Laporan Resmi Praktikum Ekstraksi

January 20, 2016 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi IodA. JUDUL PERCOBAAN : Koefisien Distribusi iod (Ekstraksi) B. ...

Description

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

A. JUDUL PERCOBAAN

: Koefisien Distribusi iod (Ekstraksi)

B. TANGGAL PERCOBAAN

: Selasa,25 Februari 2014

C. SELESAI PERCOBAAN

: Selasa,25 Februari 2014

D. TUJUAN

: 1. Mengekstraksi iodium ke dalam pelarut organik. 2. Menghitung Koefisien distribusi (KD) iodium.

E. DASAR TEORI

:

Jenis metode pemisahan ada berbagai macam,diantaranya adalah ekstraksi pelarut atau ekstraksi air.Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut.Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur,seperti benzene,karbon tetraklorida atau kloroform dengan batasan zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut.Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Pada proses ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap seperti : mencanpur bahan ekstraksi dengan pelarut dan membiarkannya saling kontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada bidang antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut.Selain untuk kepentingan analisis kimia,ekstraksi juga digunakan untuk pekerjaan preparative dalam bidang kimia organic,biokimia,dan anorganik di laboratorium.Alat yang digunakan dapat berupa corong pemisah (paling sederhana) sampai alat ekstraksi soxhlet(paling rumit)berupa “Counter Corrent Craig”. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut dalam proses ekstraksi : 1. Kelarutan Pelarut hendaknya memilikinya kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). 2. Kerapatan Untuk ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fasa dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengan gaya berat). 3. Selektivitas 1

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Pada ekstraksi bahanbahan alami, sering terjadi bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar, larutan ekstrak tersebut harus dibersihkan, misalnya diekstrak lagi dengan menggunakan pelarut kedua. 4. Kemampuan tidak saling tercampur Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi. 5. Reaktivitas Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen-komponen bahan ekstraksi. Seringkali ekstraksi juga disertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada dalam bentuk larutan. 6. Titik didih Pemisahan ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat dan keduanya tidak membentuk aseotrop. Setiap proses ekstraksi harus dicari pelarut yang paling sesuai. Beberapa pelarut yang penting adalah air, asam-asam organik dan anorganik, hidrokarbon jenuh, toluene, karbon disulfit, eter, aseton, hidrokarbon yang mengandung klor, isopropanol, etanol. Dengan satu tahap ekstraksi tunggal, yaitu mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut satu kali, umumnya tidak seluruh ekstrak terlarutkan. Hal ini disebabkan adanya kesetimbangan antara ekstrak yang terlarut dan ekstrak yang masih tertinggal dalam bahan ekstraksi (hukum distribusi). Pelarutan lebih lanjut hanya mungkin dengan cara memisahkan larutan ekstrak dari bahan ekstraksi dan mencampur bahan ekstraksi tersebut dengan pelarut baru. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga derajat ekstraksi yang diharapkan tercapai. Koefisien Distribusi (KD) Menurut hokum distribusi Nerst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling tercampur dimasukkan solute yang dapat larut ke dalam kedua pelarut tersebut, maka akan terjadi pembagian solute dengan perbandingan tertentu. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Perbandingan konsentrasi solute di dalam kedua pelarut tersebuttetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi.Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut : atau

2

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Keterangan :

