengkeh (Eugenia aromatica). Jenis tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya seperti

li

rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput teki (Cyperus rotundus)

dan lainnya.

(Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Ende).

Tingkat kerapatan vegetasi di sepanjang sungai Nangaba adalah sedang atau cukup tinggi sehingga masyarakat sering membuka hutan untuk kegiatan perladangan

masyarakat

khususnya didaerah hulu Daerah Aliran Sungai. ii. Fauna

No 1. 2. 3.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Tabel 2.7. Jenis Fauna di wilayah Sungai Nangaba Jenis Fauna Nama Latin Jenis Fauna Liar Ayam hutan Gallus varius Kelelawar Pteropus sp Babi hutan Sus scrofa vittatus Jenis Fauna Budidaya Ayam kampung Gallus Kambing Muntiacus sp Itik Annas sp Sapi Bibos sp Babi Sus sp Anjing Canis sp Sumber : Data Lapangan ( 2007 )

c. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Nangaba masih memegang adat budaya Ende-Lio dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dan tokoh adat masih berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya alam. Menurut keterangan Romo Geovani Don

lii

Bosco Seso, Pr ( Tokoh Agama ) bahwa belum ada kegiatan penghijauan di sungai Nangaba. Masyarakat masih melihat banjir sebagai suatu fenomena alam biasa. Diharapkan adanya sosialisasi kepada masyarakat yang melibatkan tokoh agama,tokoh adat untuk kegiatan penghijauan dan lainnya. Keterangan lain yang didapat bahwa tiap tahun saat terjadi hujan lebat dan lama maka akan terjadi pengikisan tebing sungai yang menyebabkan kerusakan kebun warga. Tingkat pendidikan masyarakat sangat bervariasi sebagaimana tercantum pada tabel berikut ini. No

Tabel 2.8. Prosentase rata-rata Tingkat Pendidikan Masyarakat Tingkat Pendidikan Prosentase

1

Tidak sekolah

4%

2

SD

72 %

3

SMP

10 %

4

SMA

10 %

5

Sarjana

4 %

Sumber: Profil Desa Rukuramba, 2006

Mata pencaharian masyarakat di Sungai Nangaba adalah petani, buruh, pegawai, pedagang, dan lainnya. Selain pekerjaan diatas, masyarakat sekitar memanfaatkan sungai Nangaba untuk kegiatan menggali pasir dan batu. Dampak negatif pengambilan

liii

tanah, pasir dan batu di sungai antara lain dinding sungai mudah longsor, bangunan sungai mudah runtuh atau rusak karena tidak adanya pasir, batu dan tanah yang berfungsi untuk melindungi bangunan sungai, dinding sungai dari erosi dan hantaman arus air. Aktifitas masyarakat di sepanjang sungai Nangaba yang akan berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan adalah membuang sampah, serta ada masyarakat yang menangkap ikan dan udang dengan cara diracuni atau menggunakan bahan kimia. Peran dan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan dan penanggulangan banjir dirasakan sangat kurang.

4.

Sungai Kaliputih

a. Gambaran Umum Sungai Kaliputih Sungai Kaliputih merupakan pertemuan Sungai Ae Hepo dan Bekaleja di DAS Kaliputih. Terletak di wilayah Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende, Flores, NTT. Luas DAS Kaliputih adalah 3.337,09775 ha, panjang Sungai Kaliputih adalah 16,5 km dengan tingkat kemiringan mencapai 45%. DAS Kaliputih termasuk tipe DAS memanjang dengan kerapatan parit/saluran rendah, sehingga cenderung menghasilkan aliran permukaan yang lebih kecil. Posisi Geografis pada 08˚47΄36˝ LS 121˚52΄43˝ BT. Topografi wilayahnya terbagi atas : a.

Datar

:0%

b.

Bergelombang

:0%

c.

Curam

: 42,36 %

d.

Sangat curam

: 77,64 %

liv

DAS KALIPUTIH

Gambar 2.10 Peta DAS Kaliputih ( Sumber : Hasil Pengolahan SIG )

b. Lingkungan Biotik

i. Flora Di sepanjang bantaran Sungai Kaliputih terdapat lahan yang digunakan masyarakat untuk areal persawahan dan ladang yang ditanami berbagai jenis vegetasi dan terdapat pula jenis tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya. Tanaman yang ditanam masyarakat antara lain padi (Oryza sativa), mangga (Mangivera indica), nangka, rambutan, kopi, ubi (Manihot sp), pisang (Musa sp), pepaya, jagung (zea mays). Jenis tanaman lain yang diusahakan pemerintah seperti sengon (Albazia falcata), mahoni (Sweetinia macropila), cengkeh (Eugenia aromatica), jati (Tectona

lv

Grandis L.f).

Jenis tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya

seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput teki (Cyperus rotundus) dan lainnya. (Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Ende). Tingkat kerapatan vegetasi di sepanjang sungai Kaliputih adalah sedang atau cukup tinggi. ii. Fauna

Tabel 2.9 Jenis Fauna di wilayah Sungai Kaliputih No Jenis Fauna Nama Latin Jenis Fauna Liar 1. Ayam hutan Gallus varius 2. Ular Bungarus fasciatus 3. Babi hutan Sus scrofa vittatus Jenis Fauna Budidaya 4. Ayam kampung Gallus 5. Kambing Muntiacus sp 6. Sapi Bibos sp 7. Babi Sus sp 8. Anjing Canis sp Sumber : Data Primer ( 2007 ) c. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Masyarakat sekitar Sungai Kaliputih masih memegang adat istiadat setempat dalam kehidupan sehari-hari. Wilayah tersebut masih memiliki ‘kampung adat’ dimana keberadaannya sangat berpengaruh terhadap semua aktifitas masyarakat. Masyarakat masih menghormati ‘mosalaki’ sebagai yang dituakan dan masih

lvi

didengar petuahnya. Masyarakat masih mempercayai beberapa ritual adat untuk menghindari banjir. Menurut pengakuan warga (Bapak Ramadhan Leru, 60 tahun) bahwa sering terjadi banjir jika hujan lebat turun lebih dari 6 jam yang menyebabkan air sungainya meluap ke badan jalan, kebun dan pemukiman warga. Mata pencaharian masyarakat di Sungai Kaliputih adalah petani, pegawai, pedagang, dan lainnya. Aktifitas masyarakat di sepanjang sungai Kaliputih yang akan berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan adalah membuang sampah. Masyarakat memanfaatkan air sungai untuk memandikan dan minum ternak dan untuk mandi serta mencuci. Air di Sungai Kaliputih mengandung belerang yang berasal dari Gunung Kelimutu yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai tersebut. Masyarakat mengharapkan agar pemerintah melakukan pemeriksaan kualitas air yang mengandung belerang tersebut.Masyarakat masih kurang berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan dan penanggulangan banjir. Tingkat pendidikan masyarakat di sekitar Sungai Kaliputih ditampilkan pada tabel dibawah ini.

lvii

Tabel 2.10. Prosentase rata-rata Tingkat Pendidikan Masyarakat No

Tingkat Pendidikan

Prosentase

1

Tidak sekolah

10 %

2

SD

48 %

3

SMP

15 %

4

SMA

21 %

5

Sarjana

6 %

Sumber: Profil Desa Nakambara, 2006

D. Kerangka Berpikir Penelitian Sungai sebagai sumber daya alam dianggap sebagai ekosistem yang terdiri atas komponen-komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang teratur. Manusia sebagai bagian dari komponen ekosistem memiliki daya pikir yang tinggi sehingga mampu mengelola ekosistem sesuai dengan yang dikehendakinya. Aktivitas masyarakat di sungai seperti menambang pasir, batu, tanah bantaran, mendirikan bangunan dipengaruhi oleh faktor pengetahuan masyarakat, persepsi dan partisipasi masyarakat itu sendiri. ketidakseimbangan antar komponen menyebabkan terganggunya ekosistem, misalnya erosi, tanah longsor, banjir, sedimentasi tebal serta hilangnya vegetasi di sekitar sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab (alamiah dan non alamiah) banjir baik berupa faktor biotik dan abiotik di ketiga sungai tersebut, sejauh mana tingkat persepsi dan partisipasi masyarakat serta upaya dan peran stakeholder dalam menanggulagi masalah bencana khususnya bencana banjir. Diagram skema kerangka berpikir seperti pada gambar berikut ini.

