EKSTRAKSI OLEORESIN JAHE

March 3, 2016 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh dalam penyembuhan berbagai p...

Description

EKSTRAKSI OLEORESIN JAHE (Zingiber officinale, Rosc.) DENGAN METODE EKSTRAKSI SOKLETASI (Kajian Rasio Bahan Dengan Pelarut Dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Yang Paling Efisien)

JURNAL INDUSTRIA

Oleh: ARIF WAHYU PRASETIYO NIM 0811030086

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2015

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) Dengan Metode Ekstraksi Sokletasi (Kajian Rasio Bahan Dengan Pelarut Dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Yang Paling Efisien) Extraction of Ginger Oleoresin (Zingiber officinale, Rosc.) Using a Soxhlet Extraction Method (Study of Ratio Materials With Solvent and The Amount of The CirculationExtraction That Most Efficient) Arif Wahyu Prasetiyo1, Dr. Ir. Wignyanto, MS.2, Arie Febrianto Mulyadi, STP, MP. 2 1) Alumni Jur. Tek. Industri Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian, Univ. Brawijaya 2) Dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian, Univ. Brawijaya Email : [email protected] ABSTRAK Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh dalam penyembuhan berbagai penyakit. Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi. Permasalahan metode ini adalah diperlukan pelarut yang banyak dan waktu yang cukup lama untuk dapat mengekstraksi bahan baku. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka digunakan metode ekstraksi sokletasi dengan kombinasi perlakuan rasio bahan dengan pelarut dan jumlah sirkulasi ekstraksi agar dapat menghasilkan oleoresin yang paling efisien. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I adalah rasio bahan (g) dengan pelarut (ml) terdiri atas 3 level yaitu 1:20; 1:25; 1:30 dan faktor II adalah jumlah sirkulasi proses ekstraksi terdiri atas 3 level yaitu 6, 7, dan 8 kali sirkulasi dengan 3 kali ulangan. Dari hasil penelitian dilakukan pengumpulan data yang meliputi rendemen, indeks bias minyak, perhitungan efisiensi penggunaan pelarut dan pemilihan perlakuan terbaik menggunakan metode Multiple Attribute yang hasilnya dianalisa warna menggunakan colour reader. Perlakuan terbaik ekstraksi oleoresin jahe dengan menggunakan metode sokletasi yang paling efisien yaitu pada perlakuan perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 ( b/v) dengan 8 kali sirkulasi yang menghasilkan rerata rendemen oleoresin jahe sebesar 7,77% dan nilai rerata efisiensi sebesar 97,11%. Nilai indeks bias yang didapatkan yaitu 1,503 dan warna dari oleoresin jahe yang dihasilkan yaitu gelap dan pekat (coklat tua) berdasarkan tingkat kecerahan (L*) 26,14; tingkat kemerahan (a+) 12,18; dan tingkat kekuningan (b+) 13,11. Kata kunci : jahe, oleoresin, ekstraksi sokletasi. ABSTRACT Ginger (Zingiber officinale Rosc.,) has a content of essential oil and oleoresin which is powerful in healing various diseases. A commonly used method of extraction is a method of maceration. The problem of this method is that it takes a lot of time and solvent long enough to be able to extract raw materials. To resolve the issue, then the sokletasi method of extraction is used with combination treatment the ratio of ingredients with the solvent and the amount of the circulation of the extraction of oleoresin in order to provide the most efficient. Research methods used are experimental completely randomized design (RAK) with two factors. Factor I is the ratio of materials with solvent consists of 3 levels 1:20; 1:25; 1:30 and factor II is the amount of circulation of the extraction process consists of 3 levels 6, 7, and 8 times circulation by 3 repetitions. the results of research carried out data collection which includes the yield, index of refraction, the calculation of the efficiency of the use of solvents and selection of the best treatment using Multiple Attribute method and results were color analyzed using colour reader. The best treatment was extraction of ginger oleoresin that most b efficient by using Soxhlet extraction is the ratio of materials with solvent 1:20 ( /v) with 8 times circulation which produced of average ginger oleoresin yield 7,77% and the value of average efficiency amounted 97,11%. Refractive index values are obtained 1,503 and the color of ginger oleoresin produced that is dark and gloomy (dark brown) based on brightness level (L*) 26,14; levels of redness (a+) 12,18; and the level of yellowish (b+) 13,11. Key words: ginger, oleoresin, soxhlet extraction PENDAHULUAN Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) termasuk famili Zingiberaceae yang dapat tumbuh di daerah

tropis dan sub tropis. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, jahe berkhasiat sebagai obat dan mampu