KD = koefisien distribusi C1 = konsentrasi solute pada pelarut 1 C2 = konsentrasi solute pada pelarut 2 Co = konsentrasi solute pada pelarut organik Ca = konsentrasi solute pada pelarut air Jika harga KD besar, solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebih banyak ke dalam pelarut organic. Jika harga KD kecil, solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebih sedikit ke dalam pelarut organic. Besarnya KD yang dihitung berdasarkan persamaan (1) hanya berlaku bila : 1. Solut tidak terionisasi dalam satu pelarut. 2. Solute tidak berasosiasi dalam salah satu pelarut. 3. zat terlarut tidak bereaksi dengan salah satu pelarut atau reaksi-reaksi lain. Angka Banding Distribusi (D) Jika solute terionisasi, berasosiasi dan bereaksi dengan salah satu pelarut maka kondisi demikian harga KD tidak dapat lagi menggambarkan distribusi solute diantara kedua fasa pelarut. Karena solute tidak berada dalam rumus molekul yang sama didalam kedua fasa pelarut. Oleh karena itu, perlu didefnisikan suatu besaran baru, yang dinamakan angka banding distribusi (D). Angka banding distribusi menyatakan perbandingan konsentrasi total zat terlarut dalam pelarut organic (fasa organic) dan pelarut air (fasa air). Jika zat terlarut itu adalah senyawa (X), maka rumus angka banding distribusi dapat ditulis :

Pada kondisi ideal dan tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerasi, maka KD=D.Harga D tidak konstan Karena tergantung dari reaksi antara lain pH fasa air, konsentrasi pengompleks.Harga D semakin kecil dengan berkurangnya keasaman larutan. Berdasarkan definisi harga D diatas, dapat didimpulkan bahwa jumlah total solute dalam pelarut organic semakin berkurang dengan berkurangnya keasaman larutan. Jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tak dapat saling bercampur ditambahkan zat ketiga yang dapat melarut pada keduanya maka zat ketiga akan terdistribusi diantara ke dua fasa tadi dalam jumlah tertentu. Bila larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dikocok dalam air yang tidak larut dalam CHCl3, maka I2 akan terbagi dalam air dan dalam CHCl3. Setelah tercapai kesetimbangan perbandingan konsentrasi I2 dalam air dan CHCl3pada temperatur tetap juga tetap,. Kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada 3

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

kesetimbangan. Jika potensial kimia dari solute dalam larutan encer dalam larutan adalah : U1 = U10 + kT In C1 Dan pada larutan air adalah : U2 = U20 + kT In C2 Iodium mampu larut dalam air dan juga kloroform akan tetapi perbedaan kelarutannya dalam kedua pelarut tersebut cukup besar.Dengan mengekstraksi iodium ke dalam kloroform dengan menghitung konsentrasi awal dan sisa iodium dengan cara titrasi,maka diperoleh konsentrasi iodium dalam kedua pelarut tersebut,sehingga koefisien distribusi dari iodium dapat ditentukan. F. ALAT DAN BAHAN

:

Alat : -

Pipet Erlenmeyer Buret Klem statif Labu ukur Corong pisah Gelas ukur Gelas kimia Corong

-

Larutan iodium Air/aquades Kloroform Asam sulfat Larutan kanji Natrium tiosulfat

Bahan :

G. CARA KERJA

:

1. Pengenceran Iodium Larutan iodium 0,1 N 10 ml Diencerkan sampai 100 ml4dengan menggunakan labu ukur

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Larutan iodium encer 2. Penentuan konsentrasi iod mula-mula (Volume Titran Awal) Larutan iodium encer - Dipipet sebanyak 10 ml - Dimasukkan dlm erlenmeyer - Ditambah 1 ml H2SO4 - Ditambah 5 tetes kanji - Dititrasi dengan Na2S2O3 Konsentrasi Iod mulamula

5

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

3. Penentuan konsentari iod sisa (Volume Titran Sisa) Larutan iodium encer -

Dipipet sebanyak 10 ml

-

Dimasukkan dalam corong pisah

-

Ditambahkan 5 ml kloroform

-

Dikocok beberapa menit

-

Dilakukan 2-5 kali sampai kedua lapisan terpisah dengan baik

-

Lapisan organic disimpan dalam tempat yang telah disediakan

-

Lapisan air ditampung dalam erlemeyer

Diasamkan dengan 1ml H2SO4 2 M Konsentrasi iod -

6

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

H. DATA PENGAMATAN No 1.

:

Prosedur Percobaan Pengenceran Iodium Larutan iodium 0,1 N 10 ml Diencerkan sampai 100 ml dengan menggunakan labu ukur

Hasil Pengamatan - Larutan iodium 0,1 N sebanyak 10 ml berwarna jingga kecokelatan.