Sungai Wolowona , Nangaba dan Kaliputih lviii

Berpotensi Terjadi Bencana Banjir

Faktor Dominan Penyebab Banjir

Faktor Alamiah

Biotik : Kerapatan Vegetasi

Faktor non alamiah

Abiotik : • Curah hujan

Manusia : • Aktifitas masyarakat • Persepsi dan partisipasi masyarakat •

Bencana Banjir

Penanggulangan Bencana atau Mitigasi Banjir

Gambar 2.11 Skema Kerangka Berpikir

lix

BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian. Lokasi penelitian di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih yang merupakan sungai utama di DAS Wolowona, Nangaba dan Kaliputih . Wilayahnya sebagian besar meliputi Kecamatan Ende Timur, Ende, Detusoko dan Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Waktu penelitiaan dilaksanakan kurang lebih selama 6 (enam) bulan dari September 2007 sampai Maret 2008.

B. Bahan dan Peralatan Bahan dan peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1.

Data curah hujan bulanan dan tahunan dari BMG Kabupaten Ende, dan Dinas Pertanian Kabupaten Ende.

2.

Berbagai peta antara lain : Administrasi Kabupaten Ende, peta kawasan DAS, peta tata guna lahan, peta potensi hutan di Kab. Ende, peta Geologi, peta topografi dan peta digital Kabupaten Ende.

3.

Berbagai peralatan survey lapangan seperti : GPS, kamera digital, handycam, serta bahan kuisioner.

4.

Peralatan untuk mendukung kelancaran penelitian adalah sebagai berikut : alat tulis dan komputer.

C. Metode Penelitian 1.

Rancangan Penelitian. Rancangan penelitian yang dipergunakan adalah Analisis Deskripsi baik secara kualitatif maupun kuantitatif sebagai pendukung. Sifat penelitiaan studi kasus dengan

lx

permasalahan fokus penelitiaan sudah ditentukan dalam bentuk proposal sebelum peneliti terjun dan menggali permasalahan di lapangan (Sutopo, 1996:136). Penelitian deskriptif adalah meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitiaan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti. Dalam metode deskripsi diselidiki juga kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain (Natsir, 1988:63:64). Penelitian ini biasanya merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Penelitiaan deskriptif yang bersifat kualitatif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. (Suharsini Arikunto, 1998:245). Penelitiaan deskriptif bisa digunakan untuk mengadakan prediksi ataupun untuk keperluan generalisasi. Pada pelaksanaan penelitiaan penulis menggunakan survey lapangan, wawancara mendalam, pembuatan catatan lapangan dan dokumentasi. Pada pelaksanaan wawancara mendalam dipandu dengan daftar kuisioner, yang memuat hal-hal berkaitan dengan permasalahan-permasalahan, keadaan dan kondisi dilapangan. 2.

Data dan sumber data Data-data yang diperoleh untuk penelitian ini terdiri dari : a.

Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lapangan, baik dalam pengamatan fisik maupun pengambilan data secara wawancara mendalam dengan responden yang dipandu dengan kuisioner. Data Primer tersebut digunakan untuk mengungkap permasalahan dan mencari masukan permasalahan, baik kondisi fisik yang dibuat oleh manusia maupun sosial ekonomi penduduk.

b.

Data sekunder, yaitu data yang diambil dari profil desa, kecamatan dan kabupaten serta laporan instansi terkait, yang berhubungan dengan kegiatan pemantauan potensi rawan

lxi

bencana banjir, dengan pencatatan maupun wawancara langsung, peta-peta serta catatan penting dari instansi terkait disalin dan disempurnakan guna kelengkapan penelitian ini. 3.

Teknik pengumpulan data Menurut Moleong (2000:121), kedudukan dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Yang bersangkutan sekaligus merupakan

perencana, pelaksana, pengumpul data,

penganalisis, penafsir data, dan akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian. Jadi manusia berperan sebagai instrumen penelitiaan utama. Berdasarkan hal tersebut maka teknik penggumpulan data yang digunakan adalah:

a.

Pengamatan Pengamatan merupakan proses aktif, karena berbuat sesuatu dan memilih apa yang perlu untuk diamati. Pengamatan adalah kegiatan selektif, yaitu sesuatu yang menjadi tujuan. Dalam pengamatan dikaitkan dua hal, yakni informasi (apa yang terjadi) dan konteks (hal-hal yang sangkutan dengan sekitarnya). Informasi yang dilepaskan dari konteksnya akan kehilangan makna. Dari hasil pengamatan disusun deskripsi. Deskripsi adalah hal – hal yang nyata berdasarkan pengamatan, memberikan deskripsi adalah proses analitik. Dari deskripsi tersebut dibuat label atau tafsiran atau yang merupakan proses sintetik.

b.

Wawancara Dari hasil observasi saja kurang memadai, maka perlu dilengkapi dengan wawancara. Data yang dikumpulkan bersifat verbal dan non verbal. Data yang diperoleh melalui percakapan atau tanya jawab merupakan data verbal. (Natsir, 1988:69-72). Wawancara dilakukan dalam situasi yang netral, adil, ramah dan terkendali. Netral berarti bahwa pada saat wawancara tidak ada tekanan dari fihak manapun. Pertanyaan dan jawaban tidak dapat terekam oleh pihak lain. Adil maksudnya adalah bahwa kedua belah pihak, yaitu pewawancara dan responden tidak saling memihak. Pertanyaan maupun jawaban disampaikan secara wajar, sopan, dan lugas.

lxii

Untuk mengetahui kondisi dan persepsi langsung dari orang-orang tertentu atau informan dilakukan wawancara mendalam. Wawancara jenis ini bersifat lentur dan terbuka, tidak berstruktur ketat, tidak dalam suasana formal dan bisa dilakukan berulangulang pada informan yang sama (Sutopo, 1996:137). Dalam penelitian ini digunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif, dengan memilih informan yang dianggap paling tahu dan lokasi yang dipandang perlu (mewakili). Oleh karena itu kemungkinan pilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memperoleh data. Dalam penelitian ini, ditetapkan informan yang dilakukan wawancara yaitu berasal dari masyarakat di sekitar wilayah sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih. Pedoman pertanyaan yang digunakan pada wawancara mendalam disajikan pada lampiran. c.

Pembuatan Catatan Lapangan. Pembuatan catatan lapangan merupakan teknik yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka penggumpulan data dan refleksi terhadap data penelitian kualitatif, karena penelitian kualitatif mengandalkan pengamatan dan wawancara maka kedudukan catatan menjadi sangat penting.

d.

Penggunaan Dokumen. Dokumen adalah setiap bahan tertulis atau film sebagai pendukung dalam penelitiaan kualitatif ini. Sebagai sumber data, dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan.

4.

Validitas Data Guna menjaga validitas data, dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi data/sumber. Dengan teknik tersebut mengarahkan peneliti agar dalam pengumpulan data

lxiii

wajib menggunakan beragam sumber data yang tersedia, artinya data yang sama atau sejenis akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa kelompok sumber data yang berbeda. Dengan demikian data yang diperoleh dari sumber data yang satu akan lebih teruji bila dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber lain yang berbeda (Sutopo, 1996:70). 5.