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe memperkuat khasiat obat lain yang dicampurkannya. Ada tiga jenis varian jahe di Indonesia, yaitu jahe gajah (Zingiber officinale var officinarum), jahe emprit (Zingiber officinale var amarum), dan jahe merah (Zingiber officinale var rubrum). Salah satu jenis jahe yang dimanfaatkan sebagai obat-obatan yaitu jahe emprit. Hal ini dikarenakan rimpang jahe emprit berserat lembut, beraroma tajam, dan berasa pedas meskipun ukuran rimpangnya kecil tetapi memiliki kandungan gizi cukup tinggi (Rukmana, 2000). Jahe memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh dalam penyembuhan berbagai penyakit. Menurut Tama dan Mulyadi (2014), solusi mendapatkan kandungan tersebut adalah dengan melakukan ekstraksi. Oleoresin jahe mempunyai keunggulan dibandingkan dengan produk olahan yang lain dari jahe yaitu mempunyai keseragaman aroma dan tidak mengandung mikroba sehingga lebih awet (Paimin dan Murhananto, 2008). Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan bahan. Proses ekstraksi memiliki dua perbedaan kelarutan bahan (Berk, 2009). Ekstrak disaring dengan kain saring agar terpisah antara ampas dengan filtratnya (Anditasari dkk, 2014). Menurut Rahayu (2009), ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain. Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi. Metode tersebut sering digunakan karena prosedur dan peralatannya sederhana. Tapi permasalahan pada ekstraksi oleoresin jahe dengan metode ini adalah diperlukan pelarut yang banyak dan waktu yang cukup lama untuk dapat mengekstraksi bahan baku (Simanjuntak, 2008). Metode ekstraksi sokletasi adalah metode ekstraksi lebih lanjut yang dapat menyempurnakan kelemahan dari metode ekstraksi maserasi dan perkolasi. Menurut Sirait (2008), menyatakan bahwa keunggulan ekstraksi sokletasi yaitu menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Irianty dkk, (2012) menambahkan, proses ekstraksi dipengaruhi oleh suhu, ukuran partikel, jenis pelarut, waktu ekstraksi, dan metode ekstraksi. Metode ekstraksi sokletasi merupakan suatu metode dengan pemanasan, pelarut yang digunakan akan mengalami sirkulasi, dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi sokletasi memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi.

BAHAN DAN METODE Bahan baku yang digunakan dalam ekstraksi oleoresin jahe adalah jahe empritdan bahan pembantu adalah etanol 96% digunakan sebagai pelarut, serta aquades. Alat yang digunakan untuk mengekstrak oleoresin adalah grinder, toples, pengayak 40 mesh, timbangan digital, penangas panas, saringan, compressorerlenmeyer, rotary vacuum evaporator, gelas ukur, pipet tetes, alat sokletasi, timer. Sedangkan alat yang digunakan untuk analisa adalah timbangan digital, colour reader, refraktometer, labu volumetric 100ml, cawan Conway, labu takar 10ml. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I adalah rasio bahan (g) dengan pelarut (ml) (P) terdiri atas 3 level yaitu P1 : 1:20; P2 : 1:25 dan P3 : 1:30. Faktor II adalah jumlah sirkulasi proses ekstraksi (T) terdiri atas 3 level yaitu T1 : 6 kali; T2 : 7 kali dan T3 : 8 kali sirkulasi dengan 3 kali ulangan sehingga didapatkan 27 perlakuan. Prosedur penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Jahe emprit dikupas untuk dipisahkan dari kulitnya. 2. Jahe yang telah dikupas dicuci bersih, kemudian dilanjutkan dilakukan pengeringan bahan. 3. Jahe kering dikecilkan ukurannya dengan digrinder kemudian diayak dengan ukuran 40 mesh. 4. Jahe emprit bubuk ditimbang sebanyak 10 gram. 5. Pembungkusan bahan dengan kertas saring. 6. Ekstraksi soklet sesuai perlakuan : a. P1T1 (rasio bahan dengan pelarut b 1:20 ( /v); sampai 6 kali siklus) b. P1T2 (rasio bahan dengan pelarut b 1:20 ( /v); sampai 7 kali siklus); c. P1T3 (rasio bahan dengan pelarut b 1:20 ( /v); sampai 8 kali siklus); d. P2T1 (rasio bahan dengan pelarut b 1:25 ( /v); sampai 6 kali siklus); e. P2T2 (rasio bahan dengan pelarut 1:25 (b/v); sampai 7 kali siklus); f. P2T3 (rasio bahan dengan pelarut b 1:25 ( /v); sampai 8 kali siklus) g. P3T1 (rasio bahan dengan pelarut 1:30 (b/v); sampai 6 kali siklus) h. P3T2 (rasio bahan dengan pelarut 1:30 (b/v); sampai 7 kali siklus) i. P3T3 (rasio bahan dengan pelarut b 1:30 ( /v); sampai 8 kali siklus)