Dugaan/Reaksi I2 (aq) + H2O (l) (aq)

 I2

Kesimpulan -

- Kemudian ditambah air samapai volume 100 ml berwarna merah kecokelatan

Larutan iodium encer 2.

Volume Titran Awal Larutan iodium encer - Dipipet sebanyak 10 ml - Dimasukkan dlm erlenmeyer - Ditambah 1 ml H2SO4 - Ditambah 5 tetes kanji Konsentrasi Iod

- Larutan iodium encer berwarna merah kecokelatan. - Ditambah H2SO4 1 ml berubah menjadi warna jingga kekuningan. - Ditambah 5 tetes kanji berubah menjadi warna hitam. - Dititrasi dengan Na2S2O3 berubah warna menjadi tidak berwarna. - Volume Na2S2O3 = V1 = 8,8 ml V2 = 9,0 ml V3 = 8,8 ml - Konsentrasi I2 =

7

2S2O32- (aq) S4O62- (aq) + 2eI2 (aq) + 2e-  2I2 S2O32-(aq) + I2(aq)  S4O6(aq) + 2I- (aq)

Moleq I2 mula-mula adalah 0,0975 Meq

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

3.

Volume Titran Sisa Larutan iodium encer -

-

Dipipet sebanyak 10 ml

-

Dimasukkan dalam corong pisah

-

Ditambahkan 5 ml kloroform

-

Dikocok beberapa menit

-

Dilakukan 2-5 kali sampai kedua lapisan terpisah dengan baik

-

-

Lapisan organic disimpan dalam tempat yang telah disediakan

-

Lapisan air ditampung dalam erlemeyer

-

Diasamkan dengan 1ml H2SO4 2 M

Konsentrasi iod

-

[I2] 1 = 0,0968 Meq [I2] 2 = 0,0990 Meq [I2] 3 = 0,0968 [I2] rata-rata = 0,0975 Meq Larutan iodium encer berwarna merah kecokelatan. Ditambahkan kloroform berubah menjadi ungu kekuningan dan terjadi 2 lapisan. Lapisan atas/yang berwarna kuning ditambah H2SO4,larutan tetap menjadi kuning. Ditambah 5 tetes kanji 0,2 % larutan menjadi warna hitam. Dititrasi dengan Na2S2O3 berubah warna menjadi tidak berwarna. Volume Na2S2O3 = V1 = 2,2 ml V2 = 2,3 ml V3 = 2,4 ml Konsentrasi I2 = [I2] 1 = 0,0242 Meq [I2] 2 = 0,0253 Meq [I2] 3 = 0,0264 Meq [I2] rata-rata = 0,0253 Meq

8

2S2O32- (aq) S4O62- (aq) + 2eI2 (aq) + 2e-  2I2 S2O32-(aq) + I2(aq)  S4O6(aq) + 2I- (aq)

- Molek adalah Meq

I2 sisa 0,0253

- Nilai KD yang diperoleh dari hasil percobaan adalah 5,691 Meq

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

9

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

I. PEMBAHASAN

:

Telah dilakukan percobaan yang bertujuan mengekstraksi iodium ke dalam pelarut organik dan menghitung koefisien distribusi (KD) iodium. Langkah-langkah percobaan terbagi menjadi 3 yaitu: 1.

Pengenceran larutan iodium Pada percobaan ini,10 ml larutan Iodium 0,1 N berwarna jingga kecokelatan ditambahkan air(aquades) sampai volume 100 ml dengan menggunakan labu ukur.Lalu diperoleh larutan iodium encer yang berwarna merah kecokelatan.Reaksinya adalah : I2 (aq) + H2O (l)  I2 (aq)

2.