Analisis Data Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Menurut Sutopo (1996:71) teknik analisis data dalam penelitian deskriptif kualitatif dilakukan dengan analisis interaktif berbentuk siklus. Analisis data dilakukan secara bersamaan dengan proses pelaksanaan pengumpulan data. Dalam model analisis ini tiga komponen analisisnya adalah : reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasinya, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu siklus. Di bawah ini dicantumkan gambar komponen analisis data model interaktif menurut Sutopo:

PENGUMPULAN DATA II. SAJIAN DATA I. REDUKSI DATA .

III. PENARIKAN KESIMPULAN/ VERIFIKASI

Gambar 3.1 Komponen Analisis Data Model Interaktif Dalam penelitian ini, proses analisis diawali dengan melakukan telaah atas data yang telah dikumpulkan dari kegiatan pengumpulan data. Penelaahan data kemudian dilanjutkan dengan melakukan reduksi data. Reduksi data sebagai komponen pertama

lxiv

sebenarnya sudah dilakukan sejak awal yaitu sejak penyusunan proposal, kemudian dilanjutkan pada waktu pengumpulan data dan secara erat saling menjalin dengan komponen analisis yang lain yaitu sajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi sampai waktu proses penulisan laporan penelitian berakhir (Sutopo, 1996:139-140).

D. Definisi Operasional Untuk mendapatkan kesamaan persepsi serta batasan yang jelas, maka diuraikan beberapa

pengertian

berdasarkan

Undang-Undang

Nomor

24

Tahun

2007

Tentang

Penanggulangan Bencana serta sumber lain sebagai berikut : 1.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

2.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

3.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

4. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. 5.

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

lxv

6.

Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sampai sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.

7.

Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas dilaut sampai dengan perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan.

8.

Presipitasi adalah jatuhnya semua butiran air atau kristal es dari asmosfir ke permukaan bumi.

9.

Banjir adalah aliran air di permukaan tanah yang relatif tinggi dan tidak dapat ditampung oleh saluran drainase atau sungai, sehingga melimpah ke kanan dan kiri serta menimbulkan genangan/aliran dalam jumlah yang melebihi normal dan mengakibatkan kerugian pada manusia.

lxvi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1. Deskripsi Data

a.

Deskripsi data apersepsi tentang penyebab banjir Dengan menggunakan statistik deskriptif dan program excell diperoleh hasil skor tertinggi 5 untuk data apersepsi masyarakat, dan skor terendah 1. Sebaran frekuensi skor apersepsi masyarakat dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram berikut ini : Tabel 11. Sebaran Frekuensi Skor Apersepsi Masyarakat Var*(X) 5 4 3 2 1 Total Median Mean stdev Varian

f* 15 19 31 30 31 126 30 25.2 7.628892 58.2

F*X 75 76 93 60 31 335

fX2 375 304 279 120 31 1109

Sumber : Hasil Penelitian (2008) Keterangan : Var : Varian f** : Frekuensi Median : Nilai tengah Mean : Rerata Stdev : standar deviasi Jumlah responden : 126

lxvii

f% 11.90476 15.07937 24.60317 23.80952 24.60317 100

sangat tidak setuju 25%

sangat setuju 12% setuju 15%

tidak setuju 24%

diam 24%

Gambar 4.1 Distribusi Frekuensi Apersepsi Masyarakat Tentang Faktor Penyebab Banjir Dari diagram yang ada tentang faktor alamiah dominan penyebab banjir, masyarakat sebagai responden 12% sangat setuju bahwa faktor alamiah dominan adalah curah hujan ekstrim, 15% setuju, 24% diam, 24% tidak setuju dan 25% sangat tidak setuju. b.

Deskripsi data apersepsi upaya pemerintah Setelah melakukan olah data statistik deskriptif sebaran frekuensi skor dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram berikut ini : Tabel 12. Sebaran Frekuensi Skor Apersepsi Var*(X) f* F*X fX2 f% 5 8 40 200 6.349206 4 11 44 176 8.730159 3 24 72 216 19.04762 2 41 82 164 32.53968 1 42 42 42 33.33333 Total 126 280 798 100 Median 24 Mean 25.2 stdev 16.05304 Varian 257.7

Sumber : Hasil Penelitian (2008)

lxviii

Data Apersepsi tentang peranan pemerintah

sangat setuju 6% setuju 9%

sangat tidak setuju 33%

diam 19% tidak setuju 33%

Gambar 4.2 Distribusi Frekuensi Apersepsi Masyarakat Tentang Upaya Pemerintah

Dari diagram yang ada tentang upaya pemerintah, masyarakat sebagai responden 6 % sangat setuju, 9% setuju, 19% diam, 33% tidak setuju dan 25% sangat tidak setuju. c.

Deskripsi data persepsi tentang penyebab banjir Setelah melakukan olah data statistik deskriptif sebaran frekuensi skor dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram berikut ini : Tabel 13. Sebaran Frekuensi Skor Persepsi 2 Var*(X) f* F*X fX 5 25 125 625 4 36 144 576 3 27 81 243 2 18 36 72 1 20 20 20 Total 126 406 1536 Median 25 Mean 25.2 stdev 7.049823 Varian 49.7

Sumber : Hasil Penelitian (2008)

Keterangan : Var f** Median Mean

: Varian : Frekuensi : Nilai tengah : Rerata

lxix

f% 19.84127 28.57143 21.42857 14.28571 15.87302 100

Stdev Skor tertinggi Skor terendah Jumlah responden

: standar deviasi : 5 (sangat setuju) : 1 (sangat tidak setuju) : 126

Distribusi Frekuensi persepsi masyarakat tentang faktor alam sebagai faktor dominan penyebab banjir sangat tidak setuju 16%

sangat setuju 20%

tidak setuju 14% setuju 29%

diam 21%

Gambar 4.3 Distribusi Frekuensi persepsi Masyarakat Dari diagram diatas dapat dijelaskan bahwa masyarakat sebagai responden 20% sangat setuju bahwa faktor alamiah dominan penyebab banjir adalah curah hujan ekstrim, 29% setuju, 21% diam, 14% tidak setuju dan 16% sangat tidak setuju.

d.

Deskripsi data persepsi masyarakat tentang upaya pemerintah dalam menanggulani bencana banjir Setelah melakukan olah data statistik deskriptif sebaran frekuensi skor dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram berikut ini :

Tabel 14. Sebaran Frekuensi Skor persepsi

lxx

Var*(X) 5 4 3 2 1 Total Median Mean Stdev Varian

f* 35 16 27 22 26 126 26 25.2 6.978539 48.7

fX2 875 256 243 88 26 1488

F*X 175 64 81 44 26 390

f% 27.77778 12.69841 21.42857 17.46032 20.63492 100

Sumber : Hasil Penelitian (2008) Gambar 4.4 Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat Tentang Distribusi Persepsi Masyarakat Tentang Peranan Pemerintah Dalam Penanggulangan Banjir

sangat tidak setuju 21% tidak setuju 17%

sangat setuju 28%

diam 21%

setuju 13%

Dari diagram diatas terdapat 28% responden yang sangat setuju dengan upaya penanggulangan banjir yang dilakukan pihak pemerintah, 13% responden setuju, 21% diam, 17% tidak setuju dan 21% responden sangat tidak setuju dengan upaya yang telah dilakukan pemerintah.

e.

Deskripsi data aktifitas masyarakat dalam menanggulani bencana banjir Setelah melakukan olah data statistik deskriptif sebaran frekuensi skor dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram berikut ini :

Tabel 15. Sebaran Frekuensi Skor Aktifitas Masyarakat Var*(X) 5 4

f*

fX2

F*X 41 27

205 108

lxxi

1025 432

f% 32.53968 21.42857

3 2 1 Total Median Mean stdev Varian

21 23 14 126 23 25.2 10.01 100.2

63 46 14 436

189 92 14 1752

16.66667 18.25397 11.11111 100

Sumber : Hasil Penelitian (2008) Dari sebaran frekuensi skor yang ada terdapat 33 % responden sangat setuju bahwa prilaku masyarakat seperti membuang sampah disungai, mengambil batu dan pasir dibadan sungai serta membuka lahan dihutan untuk keperluan ladang berpindah tidak menyebabkan bencana banjir, 21% responden setuju, 17 % responden diam tentang dampak prilaku masyarakat dengan bencana banjir, 18% tidak setuju bahwa aktifitas masyarakat tersebut tidak menyebabkan banjir dan 11% sangat tidak setuju bahwa aktifitas masyarakat tidak berdampak terhadap masalah banjir.