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe

HASIL DAN PEMBAHASAN Rendemen Rendemen oleoresin didapatkan dari presentase perbandingan hasil oleoresin yang didapat dengan jahe yang digunakan.Pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa rerata rendemen ekstraksi oleoresin jahe berkisar antara 5,33% - 7,77%. Hasil ekstraksi sokletasi oleoresin jahe emprit dengan perlakuan rasio bahan dengan pelarut dan jumlah sirkulasi proses ekstraksi diperoleh nilai rendemen terendah sebesar 5,33% pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:30 (b/v) dengan 6 kali sirkulasi proses sokletasi dan nilai rendemen tertinggi sebesar 7,77% pada b perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 ( /v) dengan 8 kali sirkulasi proses sokletasi. Berdasarkan analisa ragam rerata rendemen (Lampiran 2) diketahui bahwa terdapat perbedaan nyata antara rasio bahan dengan pelarut, jumlah sirkulasi ekstraksi, dan interaksi antar keduanya.

Tabel 1.

Rerata Rendemen Oleoresin Pada Berbagai Rasio Bahan Dengan Pelarut dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Perlakuan Rasio Rerata Notasi bahan Jumlah Rendemen ) * Kombinasi dengan sirkulasi (%) pelarut ekstraksi b ( /v) P1T1 1:20 6 kali 6,54 cd P1T2 1:20 7 kali 7,75 e P1T3 1:20 8 kali 7,77 e P2T1 1:25 6 kali 5,91 b P2T2 1:25 7 kali 6,18 bc P2T3 1:25 8 kali 6,61 d P3T1 1:30 6 kali 5,33 a P3T2 1:30 7 kali 6,08 bc P3T3 1:30 8 kali 6,38 c ) * Keterangan : Rerata yang didampingi oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (α=0,05) Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa rerata rendemen tertinggi dihasilkan dari rasio bahan dengan pelarut terendah. Pada masingmasing perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v), 1:25 (b/v) dan 1:30 (b/v) terjadi peningkatan rerata rendemen seiring bertambahnya jumlah sirkulasi dari 6 kali hingga 8 kali sirkulasi proses sokletasi. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah sirkulasi ekstraksi juga mempengaruhi rendemen yang didapat, semakin banyak jumlah sirkulasi pada ekstraksi sokletasi maka semakin banyak rendemen yang diperoleh. Diduga hal ini disebabkan semakin banyak terjadinya siklus maka proses pemisahan akan maksimal, tetapi pada saat mencapai siklus tertentu rendemen mulai turun. Menurut Daryono (2009), pada suhu 60o C rendemen mulai turun pada waktu ekstraksi 2 jam (mencapai 7-8 siklus).

Rerata Rendemen Oleoresin (%)

Filtrat diuapkan dengan rotary vacuum evaporator pada suhu 60o C dengan tekanan 200 mmHg sampai pelarut menguap. 8. Oleoresin jahe yang terbentuk dianalisa. Dari penelitian yang telah dilakukan kemudian dilakukan pengumpulan data yang meliputi rendemen (Eswanto, 2002), indeks bias minyakmenggunakan refraktometer (Hidayanto dkk, 2008),perhitungan efisiensi penggunaan pelarut dan pemilihan perlakuan terbaik menggunakan metode Multiple Attribute (Zeleny, 1982) yang hasilnya dianalisa warna menggunakan colour reader (Saati, 2004). Pengolahan data menggunakan analisis ragam (ANOVA) selang kepercayaan 95%. Analisis ini untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan dan interaksi antar kedua faktor. Jika ada perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji BNT 5% dan jika ada interaksi maka dilakukan uji DMRT 5%. 7.