Penentuan konsentrasi iod mula-mula (volume titran awal) Pada percobaan ini,menentukan konsentrasi iod mula-mula dengan cara menitrasinya dengan larutan Na2S2O3.Larutan iodium yang sudah diencerkan yang berwarna merah kecokelatan diambil sebanyak 10 ml dimasukkan dalam erlenmeyer.Kemudian ditambahkan dengan 1 ml H2SO4 sehingga warna larutan berubah menjadi jingga kekuningan.Tujuan ditambahkan H2SO4 adalah memberi suasana asam.Lalu ditambahkan dengan 5 tetes larutan kanji 0,2 % sehingga larutan berubah menjadi warna hitam.Fungsi larutan kanji adalah sebagai indikator. Kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai larutan berubah warna menjadi tidak berwarna.Reaksinya adalah : 2S2O32- (aq)

 S4O62- (aq) + 2e-

I2 (aq) + 2e-



2I-

2S2O32- (aq) + I2 (aq)  S4O62- (aq) + 2I- (aq) Setelah terjadi perubahan warna,titrasi dihentikan. Kemudian dihitung volume Na2S2O3 yang diperlukan untuk proses titrasi.Titrasi dilakukan sebanyak tiga kali agar diperoleh data yang akurat.Pada proses titrasi yang pertama diperlukan Na2S2O3 sebanyak 8,8 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0968 Meq. Pada proses titrasi yang kedua diperlukan Na2S2O3 sebanyak 9,0 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0990 Meq. Pada proses titrasi yang ketiga diperlukan Na 2S2O3 sebanyak 8,8 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0968 Meq. Dari konsentrasi iod yang diperoleh,maka rata-rata konsentrasi iod awal sebesar 0,0975 Meq. 10

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

3.

Penentuan konsentari iod sisa (volume titran sisa) Pada percobaan ini,mengekstraksi iod dan menentukan konsentrasi iod sisa dengan cara menitrasinya dengan larutan Na2S2O3.Larutan iodium yang sudah diencerkan yang berwarna merah kecokelatan diambil sebanyak 10 ml dimasukkan dalam corong pisah.Kemudian ditambahkan kloroform sebanyak 5 ml dan dikocok sehingga berubah warna menjadi ungu kekuningan dan terjadi 2 lapisan. Larutan iodium jenuh dalam kloroform ditambahkan dengan aquades yang merupakan pelarut yang tidak saling campur dengan kloroform sehingga diperoleh dua lapisan. Adanya perbedaan kepolaran antara air/aquades dan kloroform dimana air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat nonpolar sehingga terbentuk dua lapisan, dimana lapisan atas merupakan air dan lapisan bawah adalah kloroform(organik). Hal ini disebabkan karena massa jenis air yakni 1 g/mL lebih kecil dibandingkan massa jenis kloroform yakni 1,48 g/mL sehingga air berada pada lapisan atas dan lapisan bawahnya adalah kloroform.Lalu pelarut organik(kloroform) dipisahkan dari larutan air. Kemudian lapisan atas(air) yang berwarna kuning ditambah 1 ml H2SO4 2 M, larutan tetap menjadi kuning. Tujuan ditambahkan H2SO4 adalah memberi suasana asam.Lalu ditambahkan dengan 5 tetes larutan kanji 0,2 % sehingga larutan berubah menjadi warna hitam.Fungsi larutan kanji adalah sebagai indikator. Kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai larutan berubah warna menjadi tidak berwarna.Reaksinya adalah : 2S2O32- (aq)