2. Analisis Apersepsi Dan Persepsi Masyarakat Analisis umum yang dimaksud adalah analisis awal membahas analisis kualitatif yang di uraikan dalam bentuk diskriptif berupa tabel, gambar ataupun diagram untuk aspek apersepsi dan persepsi masyarakat melalui survey lokasi dan berdasarkan data sekunder yang telah diperoleh lebih dahulu, sedangkan analisi kuantitatif berupa uji sebaran frekuensi untuk hasil wawancara. Analisis Kuantitatif pada penelitian ini bersifat pendukung analisis kualitatif dari hasil wawancara dan kuisioner. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis Varian untuk mengetahui perbedaan apersepsi, persepsi dan partisipasi dari masyarakat. Sebelum mengetahui sejauh mana tingkat persepsi masyarakat maka perlu digali sejauh mana pandangan awal masyarakat sebagai pendahuluan sebelum dilakukan penjelasan dan wawancara lebih mendalam dalam bentuk apersepsi.

Jawaban yang didapat akan

memberikan tolok ukur penjelasan yang akan diberikan untuk penggalian persepsi lebih jauh.

lxxii

Sikap apersepsi masyarakat Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih mendorong mereka melakukan aktifitas berdasarkan pemahaman mereka secara sederhana. Apa yang diketahui yang akan terungkap tanpa pengetahuan atau ilmu yang didapat terlebih dahulu. Pengetahuan Masyarakat tentang fungsi sungai adalah sebagai saluran air (khususnya air hujan), tempat memancing, aktifitas mandi dan mencuci, tempat mencari pasir, batu, tanah, tempat mencari makanan, mencari ekonomi, mencari penghidupan, mencari nafkah. Masyarakat pengambil pasir, batu, tanah bantaran menyatakan bahwa mengambil pasir, batu dan tanah secara tradisional tidak merusak bangunan sungai karena hanya dilakukan dengan tenaga manusia, alat yang digunakan berupa cangkul, ayakan, sekrop, tidak menggunakan mesin pompa. Tingkat pendidikan dan mata pencaharian mayoritas masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Wolowona, Nangaba, dan Kaliputih berpengaruh terhadap apersepsi, persepsi, aktifitas, dan partisipasi masyarakat terhadap masalah bencana banjir yang terjadi di daerah tersebut. Kegiatan perkebunan yang banyak dilakukan oleh petani yang kebanyakan hanya berpendidikan tingkat rendah, telah menyebabkan kerusakan lahan di sekitar sungai. Hal ini dikarenakan mereka menggunakan lahan di sekitar sungai yang awalnya berupa hutan yang seharusnya dimanfaatkan untuk daerah konservasi tanah dan air, digunakan untuk kegiatan pertanian seperti menanam jagung, kacang tanah, ubi, padi, dan tanaman lain. Kurang adanya partisipasi masyarakat antara lain disebabkan ketidaktahuan dari masyarakat itu sendiri tentang apa yang harus mereka lakukan dalam masalah konservasi serta masyarakat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau kurang adanya komunikasi antara pihak pemerintah dan masyarakat. Setelah mendapat masukan saat melakukan wawancara, pengetahuan masyarakat bertambah sehingga mereka dapat mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui dan diharapkan dapat mempengaruhi persepsi serta partisipasi masyarakat tersebut. Perubahan terjadi pada masyarakat dari apersepsi awal tanpa pengetahuan dengan perubahan pandangan atau persepsi masyarakat setelah mendapat masukan dari pihak lain dalam bentuk sosialisasi. Proses untuk memperoleh informasi tersebut dilakukan dengan percakapan yang berbentuk

lxxiii

tanya jawab dengan tatap muka. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur apersepsi masyarakat sebagai informasi pendahuluan. Hasil penggalian informasi pendahuluan dari masyarakat tersebut dapat dijadikan dasar untuk

pengumpulan data dalam bentuk kuisioner. Hasil

wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa mereka tahu banjir merupakan fenomena alam biasa yang merupakan luapan sungai, tapi mereka tidak mengetahui kenapa sampai terjadi banjir. Sebagian masyarakat yang tinggal dipinggir sungai merasa hampir setiap tahun terkena luapan banjir dari sungai. Perubahan pandangan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui tentang suatu informasi dapat dibuat contoh dalam bentuk tabel dibawah ini. Tabel 16. Sikap apersepsi dan persepsi masyarakat. Apersepsi

Persepsi

1.

Sebelum mendapat masukan, masyarakat tidak mengetahui bahwa mengambil batu dan pasir di badan sungai merusak lingkungan.

2.

Masyarakat tidak mengetahui 2. Masyarakat mengetahui adanya adanya aturan yang mengatur aturan yang mengatur tentang peran tentang peran serta masyarakat serta masyarakat terhadap terhadap lingkungan. lingkungan. Masyarakat tidak 3. Masyarakat mulai menyadari arti memperhatikan masalah penting menjaga lingkungan hidup. lingkungan hidup. Masyarakat mengetahui banjir 4. Masyarakat mulai mengetahui banjir merupakan suatu kejadian alam merupakan suatu ancaman bencana biasa. yang harus dihindari. Sebagian masyarakat yang berasal dari lokasi pengambilan pasir di Sungai Nangaba

3.

4.

1.

Setelah ada masukan masyarakat mulai mengetahui mengambil batu dan pasir di badan sungai akan menyebabkan kerusakan lingkungan.

dan Wolowona menyatakan bahwa tidak mengetahui adanya larangan untuk mengambil pasir, batu, dan tanah di bantaran sungai, sedangkan sebagian masyarakat lainnya menyatakan bahwa ada larangan mengambil pasir, batu, dan tanah di bantaran dan karena ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, kebutuhan makan maka mereka tetap mengambilnya.

Perubahan persepsi terjadi dalam bentuk dari tidak

mengetahui ke mengetahui dalam bentuk teori, belum sampai pada taraf perubahan prilaku sebagai akibat perubahan persepsi masyarakat.

lxxiv

B.

PEMBAHASAN

Untuk dapat mengetahui potensi terjadinya bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan sungai Kaliputih, maka perlu diketahui faktor dominan yang menjadi penyebabnya baik faktor dominan alamiah maupun faktor dominan non alamiah serta faktor pemicu lainnya. 1. Faktor Alamiah Dominan Yang Memicu Timbulnya Banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih adalah Curah hujan ekstrim Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih merupakan sungai musiman yang pada musim penghujan sering terjadi banjir. Hujan lebat/curah hujan ekstrim yang terjadi pada musim hujan di wilayah Kabupaten Ende merupakan faktor dominan alamiah yang menyebabkan banjir di ketiga sungai tersebut. Akibat hujan lebat dengan intensitas tinggi yang terjadi secara lokal tersebut dapat menyebabkan debit sungai meningkat dan memungkinkan untuk meluap keluar melewati tanggul sungai. Daerah yang terkena banjir jenis ini adalah daerah sekitar (kanan/kiri) sungai yang letaknya cukup rendah atau merupakan dataran banjir dan berpotensi terjadi banjir bandang. Terjadinya hujan lebat tersebut hampir tidak ada kesempatan air hujan meresap ke dalam tanah, sehingga menyebabkan meningkatnya aliran permukaan. Pada Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih alur alirannya sangat lebar dan dangkal dengan dasar yang relatip rata, hanya terdapat gugus-gugus sedimen disana sini. Pada kondisinya yang ekstrim, sungai ini hampir tidak mempunyai alur yang nyata sehingga apabila terjadi debit besar, akan menjadi aliran berupa sheet flood yang bersifat banjir bandang pada permukaan lembahnya. Bagian hilir sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih yang berhubungan dengan laut terdapat muara sungai yang berfungsi sebagai pelepasan atau pembuangan akhir debit sungai ke laut. Permasalahan di tiga muara sungai tersebut adalah terjadinya proses pendangkalan akibat adanya endapan material (sedimentasi) yang berlangsung terus menerus tiap tahun. Hal ini menyebabkan tampang aliran menjadi kritis