10

7,77

87,75

6,61 6,18

6 6,54 4

6,38 6,08

5,91

6 siklus 5,33

2

7 siklus 8 siklus

0 1:20

1:25

1:30

Rasio bahan dengan pelarut (b/v)

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe Gambar 1. Grafik Hubungan Rerata Rendemen, Rasio Bahan Dengan Pelarut, dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Dari Gambar 1 dapat diketahui bahwa semakin tinggi rasio bahan dengan pelarut maka terjadi penurunan rerata rendemen dan semakin lama jumlah sirkulasi proses ekstraksi, maka semakin besar rendemen yang dihasilkan. Dilihat dari hasil tersebut, semakin banyak rasio bahan dengan pelarut belum tentu menghasilkan rendemen yang tinggi dalam siklus yang telah ditetapkan, yaitu 6 sampai 8 siklus proses ekstraksi. Tetapi, pelarut dalam jumlah tertentu akan dapat melarutkan bahan secara optimal dengan siklus yang telah ditentukan. Peningkatan rerata rendemen tertinggi terjadi pada saat rasio b bahan dengan pelarut 1:20 ( /v) dengan 6 kali sirkulasi yaitu sebesar 6,54% rasio bahan dengan b pelarut 1:20 ( /v) dengan 7 kali sirkulasi yaitu sebesar 7,75%. Kemudian pada saat rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 7 kali sirkulasi menuju 8 kali sirkulasi peningkatan rerata rendemen tidak terlalu signifikan. Untuk rasio bahan dengan pelarut 1:25 (b/v) dan rasio bahan dengan pelarut 1:30 juga terjadi peningkatan rerata rendemen yang stabil dan tidak terdapat peningkatan yang terlalu signifikan mulai dari 6 siklus sampai 8 siklus. Akan tetapi, ditinjau dari nilai rerata rendemen yang dihasilkan masih lebih rendah dibandingkan dengan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v). Diduga banyaknya pelarut mempengaruhi luas kontak padatan dengan pelarut, pada jumlah pelarut tertentu distribusi pelarut ke padatan akan optimal. Menurut Jayanudin dkk. (2014), meratanya distribusi pelarut ke padatan akan memperbesar rendemen yang dihasilkan, banyaknya pelarut menentukan tingkat kejenuhan pelarut, sehingga komponen dalam jahe akan terekstrak secara sempurna pada jumlah pelarut tertentu. Wuryantoro (2013) juga menjelaskan bahwa rasio bahan dengan pelarut berpengaruh terhadap efisiensi ekstraksi, tetapi jumlah berlebihan tidak akan mengekstrak lebih banyak, dalam jumlah tertentu pelarut dapat bekerja optimal. Indeks Bias Berdasarkan hasil analisa ragam rerata nilai indeks bias oleoresin jahe diketahui bahwa terdapat perbedaan nyata antara rasio bahan dengan pelarut, jumlah sirkulas iekstraksi, dan interaksi antar keduanya. Karena interaksi keduanya nyata maka faktor-faktor terikat satu sama lain. Perhitungan analisa ragam untuk indeks bias oleoresin jahe dapat dilihat pada Lampiran 3. Rerata indeks bias oleoresin jahe berdasarkan