 S4O62- (aq) + 2e-

I2 (aq) + 2e-



2I-

2S2O32- (aq) + I2 (aq)  S4O62- (aq) + 2I- (aq) Setelah terjadi perubahan warna,titrasi dihentikan. Kemudian dihitung volume Na2S2O3 yang diperlukan untuk proses titrasi.Titrasi dilakukan sebanyak tiga kali.Pada proses titrasi yang pertama diperlukan Na2S2O3 sebanyak 2,2 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0242 Meq. Pada proses titrasi yang kedua diperlukan Na2S2O3 sebanyak 2,3 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0253 Meq. Pada proses titrasi yang ketiga diperlukan Na2S2O3 sebanyak 2,4 ml dan diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,0264 Meq.Dari konsentrasi iod yang diperoleh,maka rata-rata konsentrasi iod sisa sebesar 0,0253 Meq dan diperoleh KD sebesar 5,691 Meq.

11

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

J.

Diskusi Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan, ternyata diperoleh harga KD sebesar 5,691.Ini tidak sesuai dengan KD secara teoritis sebesar 10. Hal ini disebabkan karena dalam mengocok larutan pada corong pisah kurang kuat sehingga menyebabkan iodium yang terekstrak di dalam kloroform terlalu sedikit sehingga harga KD yang diperoleh kecil. Semakin sedikit iod yang terekstrak di dalam kloroform maka harga K D akan semakin kecil dan semakin banyak Iod yang terekstrak di dalam kloroform maka harga K D akan semakin besar.

K. KESIMPULAN

:

Berdasarkan percobaan koefisien distribusi iod yang kami lakukan, maka dapat disimpilkan bahwa : 1. Iod yang telah terekstraksi ke dalam pelarut organik ditandai dengan memudarnya warna iod. 2. Ekstraksi dapat dilakukan karena adanya perbedaan kelarutan antara air dan kloroform. 3. Harga KD iod dalam air dan kloroform sebesar 5,691 Meq. 4. Semakin besar nilai KD yang diperoleh maka semakin besar pula konsentrasi zat yang terekstrak pada fasa organik L. TUGAS DAN JAWABAN

:

1. Apa perbedaan KD dan D ? Jawab : KD  Perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam kedua pelarut berlaku bila:  Solute tidak terionisasi dalam salah satu pelarut  Solute tidak terasosiasi dengan salah satu pelarut D  Perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam kedua pelarut berlaku secara umum 2. Bila mana harga KD sama dengan D ? Jawab : Nilai KD akan sama dengan D jika terjadi pada kondisi ideal dan tidak terjadiasosiasi, disosiasi atau polimerisasi pada solute. 3. Bagaimana mencari harga hubungan antara KD dan D untuk asam lemah HB? Asam lemah HB yang mengalami dimerisasi dalam suatu pelarut organik? 12

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Jawab : Misalnya, untuk asam lemah HB, asam tersebut monomerik dalam kedua fase, dan anion asam tidak menembus fase organik maka: D

[HB] org [HB] aq  [B - ] aq

KDHB 

Ka 

[HB]org [HB]aq

[ H 3O  ]Org

……………(2)

……………(3)

[HB]aq

[ B]aq  Ka

…………...(1)

[ HB ]aq [ H 3O]aq

……………(4)

persamaan 4 di subtitusi ke persamaan 1 D

D

D

[HB] [HB]

org

aq  (Ka[HB]

aq

/[H 3 O aq )

[ HB] org [HB] aq{1  [ Ka /[ H 3O ] aq }

KDHB 1  (Ka/[H 3O  ])

4. Bagaimana mencari hubungan antara KD dan D untuk basa lemah yang terionisasi dalam pelarut air dan tidak bereaksi dalam pelarut organik ? Jawab : Bagaimana mencari hubungan antara KD dan D untuk basa lemah yang terionisasi dalam pelarut air dan tidak breaksi dalam pelarut organik ? HB + H2O ↔ H3O+ + B-

……………… (1)

13

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

……………… (2)

…………..….. (3) Persamaan 1 disubstitusikan dalam persamaan 3 :

……………... (4) Persamaan 2 disubstitusikan ke dalam persamaan 4 sehingga :