lxxv

dan pada akhirnya akan mengganggu kelancaran proses pembuangan debit sungai ke laut terutama pada saat banjir. Ketidak lancaran proses pembuangan tersebut, dapat menyebabkan aliran balik (back water) karena proses pembendungan secara alamiah. Arah aliran di sebelah hulu muara sungai tersebut menjadi berkelok-kelok, mengakibatkan terjadinya pukulan dan gerusan air pada dinding-dinding tebing palungan sungai ketika terjadi banjir. Kondisi ini menyebabkan ruas sungai pada daerah-daerah tertentu selalu cenderung melebar, hingga akhirnya mengancam kawasan pemukiman penduduk. Menurut Agustinus Minggu pada penelitian tentang Sungai Wolowona menyimpulkan bahwa penampang palungan sungai Wolowona tidak mampu menampung dan mengalirkan debit banjir rencana kala ulang 100 tahun, karena tinggi dinding palungan lebih kecil dari tinggi muka air dan tinggi jagaan. Berdasarkan penelitian tersebut menyatakan bahwa faktor penyebab banjir di Sungai Wolowona adalah akibat curah hujan yang tinggi sehingga terjadi luapan serta pukulan air pada dinding palungan sungai, yang menyebabkan lebar sungai melampaui rezim yang ada bahkan telah menjangkau lahan potensial masyarakat sekitar. Hasil penelitian lain oleh Alexander Leda, ST, MT tentang kekeringan dan banjir pada DAS Aesesa menyimpulkan bahwa penyebab kekeringan dan banjir di DAS Aesesa Kabupaten Ngada, Flores, tidak semata-mata karena perubahan iklim tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi DAS seperti tidak cukupnya lahan untuk menyerap dan menyimpan air saat musim hujan. Banjir bandang yang pernah terjadi akibat meluapnya Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih merupakan bencana yang melanda Kabupaten Ende seperti terjadi pada tahun 1988 dan 2003. Banjir bandang dapat terjadi pada sungai yang memiliki aliran dan sungai yang tidak memiliki aliran ( kali kering). Banjir bandang disebabkan adanya longsoran lereng baik akibat erosi lahan maupun pergerakan tanah akibat gempa bumi. Longsoran tanah ini kemudian jatuh ke alur-alur sungai membentuk bendungan-bendungan alami, jika terjadi hujan maka air hujan akan tertampung pada bendungan tanah alami itu. Pada suatu saat bendungan tanah ini tidak mampu menahan beban air di atasnya, maka akan terjadi banjir

lxxvi

bandang (Debris Flow). yang membawa batuan, air bercampur tanah dengan energi yang sangat besar dan dapat menghancurkan apa saja yang dijumpainya. Berdasarkan data debit dan curah hujan yang ada, maka debit sungai pada saat terjadi banjir tahun 1988 di Sungai Wolowona adalah 277 m³/detik dengan intensitas curah hujan 107,14 mm.

Gambar 4.5 : Sekolah yang tertutup reruntuhan akibat banjir bandang di sungai Ekorako Desa Roworeke ± 8 Km sebelah barat kota Ende. 1988

lxxvii

4.6 Jembatan Sungai Nangaba yang rusak akibat banjir bandang. Sungai Nangaba, 8,2 km sebelah barat Kota Ende, 1988. (Sumber : Bappeda Kab. Ende)

Gambar Lokasi

Gambar 4.7 Banjir Bandang di Kampung Ndungga km. 10 Kab. Ende (Sumber : Bappeda Kab. Ende, 2003) Bencana banjir bandang juga terjadi pada 1 April 2003 di Desa Ndungga dengan intensitas curah hujan sebesar 266,89mm dan debit sungai 736,529 m³/ dtk. Banjir bandang

lxxviii

juga melanda 14 kecamatan di Kabupaten Ende. Jumlah korban jiwa pada Desa Ndungga Kecamatan Ende Timur yang merupakan wilayah Daerah Aliran Sungai Wolowona sebagai berikut : 29 orang meninggal dunia dan 33 orang mengalami cedera atau luka berat. Jenis kerusakan lain yang terjadi adalah pemukiman penduduk 115 unit dan areal pertanian 30 ha yang hanyut terbawa banjir, sarana transportasi, sarana pendidikan, rumah ibadah, puskesmas, stadion, terminal dan pasar yang rusak parah ( Sumber : Satlak PBP Kabupaten Ende, 2003 ). Faktor lain yang berpotensi memicu timbulnya bencana banjir adalah tingkat kerapatan vegetasi di Sungai Wolowona yang rendah, tingkat kerapatan vegetasi di Sungai Nangaba dan Kaliputih yang sedang sehingga terindikasi kurangnya penutupan lahan di kawasan tersebut. Banjir bandang

yang sama terjadi di sungai Bohorok, Kabupaten Langkat,

Sumatera Utara. Berdasarkan hasil survey dan temuan lapangan unit manajemen Leuser, kemungkinan penyebab banjir bandang di sungai tersebut merupakan akibat langsung dari bencana alam pecahnya bendungan alami yang penuh dengan kayu, yang terbentuk sebagai akibat dari tanah longsor karena hujan lebat di musim hujan.

2.

Faktor Non Alamiah Dominan Yang Memicu Timbulnya Banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih Faktor non alamiah yang memicu timbulnya banjir adalah faktor antropogenik atau aktifitas manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Belum ada implementasi kebijakan yang efektif untuk mengendalikan penggundulan hutan dan perubahan fungsi ruang pada daerah hulu. Aktifitas dan perubahan ini akan meningkatkan aliran air yang masuk langsung dan secara cepat kebadan sungai dan pada akhirnya karena kapasitas tampung dan pengaliran sungai telah menurun maka kejadian berikutnya adalah meluapnya air sungai ke kawasan permukiman, persawahan dan perkebunan masyarakat. Penegakan hukum yang lemah telah ikut mendorong tumbuhnya permukiman ilegal dibantaran sungai. Penambangan pasir ilegal terutama pada areal-areal sekitar bangunan

lxxix

pengendali banjir yang umumnya mudah diakses masyarakat juga ikut memperparah keadaan karena kemampuan bangunan pengendali banjir menjadi menurun. Aktifitas masyarakat sangat berperan dalam menyebabkan kerusakan lingkungan yang akan menyebabkan bencana seperti bencana tanah longsor dan banjir. Aktifitas yang sering dilakukan masyarakat sekitar sungai Wolowona dan Nangaba adalah mengambil batu dan pasir disekitar badan sungai serta melakukan pembukaan lahan diwilayah hutan untuk keperluan ladang berpindah. Dampak negatif pengambilan tanah, pasir dan batu di sungai Wolowona dan Nangaba antara lain dinding sungai mudah longsor, bangunan sungai mudah runtuh atau rusak karena tidak adanya pasir, batu dan tanah yang berfungsi untuk melindungi bangunan sungai, dinding sungai dari erosi dan hantaman arus air. Aktifitas pembukaan lahan di daerah hulu DAS Nangaba akan mengganggu stabilitas lereng, merusak vegetasi penutup lahan sehingga menyebabkan tanah menjadi gundul dan akan meningkatkan aliran permukaan (koefisien aliran meningkat). Masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar, dimana hal tersebut juga akan membahayakan jika pada musim kemarau apinya bisa cepat merambah hingga ke hutan secara lebih luas. 3.