rasio bahan dengan pelarut dan jumlah sirkulasi ekstraksi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rerata Nilai Indeks Bias Oleoresin Pada Berbagai Rasio BahanDengan Pelarut dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Perlakuan Rasio Rerata Notasi bahan Jumlah Indeks *) Kombinasi dengan sirkulasi Bias pelarut ekstraksi b ( /v) P1T1 1:20 6 kali 1,526 c P1T2 1:20 7 kali 1,496 a P1T3 1:20 8 kali 1,503 b P2T1 1:25 6 kali 1,491 a P2T2 1:25 7 kali 1,487 a P2T3 1:25 8 kali 1,492 a P3T1 1:30 6 kali 1,490 a P3T2 1:30 7 kali 1,485 a P3T3 1:30 8 kali 1,491 a *) Keterangan : Rerata yang didampingi oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (α=0,05) Indeks bias dari suatu bahan atau larutan merupakan parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi dan komposisi larutan, untuk menentukan kemurnian dan kadaluarsa dari bahan (Yunus et al., 2009). Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rerata nilai indeks bias oleoresin jahe berkisar antara 1,485 – 1,526. Nilai rerata indeks bias oleoresin jahe yang terendah dihasilkan pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:30 (b/v) dengan 7 kali sirkulasi proses sokletasi sebesar 1,485. Nilai rerata indeks bias oleoresin jahe yang tertinggi dihasilkan pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 6 kali sirkulasi proses sokletasi sebesar 1,526. Menurut Armando (2009), nilai indeks bias dipengaruhi oleh kekuatan dan kerapatan minyak, semakin tinggi kerapatan minyak, maka nilai indeks bias minyak tersebut semakin tinggi. Oleh karena itu, indeks bias merupakan kriteria yang penting untuk mengetahui baku mutu dan tingkat kemurnian bahan tersebut. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa perbandingan nilai indeks bias seluruh perlakuan tidak terlalu signifikan kecuali pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 6 kali sirkulasi proses sokletasi menghasilkan nilai indeks bias tertinggi sebesar 1,526 dan kemudian turun menjadi 1,503 pada rasio bahan dengan pelarut b 1:20 ( /v) dengan 8 kali sirkulasi proses sokletasi. Perubahan nilai indeks bias oleoresin jahe dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe

Rerata Indeks Bias

1,53 1,52 1,51

1,503 1,492

1,5 1,49 1,48

Tabel 3. Rerata Efisiensi Penggunaan Pelarut Oleoresin Jahe

1,526

1,491

1,496

1,47

1,491

1,487

1,485

1:25

1:30

1,490

6 siklus 7 siklus 8 siklus

Kombinasi

1,46 1:20

Rasio bahan dengan pelarut (b/v)

Gambar 2. Grafik Hubungan Rerata Rendemen, Rasio Bahan Dengan Pelarut, dan Jumlah Sirkulasi Ekstraksi Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa seiring bertambahnya rasio bahan dengan pelarut pada masing-masing sirkulasi maka rerata indeks bias semakin menurun. Akan tetapi perbandingan nilai indeks bias antara sirkulasi yang dihasilkan tidak menentu pada rasio bahan dengan pelarut 1:25 (b/v) dan 1:30 (b/v). Pada saat 6 kali sirkulasi mencapai 7 kali sirkulasi terjadi penurunan, kemudian meningkat kembali pada saat mencapai 8 kali sirkulasi. Menurut Arpi, dkk. (2013), pada proses penguapan, semakin sedikit pelarut etanol yang teruapkan, sisa pelarut pada oleoresin semakin tinggi dan menyebabkan nilai indeks bias oleoresin lebih rendah. Menurut EOA (2000), nilai indeks bias oleoresin jahe berkisar antara 1,488 – 1,497. Nilai indeks bias ini diduga dipengaruhi oleh adanya sisa pelarut pada oleoresin jahe hasil ekstraksi. Perhitungan Efisiensi Ekstraksi Oleoresin Jahe Dari hasil penelitian diketahu rerata efisiensi perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:30 (b/v) dengan 6 kali sirkulasi diperoleh nilai efisiensi pelarut terendah yaitu 48,82%. Sedangkan pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi diperoleh nilai efisiensi tertinggi yaitu 97,11%. Efisiensi pada proses ekstraksi oleoresin jahe adalah seberapa banyak oleoresin yang didapat dari proses dalam mengesktraksi oleoresin yang ada pada bahan baku dengan seberapa banyak pelarut yang digunakan untuk mendapatkan hasil oleoresin jahe. Menurut Syamsi (2004), proses peningkatan efisiensi merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil (output) atau menurunkan nilai input sebelumnya. Perhitungan efisiensi berdasarkan pelarut terpakai dapat dilihat pada Lampiran 4.