5. Buktikan bahwa dengan ekstrasi berganda akan dihasilkan persen terekstrak lebih besar daripada satu kali ekstraksi ! Jawab : Buktikan bahwa dengan ekstraksi berganda akan dihasilkan persen terekstrak lebih besar daripada satu kali ekstraksi! Ekstraksi ganda akan menghasilkan persen terekstrak lebih besar, hal itu dapat dibuktikan melalui praktikum maupun perhitungan. Misalnya pada praktikum kali ini, perbandingan antara penggunaan kloroform sekaligus 2 ml. Perbandingannya, dapat diketahui dari hitungan dengan menggunakan rumus : f aq= n

M. DAFTAR PUSTAKA

: 14

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Day,R.A,Underwood,A.L.1998.Analisis Kimia Kuantitatif.Jakarta:Erlangga Muhammad,Fauzan.2012.Laporan Praktikum Penentuan Koefisien Distribusi.http://moslem-chemist.blogspot.com/2012/12/laporanpraktikum-penentuan-koefisien_24.html(diakses tanggal 25 Februari 2014) Soebagio,dkk.2002.Kimia Analitik II.Malang:IMSTEP JICA Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Makassar : Universitas Negeri Makassar. Tim Penyusun.2014.Panduan Praktikum Kimia Analitik II:Dasar-Dasar Pemisahan Kimia.Surabaya:Jurusan Kimia FMIPA UNESA

N. LAMPIRAN GAMBAR

:

15

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Pengenceran Larutan Iodium 0,1 N

Larutan Iodium encer yang dimasukkan dalam erlenmeyer

Larutan iodium encer setelah penambahan H2SO4 dan larutan kanji

Larutan yang sudah dititrasi dengan Na2S2O3 16

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

Larutan Iodium encer + kloroform menghasilkan 2 lapisan

Perubahan yang terjadi setelah dititrasi dengan Na2S2O3

O. LAMPIRAN PERHITUNGAN : Volume Titran Awal Diketahui :V1 = 8,8 ml V2 = 9,0 ml V3 = 8,8 ml [ Na2S2O3 ] = 0,011 N Ditanya : Konsentrasi iod=…? Jawab :  Untuk V1 = 8,8 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V1 17

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

= 0,011 x 8,8 = 0,0968 Meq  Untuk V2 = 9,0 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V2 = 0,011 x 9,0 = 0,0990 Meq  Untuk V3 = 8,8 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V3 = 0,011 x 8,8 = 0,0968 Meq  Meq I2 rata-rata = 0,0968+0,0990+0,0968 3 = 0,2926 3 = 0,0975 Meq Volume Rata-Rata Sisa Diketahui : V1 = 2,2 ml V2 = 2,3 ml V3 = 2,4ml [ Na2S2O3 ] = 0,011 N Ditanya : konsentrasi iod = …? Jawab :  Untuk V1 = 2,2 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V1 = 0,011 x 2,2 = 0,0242 Meq  Untuk V2 = 2,3 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V2 = 0,011 x 2,3 = 0,0253 Meq  Untuk V3 = 2,4 ml Meq I2 = Meq S2O32= N . V3 = 0,011 x 2,4 = 0,0264 Meq  Meq I2 rata-rata = 0,0242+0,0253+0,0264 18

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

3 = 0,0759 3 = 0,0253 Meq

Meq I2 organik

= I2 awal - I2 sisa = 0,0975 – 0,0253 = 0,0722 Meq

[I2] organik

= Meq I2 organik V kloroform = 0,0722 5 = 0,014 Meq

[I2] air

= Meq I2 sisa V iod = 0,0253 10 = 0,00253 Meq

KD

= [I2] organik [I2] air = 0,0144 0,00253 = 5,691 M

19

Laporan Praktikum Kimia Analitik 2 Koefisien Distribusi Iod

20

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.