Persepsi dan Partisipasi Masyarakat di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih. Persepsi masyarakat dapat dibangun melalui beberapa kegiatan diantaranya adalah pendidikan, penyuluhan, pelatihan dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan fungsi dan peranan hutan, serta masalah penanggulangan bencana atau mitigasi. Hasanu Simon (2006) menyebutkan bahwa terdapat tiga fungsi hutan yaitu fungsi ekonomi, perlindungan dan keindahan. Atas dasar fungsi itulah pemanfaatan dan pengelolaan hutan dijalankan dan masyarakat sekitar hutan hendaknya memiliki pengetahuan tentang hal itu. Persepsi masyarakat sekitar Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih bahwa curah hujan ekstrim merupakan salah satu faktor penyebab bencana banjir adalah benar. Persepsi masyarakat sekitar tentang faktor antropogenik atau aktifitas mereka adalah bahwa aktifitas mereka tidak terlalu berpengaruh terhadap faktor penyebab banjir adalah tidak benar, karena faktor antropogenik tersebut sangat berpengaruh selain faktor alam. Persepsi masyarakat yang tidak benar tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang

lxxx

lingkungan hidup dan sumber daya alam. Masyarakat sangat setuju atas upaya pemerintah dalam penanggulangan bencana banjir berupa kegiatan normalisasi sungai, meskipun ada sedikit kendala saat pelaksanaannya terkait terbatasnya kepemilikan lahan di Sungai Wolowona. Masyarakat merasa resah jika lahan pertanian mereka menjadi berkurang dan jika banjir dapat menggenangi sekitar lahan milik warga tersebut. Hal tersebut karena kurangnya sosialisasi dari pihak pemerintah atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Persepsi masyarakat terhadap kegiatan penanggulangan bencana banjir erat kaitannya dengan penilaian masyarakat tentang pemahaman arti, maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dalam upaya penanggulangan bencana banjir. Persepsi masyarakat mengenai fungsi dan keberadaan hutan sangat menentukan sehingga mereka tidak melakukan penebangan hutan. Apabila persepsi masyarakat semakin baik, maka dapat diprediksikan bahwa usaha-usaha konservasi sumber daya alam juga semakin meningkat. Partisipasi masyarakat merupakan suatu proses teknis untuk memberikan kesempatan dan wewenang yang lebih luas kepada masyarakat untuk secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan. Pembagian kewenangan ini dilakukan berdasarkan tingkat keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Partisipasi masyarakat bertujuan untuk mencari solusi permasalahan yang lebih baik dalam suatu komunitas dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memberikan kontribusi sehingga implementasi kegiatan berjalan lebih efektif, efisien dan berkelanjutan. Dalam tahap perencanaan diperlukan keterlibatan masyarakat yang lebih besar, karena dalam tahap perencanaan ini masyarakat diajak untuk membuat suatu keputusan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mempunyai rasa memiliki, sehingga timbul kesadaran dan tanggung jawab untuk turut menyukseskan. Unsur penting dari peran atau partisipasi masyarakat yaitu:

1. Peran serta masyarakat merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, bukan hanya semata-mata keterlibatan secara jasmaniah.

lxxxi

2. Kesediaan memberikan sumbangan kepada usaha mencapai tujuan. Hal ini berarti terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok. 3. Unsur tanggungjawab, unsur ini merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Oleh karena itu peran serta masyarakat tidak hanya sebatas keterlibatan masyarakat dalam suatu kegiatan tetapi lebih lanjut peran serta juga mengandung pengertian bahwa masyarakat terlibat dalam setiap tahap dari suatu kegiatan sampai dengan menilai apakah pembangunan sudah sesuai dengan rencana dan dapat meningkatkan ekonominya. Partisipasi masyarakat

sekitar

Sungai

Wolowona,

penanggulangan bencana banjir

Nangaba

dan

Kaliputih

terhadap

upaya

yang dilakukan pemerintah terlihat dari keikutsertaan

mereka untuk menyukseskan kegiatan penghijauan berbasis masyarakat dalam hal-hal sebagai berikut: masyarakat bersedia menanam bibit yang telah diberikan oleh pemerintah serta masyarakat mau melakukan swadaya untuk tambahan bibit tanaman. Dari hasil wawancara dan jawaban kuisioner yang diedarkan pada masyarakat sekitar Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih, menunjukkan bahwa mereka mempunyai kesan

dan

penilaian

yang

positif terhadap

kegiatan-kegiatan

pemerintah

dalam

menanggulangi masalah bencana banjir serta kegiatan konservasi sumber daya alam. Dalam pengembangan program penghijauan berbasis masyarakat, peran serta masyarakat sekitar hutan tidak bisa diabaikan karena masyarakat setempat lokasi pengijauan lebih tahu tentang daerahnya daripada orang dari luar. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan hutan rakyat dalam kegiatan penghijauan sangat diperlukan. Partisipasi masyarakat sebagai salah satu stakeholder masih sangat kurang. Peran pemerintah masih sangat dominan pada setiap tahapan bencana. Partisipasi masyarakat yang merupakan critikal player pada tahapan sebelum bencana memiliki pengaruh yang sangat kecil dalam proses dan implementasi kebijakan. Tingkat partisipasi terbaik yang tejadi baru

lxxxii

pada tingkat consultation. Bahkan pada beberapa kegiatan masih pada tingkat information dimana masyarakat masih sebagai obyek suatu program/kegiatan pemerintah. Partisipasi telah dimulai pada tingkat patnership pada lingkup lingkungan setempat yang dilaksanakan secara spontan.

Ketika kegiatan tanggap darurat ketika terjadi bencana, partisipasi

masyarakat seimbang dengan stakeholder lainnya. Tingkat partisipasi yang dicapai adalah patnership baik secara individu maupun dalam suatu kelompok organisasi sosial. Pada tahapan rehabilitasi setelah terjadinya bencana, pemerintah kembali dominan terutama dalam kegiatan fisik. Partisipasi masyarakat hanya sebatas consultation. Tingkat partisipasi risk sharing dan patnership dilakukan lingkup lingkungan setempat. 4.

Upaya Stakeholder (Pemerintah dan Masyarakat) Dalam Menanggulangi Bencana Banjir. Kebijakan pemerintah daerah tentang penanggulangan bencana masih sangat terbatas. Peraturan daerah yang sudah tersedia terbatas pada kegiatan pencegahan. Sedangkan kebijakan pada saat bencana menggunakan pedoman-pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, dan belum dalam bentuk peraturan daerah. Demikian halnya pada tahapan rehabilitasi pasca bencana. Upaya penanggulangan banjir yang selama ini dilakukan lebih terfokus pada penyediaan bangunan fisik pengendali banjir untuk mengurangi dampak bencana. Selain itu, meskipun kebijakan non fisik yang mencakup partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir sudah mulai dibuat namun belum di implementasikan dengan baik dan bahkan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Penanggulangan banjir mencakup kegiatan yang sangat kompleks dan bersifat lintas sektoral, oleh karena itu diperlukan koordinasi di tingkat pelaksanaan, perencanaan kebijakan termasuk partisipasi masyarakat dan stakeholder lainnya. Stakeholder

penanggulangan banjir secara umum di kelompokan menjadi tiga

(3),yaitu : (i) Beneficiaries, masyarakat yang mendapat manfaat/dampak secara langsung maupun tidak langsung, (ii) Intermediaries , kelompok masyarakat atau perseorangan yang dapat memberikan pertimbangan atau fasilitasi dalam penanggulangan banjir antara lain ;

lxxxiii

konsultan, pakar, LSM, dan profesional dibidang SDA, dan (iii) Decision/ policy makers, lembaga/institusi yang berwenang membuat keputusan dan landasan hukum seperti lembaga pemerintahan dan dewan sumber daya air. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa upaya penanggulangan yang dilaksanakan selama ini oleh pemerintah dan masyarakat masih bersifat insidentil atau tanggap darurat atas berbagai bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Upaya tindak lanjut setelah bencana dan antisipasi bencana belum tuntas dilaksanakan di lokasi-lokasi bekas bencana alam dan daerah rawan bencana sehingga upaya meminimalisasi resiko bencana belum dilakukan secara baik dan terpadu. Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Ende melalui instansi terkait sebagai berikut : 1.