P1T1 P1T2 P1T3 P2T1 P2T2 P2T3 P3T1 P3T2 P3T3

Perlakuan Rasio bahan Jumlah dengan sirkulasi pelarut ekstraksi b ( /v) 1:20 6 kali 1:20 7 kali 1:20 8 kali 1:25 6 kali 1:25 7 kali 1:25 8 kali 1:30 6 kali 1:30 7 kali 1:30 8 kali

Rerata Efisiensi (%) 83,33 96,43 97,11 62,79 61,72 61,45 48,82 54,00 54,54

Dari Tabel 3 diketahui bahwa rerata efisiensi yang didapat cenderung meningkat pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 ( b/v) dan 1:30 (b/v) seiring dengan meningkatnya jumlah sirkulasi pada masing-masing perlakuan. Sebaliknya, pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:25 (b/v) rerata efisiensi cenderung menurun seiring dengan peningkatan jumlah sirkulasinya. Hal ini terjadi diduga karena pelarut terpakai semakin banyak sedangkan hasil oleoresin (output) yang didapat semakin menurun. Wuryantoro (2013) menjelaskan bahwa jumlah pelarut berpengaruh terhadap efisiensi ekstraksi, tetapi jumlah berlebihan tidak akan mengekstrak lebih banyak, dalam jumlah tertentu pelarut dapat bekerja optimal. Pada perhitungan efisiensi proses ekstraksi oleoresin jahe ini, selain rendemen yang dihasilkan, pelarut terpakai menjadi salah satu faktor (input) yang menentukan nilai efisiensi masing-masing perlakuan. Dan dilihat dari hasil perhitungan pada masing-masing perlakuan, b perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 ( /v) dengan 7 kali sirkulasi dan perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi menunjukkan perlakuan yang memiliki nilai efisiensi yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pelarut (input) yang lebih sedikit dapat menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Pemilihan Perlakuan Terbaik dengan Metode Multiple Attribute Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan memberikan nilai ideal pada setiap parameter yang diuji berdasarkan analisis Multiple Attribute (Zeleny, 1982). Analisis ini dilakukan

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe setelah dilakukan analisis pemilihan perlakuan terbaik secara kuantitatif. Pemilihan perlakuan terbaik secara kuantitatif yaitu menentukan perlakuan terbaik dengan melihat data rerata tertinggi atau terendah pada masing-masing parameter sesuai dengan nilai yang diharapkan. Pada penelitian ini semua parameter (rendemen, efisiensi penggunaan pelarut) memiliki nilai ideal yang berbeda, karena itu dilakukan pemilihan perlakuan terbaik dengan cara analisis Multiple Attribute. Dimana perlakuan dengan nilai jarak kerapatan terkecil pada nilai L1, L2 dan L~ merupakan perlakuan terbaik. Pemilihan perlakuan terbaik oleoresin jahe yaitu dengan menghitung jarak kerapatan berdasarkan nilai ideal masing-masing parameter. Nilai ideal untuk setiap parameter yaitu rendemen tertinggi dan efisiensi penggunaan pelarut tertinggi. Sesuai tabel berikut ini : Tabel 4. Parameter terbaik oleoresin jahe yang diharapkan Parameter Rendemen Efisiensi Penggunaan Pelarut

Nilai yang diharapkan Tertinggi Tertinggi

Berdasarkan hasil perhitungan Multiple Attribute pada Lampiran 5, perlakuan terbaik diperoleh pada oleoresin jahe pada perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi. Hasil yang didapat pada perlakuan tersebut dianggap paling baik daripada perlakuan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai L1, L2 dan L~ yang terkecil setiap parameter yang disajikan pada Lampiran 5. Hasil perhitungan nilai L1, L2 dan L~ pada setiap parameter digunakan untuk menentukan perlakuan terbaik. Perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi ekstraksi merupakan perlakuan terbaik karena nilai L1, L2 dan L~ yang dihasilkan adalah nilai terkecil dari perhitungan. Warna Oleoresin Perlakuan Terbaik Warna diasosiasikan sebagai faktor yang menggambarkan tingkat kesegaran, kematangan, daya beli dan keamanan dari suatu produk. Perlakuan terbaik oleoresin jahe rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi proses sokletasi diuji warna dengan colour reader untuk mengetahui sumber keberadaan komponen pigmen yang dikandung pada oleoresin jahe. Hasil pengukuran warna dengan colour reader didapatkan nilai yang menunjukkan tingkat kecerahan oleoresin jahe, nilai a* menunjukkan

warna merah (a+) dan warna hijau (a-), serta b* menunjukkan warna kuning (b+) dan warna biru (b-). Pengukuran intensitas warna dengan colour reader dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil pengukuran warna oleoresin jahe emprit dengan colour reader Pengukuran L* a* b*

Perlakuan Terbaik (P1T3) 26,14 +12,18 +13,11

Dari hasil penelitian nilai L* (tingkat kecerahan) oleoresin jahe diperoleh nilai 26,14. Nilai L* menyatakan tingkat gelap terang dengan kisaran 0-100 dimana nilai 0 menyatakan kecenderungan warna hitam atau sangat gelap, sedangkan nilai 100 menyatakan kecenderungan warna terang atau putih. Nilai a, semakin tinggi hasil pembacaan colour reader berarti warna semakin merah, sebaliknya semakin rendah hasil pembacaan berarti warna semakin pucat. Nilai b, semakin tinggi hasil pengukuran menunjukkan warna semakin kuning, sebaliknya semakin rendah hasil pengukuran menunjukkan warna kuning semakin berkurang. Nilai kecerahan oleoresin jahe memiliki nilai yang sangat rendah, hal ini dapat dilihat dari warna oleoresin jahe berwarna coklat tua. Menurut Ibrahim, dkk. (2014), Intensitas kecerahan pada oleoresin jahe cenderung mengalami penurunan (gelap) seiring dengan naiknya lama sirkulasi ekstraksi. Hal tersebut karena suhu ekstraksi dan lama pemanasan menyebabkan laju ekstraksi semakin tinggi. Tingginya laju ekstraksi ini diduga menyebabkan tingkat kecerahan warna oleoresin jahe menjadi lebih gelap dan pekat (cokelat tua). Warna yang dihasilkan oleoresin jahe tidak hanya diperoleh dari satu warna, tetapi dari penggabungan beberapa warna. Pada pengukuran dengan colour reader, diperoleh juga nilai indikator a* dan b* yang mempengaruhi warna oleoresin jahe tersebut. Berdasarkan pengukuran, hasil nilai a* (tingkat kemerahan) oleoresin jahe bernilai positif yaitu +12,18 menunjukkan bahwa warna cokelat tua oleoresin jahe juga mengandung warna merah. Hasil nilai b* (tingkat kekuningan) bernilai positif yaitu +13,11 menunjukkan bahwa warna cokelat tua oleoresin jahe juga mengandung warna kuning. Oleoresin yang diduga menyebabkan warna kemerahan dan kekuningan pada ekstrak jahe merupakan salah satu komponen yang tidak mudah menguap. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak mudah

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe menguap. Komponen oleoresin jahe terdiri atas gingerol, zingiberen, shaogol, minyak atsiri dan resin (Ibrahim dkk, 2014). KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik ekstraksi oleoresin jahe dengan menggunakan metode sokletasi yang paling baik yaitu pada perlakuan perlakuan rasio bahan dengan pelarut b 1:20 ( /v) dengan 8 kali sirkulasi yang menghasilkan rerata rendemen oleoresin jahe sebesar 7,77% dan nilai rerata efisiensi sebesar 97,11%. Nilai indeks bias yang didapatkan yaitu 1,503 dan warna dari oleoresin jahe yang dihasilkan yaitu gelap dan pekat (coklat tua) berdasarkan tingkat kecerahan (L*) 26,14; tingkat kemerahan (a+) 12,18; dan tingkat kekuningan (b+) 13,11. SARAN Melihat hasil penelitian ini, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisa komponen penting pada oleoresin jahe dan mengenai metode perlakuan lanjutan pemurnian oleoresin jahe dari etanol hingga oleoresin jahe tersebut siap pakai. DAFTAR PUSTAKA Alvicha, D. P. 2014. Pengaruh Metode Ekstraksi Dan Konsentrasi Terhadap Aktivitas Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum). Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Anditasari, D. A., Kumalaningsih, S., dan Mulyadi, A. F. 2014. Potensi Daun Suji (Pleomele angustifolia) Sebagai Serbuk Pewarna Alami (Kajian Konsentrasi Dekstrin Dan Putih Telur Terhadap Karakteristik Serbuk). Seminar Nasional BKS PTN