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah ( Bapedalda) Kabupaten Ende. a.

Pelaksanaan Program Gerakan Penghijauan Berbasis Masyarakat

(GPBM),

dengan memberikan bantuan tanaman (mahoni, kakao, jambu mete dan petai) kepada kelompok tani di beberapa kecamatan. b.

Melakukan identifikasi, pemantauan dan pendataan potensi kerusakan dan pencemaran lingkungan di Kabupaten Ende.

c.

Melakukan sosialisasi tentang masalah lingkungan baik secara formal melalui suatu forum resmi maupun informal dalam bentuk kegiatan lomba (lomba lintas alam dan melukis bertema lingkungan).

d. 2.

Memasang papan-papan informasi berupa himbauan di lokasi strategis.

Badan Kesatuan Bangsa Dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Ende. Melakukan upaya penanganan dan mitigasi bencana yang dilaksanakan oleh Satlak PB (Satuan Tugas Pelaksana Penanggulangan Bencana) yang terdiri dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan unsur TNI di daerah setempat. Satlak Penanggulangan Bencana telah menyusun program kegiatan tanggap darurat banjir dalam bentuk Rencana Kontinjensi Bencana Banjir Kabupaten Ende tahun 2007. Kegiatan lain yang dilakukan satlak Penanggulangan Bencana bekerjasama dengan LSM yang bergerak dibidang Lingkungan

lxxxiv

adalah latihan penanggulangan menghadapi bencana alam berbasis masyarakat di Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende. Kegiatan yang dilakukan oleh badan Kesbanglinmas antara lain memasang papan informasi yang berisi himbauan tentang bahaya bencana, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Menurut Kepala Badan Kesbanglinmas Drs. Gabriel Toby Sona, bahwa dalam upaya penanggulangan bencana khususnya kepada aparat pemerintah agar mempunyai motivasi untuk segera bertindak dan berbuat lebih proaktif sehingga dapat lebih meminimalkan resiko bencana yang terjadi. 3.

Dinas Pertanian Kabupaten Ende Dinas pertanian memberikan bantuan bibit (padi, jagung, kacang hijau, sayur-sayuran dan lainnya) kepada kelompok tani dengan sistem bagi hasil. Membuat sistem irigasi dengan saluran permanen langsung dari sungai, membuat bendungan, embung dan sumur tanah dangkal untuk menyimpan air

4.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende. Melakukan pembangunan fisik berupa pembuatan bronjong di sungai-sungai yang sering terjadi banjir (Sungai Wolowona, Nangaba, Kaliputih dan sungai lainnya), rehabilitasi daerah bendung irigasi di sungai Kaliputih serta kegiatan normalisasi sungai Wolowona dan Nangaba.

5.

Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Ende. Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, dengan jenis kegiatan antara lain pembuatan dan pemeliharaan tanaman reboisasi (hutan produksi dan hutan lindung), pembuatan dan pemeliharaan tanaman hutan rakyat, penghijauan, pemberian bantuan anakan tanaman (jati super dan jenis lainnya) serta kegiatan lain .

6.

Kecamatan Ende. Upaya pencegahan banjir di sungai Nangaba berupa pemasangan bronjong untuk program jangka pendek, kegiatan penghijauan di hulu sungai serta sepanjang sungai Nangaba yang merupakan program jangka panjang. Melakukan sosialisasi terhadap masyarakat penggali batu dan pasir agar aktifitasnya dilakukan ditempat yang sesuai sehingga tidak menyebabkan

lxxxv

kerusakan lingkungan yang berpotensi menyebabkan bencana banjir, demikian yang disampaikan oleh Camat Ende Bapak Basri Haji. 7.

Tokoh masyarakat Bapak Albertus Vinsen Tani, S.pd selaku Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ende, yang membidangi masalah lingkungan hidup memberikan keterangan bahwa masyarakat Kabupaten Ende masih kurang menyadari pentingnya masalah lingkungan walaupun telah dilakukan sosialisasi oleh pemerintah. Upaya yang telah dilakukan para wakil rakyat antara lain : Melakukan sosialisasi secara bertahap di masyarakat, mendata wilayahwilayah yang rawan bencana serta membentuk wadah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

8.

Tokoh masyarakat Bapak Mahmud Meu Reu, sebagai mosalaki/tokoh adat di desa Mbuliwaralau menyatakan bahwa masyarakat sekitar Sungai Kaliputih melakukan swadaya pengadaan tanaman perkebunan seperti jambu mete, kakao dan vanili untuk ditanam di hutan rakyat sebagai salah satu bentuk kegiatan penghijauan di wilayah tersebut.

9.

Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Ende Upaya yang dilakukan antara lain memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui media cetak. Salah satu kunci keberhasilan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar DAS adalah melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan peran serta masyarakat tersebut, demikian yang disampaikan Bapak Philipus Hami selaku kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Ende.

10. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ende a. Melakukan sosialisasi tentang masalah lingkungan dan potensi bencana alam. b. Merencanakan program pembangunan yang berwawasan lingkungan. c. Melakukan pemantauan kerusakan lingkungan hidup dan sumber daya alam di Kabupaten Ende. d. Berkoordinasi dengan instansi teknis masalah pengembangan lingkungan hidup.

lxxxvi

11. Kecamatan Wolowaru. Melakukan sosialisasi terhadap masyarakat tentang potensi bencana banjir jika musim hujan tiba. Menghimbau masyarakat untuk menjaga hutan dengan tidak melakukan penggundulan hutan untuk kegiatan masyarakat. 12. Kecamatan Ende Timur. Pihak pemerintah melalui kecamatan melakukan kegiatan bersama masyarakat di sekitar Sungai Wolowona berupa kegiatan penghijauan serta sosialisasi terhadap masyarakat penggali batu dan pasir agar aktifitasnya dilakukan ditempat yang sesuai sehingga tidak menyebabkan kerusakan lingkungan yang berpotensi menyebabkan bencana banjir. Upaya pencegahan banjir di Sungai Wolowona

berupa pemasangan bronjong dan kegiatan

normalisasi sungai.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut : 1. Faktor alamiah dominan yang berpotensi menyebabkan bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih adalah curah hujan yang ekstrim pada musim hujan. 2. Faktor non alamiah dominan yang berpotensi menyebabkan bencana banjir

lxxxvii

adalah aktivitas masyarakat atau antropogenik seperti pembukaan hutan untuk ladang berpindah. 3. Persepsi dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana banjir di Sungai Wolowona, Nangaba dan Kaliputih : a) Masyarakat berpersepsi bahwa masalah pengelolaan sungai didaerah Aliran Sungai (DAS) merupakan tugas pemerintah. Masyarakat berpersepsi bahwa masalah penanggulangan banjir merupakan tugas pemerintah. b) Persepsi masyarakat bahwa peran antropogenik atau aktifitas mereka tidak terlalu berdampak dalam masalah bencana banjir. c) Partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana banjir masih dirasakan kurang maksimal, karena persepsi yang keliru dari masyarakat itu sendiri dan kurang adanya koordinasi yang berkesinambungan dari pemerintah. 4.

Upaya Pemerintah dalam penanggulangan masalah bencana banjir adalah : a) Melakukan penyuluhan masalah lingkungan hidup dan akibat kerusakannya yang akan berpotensi menyebabkan bencana banjir melalui instansi teknis, para camat, dan lurah di wilayah Kabupaten Ende. b) Membuat bangunan fisik (bendung, embung, dan bronjong untuk penahan tebing) serta kegiatan normalisasi sungai.

lxxxviii

c) Melakukan kegiatan gerakan reboisasi hutan dan lahan, penghijauan berbasis masyarakat serta kegiatan aksi lainnya.