Barat. Lampung. Arpi, N., Satriana, Rezekiah, K. 2013. Ekstraksi Oleoresin dari Limbah Penyulingan Pala Menggunakan Ultrasonik. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan. 9(4) : 180-187. Berk, Z. 2009. Food ProcessEngineeringand Technology. ElsevierInc. New York. Daryono, E. D. 2009. Ekstraksi Oleoresin dari Jahe dengan Variasi Jenis dan Konsentrasi Pelarut. Institut Teknologi Nasional Malang. Jurnal Kimia. 3(3) : 271-284.

Eswanto, A. H. 2002. Pendekatan Metode Permukaan Respon untuk Optimalisasi Rendemen Oleorein dari Ekstraksi Jahe Emprit (Zingiber officinale, Rosc). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang. Hidayanto, E., Rofiq Abdul., Sugito, H. 2008. Aplikasi Portable Brix Meter untuk Pengukuran Indeks Bias. Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal Fisika. 13(4) : 113-118. Ibrahim, A. M., Yunianta, Sriherfyna, F. H. 2014. Pengaruh Suhu Dan Lama Waktu Ekstraksi Terhadap Sifat Kimia dan Fisik Pada Pembuatan Minuman Sari Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum) Dengan Kombinasi Penambahan Madu Sebagai Pemanis. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(2) : 530-541. Irianty, Rozanna Sri., Verawati, Riris. 2012. Variasi Komposisi Pelarut Metanol-Air pada Ekstraksi Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb). Prosiding SNTK. ISSN. 1907-0500. Jayanudin, Lestari, A. Z., Nurbayanti F. 2014. Pengaruh Suhu Dan Rasio Pelarut Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Viskositas Natrium Alginat Dari Rumput Laut Cokelat (Sargassum sp). Jurnal Integrasi Proses. 5(1) : 51-55. Paimin, F. B., Murhananto, 2008 . Seri Agribisnis Budi Daya Pengolahan, Perdagangan Jahe. Cetakan XVII. Penebar Swadaya. Jakarta : 7-8. Rahayu, S. 2009. Ekstraksi. http://www.chem-istry.org. Tanggal akses 15 Januari 2015. Rukmana, R. 2000. Usaha Tani Jahe. Cetakan ke-8. Penerbit Kanisius. Yogyakarta : 12-16. Saati, E. A. 2004. Studi Efektifitas Ekstrak Pigmen Antosianin Bunga Mawar Terhadap Sumbangan Warna dan Daya Antioksidan Pada Produk Makanan. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertatanian. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Malang. Simanjuntak, M. 2008. Ekstraksi dan Fraksinasi Komponen Ekstrak Daun Tumbuhan Senduduk (Melastoma malabathricum.

Jurnal Industria 2015 Ekstraksi Oleoresin Jahe L) serta Pengujian Efek Sediaan Krim Terhadap Penyembuhan Luka Bakar. Skripsi.Universitas Sumatera Utara. Medan. USU Repository. Sirait, D. 2008. Penentuan Kadar Lemak dalam Margarin dengan Metode Ekstraksi Sokletasi. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan. USU Repository. Syamsi, I. 2004. Efisiensi, Sistem, dan Prosedur Kerja. Bumi Aksara. Jakarta. Tama, J. B., dan Mulyadi, A. F. 2014. Studi Pembuatan Bubuk Pewarna Alami Dari Daun Suji (Pleomele angustifolia ne br.). Kajian konsentrasi maltodekstrin dan MgCO3. Jurnal Industria, 3(2). Wuryantoro, H. dan Susanto, W. H. 2013. Penyusunan Standard Operating Procedures Industri Rumah Tangga Pangan Pemanis Alami Instan Sari Stevia (Stevia rebaudia). Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2(3) : 76-87. Yunus, W. M.M., Y.W. Fen dan L.M. Yee. 2009. Refractive Index and Fourier Transform Infrared Spectra of Virgin Coconut Oil and Virgin Olive Oil. American Journal of Applied Sciences. 6(2) : 328-331. Zeleny, M. 1982. Multiple Criteria Decision Making. McGraw-Hill. New York.

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.