B. IMPLIKASI 1.

Faktor dominan alamiah yang berpotensi menyebabkan bencana banjir adalah curah hujan

ekstrim, pada musim hujan jika terjadi curah hujan yang tinggi akan

menyebabkan banyaknya air hujan yang jatuh ke tanah sehingga meningkatkan aliran permukaan dan dalam jumlah besar akan berpotensi menyebabkan banjir. 2.

Adanya aktifitas masyarakat membuka lahan untuk kegiatan pertanian atau ladang berpindah akan berpotensi menyebabkan bencana banjir, karena terjadi perubahan tata guna lahan serta berkurangnya vegetasi .

3. Beberapa persepsi keliru dari masyarakat mengenai masalah banjir serta rendahnya partisipasi dari masyarakat itu sendiri akan meningkatkan eksploitasi yang berdampak pada kerusakan lingkungan. 4.

Belum adanya upaya maksimal dan terkoordinasi dengan baik antar instansi pemerintah serta masyarakat mengakibatkan penanggulangan masalah bencana banjir kurang maksimal.

C. SARAN 1.

Kepada pemerintah untuk memberikan pendidikan masyarakat

(public

education) melalui penyuluhan, pendampingan dan pelatihan ketrampilan berwirausaha serta pinjaman modal usaha kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan ketrampilan dan membuka lapangan pekerjaan kepada masyarakat pengambil pasir, batu dan tanah bantaran sungai. 2.

Kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Dinas Pertanian agar

lxxxix

lebih meningkatkan pendampingan kelompok tani yang telah dibentuk dengan tenaga yang sesuai dibidangnya (ahli kehutanan, ahli pertanian) sehingga budidaya lebih memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air. 3.

Melakukan kegiatan penghijauan/reboisasi tanaman keras didaerah hulu sungai, terasering dan perlu diberlakukan pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan sistem bagi hasil akhir (hal ini untuk menekan perusakan hutan oleh masyarakat).

4.

Pembuatan cekdam pada aliran sungai, dam parit pada alur-alur sungai, atau

sumur

resapan/kolam

resapan/parit

resapan

sebagai

upaya

pengendalian aliran permukaan. 5.

Memberlakukan hukum adat bagi masyarakat yang masih memiliki kampung adat dengan menerapkan sanksi bagi masyarakat yang merusak ekosistem DAS.

6.

Pemerintah agar lebih meningkatkan koordinasi dengan seluruh stakeholder yang terlibat dalam menangani mitigasi bencana serta melengkapi rekaman data base sehingga memiliki data-data aktual yang informatif

xc

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra. H.A. 2003. Renungan Banjir. OPINI di Media Indonesia. (19 Februari 2003). www.mediaindo.co.id/cetak /berita.asp?id=2003021900142358. Arifin, S. 2007. Persepsi dan Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Pembangunan Hutan Rakyat dalam Upaya Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Tesis Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Arsyad,S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: UGM Press BAPEDALDA ENDE. 2007. Upaya Penaggulangan, Rehabilitasi/Pemulihan dan antisipasi Bencana Alam. Evaluasi BAPEDALDA Kabupaten Ende, NTT. BPTDAS.IPB. 2002.Pedoman Praktik Konservasi Tanah dan Air. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Surakarta: Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2002. Penyusunan Panduan Mitigasi Rawan Bencana Alam di Indonesia. Pusat Studi Bencana UGM Yogyakarta. Handoko. 1994. Klimatologi Dasar. Jakarta: Pustaka Jaya Indrowuryatno.2000. Evaluasi Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan Hutan Rakyat di Kabupaten Boyolali. Laporan Penelitian: Program Studi Ilmu Lingkungan UNS. Kodatie, R.J. 2003. Pengantar Manajemen Infrastruktur.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lengga, K. W. 2007. Tinjauan Pengaruh Sedimen Angkut yang Dikelola Oleh Penambang Pasir Terhadap Dasar Sungai di Muara Nanganesa, Kabupaten Ende. Fakultas Teknik. Universitas Flores NTT Mulyanto, H.R. 2007. Sungai, Fungsi dan Sifat-sifatnya. Yoyakarta: Graha Ilmu

xci

Nugroho, S.P. 2002. Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Aliran Permukaan, Sedimen dan Unsur Hara. Jurnal sains dan teknologi Indonesia. Website: http://www.iptek.net.id

Satlak PB Kabupaten Ende. 2007. Menghadapi Kemungkinan Bahaya Bencana Banjir Tahun 2007. Rencana Kontinjensi Kabupaten Ende. Prop NTT.

Slamet. 1994. Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi. Surakarta: UNS Press Siswoko. 1985. Pola Pengendalian Banjir pada Sungai. Buletin pengairan 2.1985 Jakarta: Dirjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum Sinaga,

R. 2007. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Menggunakan Pengindraan Jauh Ciliwung Hulu Jawa Barat. Program Pascasarjana. Universita Sebelas Maret Surakarta.

Sosrodarsono, S & K. Takeda. 1978. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT. Pradnya Paramita Sri Harto, 1993. Analisis Hidrologi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Suripin, 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, Andi, Yogyakarta. Tarjono, 1996. Kajian Erosi Permukaan dan Perlakuan Konservasi Tanah di Sub DAS Gobeh Kabupaten Dati II Wonogiri.Tesis. Yogyakarta: Pascasarjana UGM. Wirawan, S. 2002. Psikologi Lingkungan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana. Indonesia.

Peraturan Perundang-undangan UU Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. UU Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.

xcii

Perhitungan Debit Aliran Saat Puncak Banjir

Metode Rasional USSCS (1973) dapat memperkirakan laju aliran permukaan puncak. Analisis DAS lebih cocok menggunakan metode rasional karena simpel dan mudah (Goldman et.al., 1986 dalam Suripin, 2004, hal.79). Qp = 0.002778 x C x I x A .............................................. di mana

A

:

Qp

:

laju per

C

:

koefisie

I

:

intensit

luas DAS (ha).

1. DAS WOLOWONA A = 19103,90281 ha L = 33,38626 m S = 0,075  0 ,87 x L 2 t c =   1000 x S

  

0 , 385

 0 ,87 × 33 ,38626 t c =   1000 × 0 , 075 t c = 2 ,679 jam

2

  

0 , 385

2

R I = 24 24

(2.1)

 24  3    tc  2

148 ,5  24  3 I =   24  2, 679  I = 266 ,89

xciii

Q = 0, 002778 × C × I × A Q = 0, 002778 × 0 ,52 × 266 ,89 × 19103 ,90281 Q = 736 ,529 m 3 / dt

2.

DAS NANGABA A = 7315,72625 ha L = 15,74650 m S = 0,065  0 ,87 x L 2 t c =   1000 x S

  

0 , 385

 0 ,87 × 15 , 74650 t c =   1000 × 0 , 065 t c = 1,587 jam

2

  

0 , 385

2

R I = 24 24

 24  3    tc  2

148 ,5  24  3 I =   24  1,587  I = 37 ,839

Q = 0, 002778 × C × I × A Q = 0, 002778 × 0,52 × 37 ,839 × 7315 ,72625 Q = 399 ,88276 m 3 / dt

3. DAS KALI PUTIH A = 3337,09775 ha L = 4,79704 m S = 0,045  0 ,87 x L 2 t c =   1000 x S

  

0 , 385

 0 ,87 × 4 , 79704 t c =   1000 × 0 ,045 t c = 0 ,732 jam

2

  

0 , 385

xciv

2

R I = 24 24

 24  3    tc  2

148 ,5  24  3 I =   24  0, 732  I = 63 ,384

Q = 0, 002778 × C × I × A Q = 0, 002778 × 0,52 × 63 ,384 × 3337 ,09775 Q = 305 ,551 m 3 / dt

xcv

xcvi

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.