PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI

August 13, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

56 4.3.1 Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan.. 56 4.3.2 ..... Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan ...

Description

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta)

SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Disusun oleh : SRI RAHAYU C2C307048

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama Penyusun

:

SRI RAHAYU

Nomor Induk Mahasiswa

:

C2C307048

Fakultas/Jurusan

:

Ekonomi/Akuntansi

Judul Skripsi

:

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta)

Dosen Pembimbing

:

Andri Prastiwi SE. Msi, Akt.

Semarang,

Oktober 2010

Dosen Pembimbing

(Andri Prastiwi S.E. Msi, Akt.) NIP. 19670814 199802 2001

ii

PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN Nama Mahasiswa

:

SRI RAHAYU

Nomor Induk Mahasiswa

:

C2C307048

Fakultas/Jurusan

:

Ekonomi/Akuntansi

Judul Skripsi

:

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta)

Telah dinyatakan lulus ujian pada tanggal 19 Agustus 2010. Tim Penguji 1. Andri Prastiwi, SE., MSi., Akt.

(…………………………………….)

2. Drs. Sudarno, MSi., Akt.,PhD.

(…………………………………….)

3. Drs. Moh. Didik Ardiyanto, SE, MSi, Akt.

(…………………………………….)

iii

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI Yang bertanda tangan dibawah ini saya, SRI RAHAYU, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI, adalah hasil tulisan saya sendiri. Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan/atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan penulis aslinya. Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut diatas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.

Semarang, Oktober 2010 Yang membuat pernyataan,

(

SRI RAHAYU NIM: C2C307048

iv

)

ABSTRACT

This study is investigate the influence of Corporate Social Responsibility disclosure and managerial ownership as proxy from Good Corporate Governance to relationship between ROE as proxy from financial performance and firm value. The aim of this research is to find empirical proof about (a) the influence of ROE to firm value, (b) the influence of CSR disclosure as moderating variable in the relationships between ROE and firm value, (c) the influence of managerial ownership as moderating variable in relationships between ROE and firm value. The sample of this research is manufacture firm which is listed on Indonesia Stock Exchange (IDX) over 2007-2009. The research sample are 34 firm with 102 observations. The analysis methods of this research used simple regression analysis for hypothesis 1 and multiple regression analysis with the Moderated Regression Analysis (MRA) for hypothesis 2 and 3. The result of this research shows that ROE doesn’t have significant influence to firm value (t count = 0,1362 ; Sig. =0.177), meanwhile the analysis with the moderating variable MRA shows that CSR disclosure can’t moderate in relations between ROE and firm value (t count = 0.192 ; Sig. = 0.848). Managerial ownership is disable to be moderating variable which can moderate in relations between ROE and firm value although it shows significant influences and in reciprocal ways (t count = -2.433 ; Sig. 0.017). Keyword: ROE, Tobins Q, CSR disclosure, managerial ownership.

v

ABSTRAKSI

Studi ini meneliti pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) dan kepemilikan manajerial sebagai proksi dari Good Corporate Governance terhadap hubungan antara ROE sebagai proksi dari kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan bukti empiris tentang (a) pengaruh kinerja keuangan ROE terhadap nilai perusahaan, (b) pengaruh pengungkapan CSR terhadap hubungan antara ROE dan nilai perusahaan, (c) pengaruh kepemilikan manajerial terhadap hubungan antara ROE dan nilai perusahaan. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Indonesia Stock Exchange (IDX) dalam rentang tahun 2007-2009. Sampel penelitian adalah sebanyak 34 perusahaan dengan 102 observasi. Analisis data menggunakan analisis regresi linear sederhana untuk hipotesis 1 dan analisis regresi linear berganda dengan uji Moderated Regression Analysis (MRA) untuk hipotesis 2 dan 3. Hasil penelitian dengan analisis regresi linear menunjukkan bahwa ROE tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan (t hitung = 0,1362 ; Sig. = 0,177). Sedangkan analisis variabel moderating dengan metode MRA menunjukkan bahwa pengungkapan CSR tidak mampu memoderasi hubungan antara ROE terhadap nilai perusahaan (t hitung = 0,192 ; Sig. = 0,848). Kepemilikan manajerial juga bukan merupakan variabel moderating yang mampu memoderasi hubungan antara ROE dan nilai perusahaan walaupun menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan hubungan terbalik (t hitung = -2,433 ; Sig. = 0,017). Kata Kunci: ROE, Tobins Q, pengungkapan CSR, kepemilikan manajerial.

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya, sehingga penulis diberi kesempatan untuk menyelesaikan skripsi ini. Berbagai kendala yang menghadang dapat penulis atasi berkat doa dan bantuan serta perhatian dari berbagai pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada: 1. Bapak Dr. Moch. Chabachib, Msi, Akt. Selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro atas dedikasinya memajukan Fakultas Ekonomi. 2. Bapak Prof. Dr. Muchamad Syafruddin, Msi., Akt. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro atas dedikasinya dalam memajukan Jurusan AKuntansi. 3. Ibu Andri Prastiwi, SE., MSi., Akt. selaku dosen pembimbing yang begitu sabar dalam memberikan bimbingan, dukungan serta waktu luang sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. 4. Bapak Daljono SE. MSi. Akt selau dosen wali yang selalu membantu penulis apabila ada kesulitan. 5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah memberikan bekal ilmu tak ternilai selama penulis menempuh studi. 6. Seluruh staff pengajar dan staff perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah membantu penulis dalam hal administrasi dan mencari referensi yang dibutuhkan. 7. Untuk Ayah, terimakasih yah,,atas segala nasihat dan wejangan yang berarti bagi hidupku, semoga kedepannya hidupku lebih berarti lagi. 8. Untuk ibuku di surga, Bu, skripsi ini kupersembahkan untuk dirimu..aku tau dirimu selalu ada di dekatku.. 9. Ketiga kakak perempuanku, Mba Dewi, Mba Anik, Mba Iyan, makasih ya mba dah sabar sama aku, dan maafkan aku karena selalu ngerepotin kalian…aku doain semoga hidup kalian dipenuhi dengan keberkahan. Amin.. vii

10. Seluruh temen-temen S1 Ekstensi angkatan 2007, wuoooyyy…akhirnya mba yayuk lulus nii…..hahaha…… 11. Sahabatku Vina, Ajeng, Ayuk, Maria, Putra, terimakasih say atas support nya, terimakasih tetep mau jadi sahabatku sampai sekarang..ngga akan kulupain dan akan slalu kukenang waktu-waktu bersama kalian ..i love u all. Yuk kapan kita menggila lagiii…?? 12. Sahabatku Widi, Asri Ndut, Yuni..thanks atas dorongannya, akhirnya aku bisa nraktir kalian nii.. 13. Temen-temen KKN semua, big hugs and thousands kiss for all of you.. 14. Pihak yang tidak bisa disebutin satu per satu, terimakasih semuanyaaa…

Semarang,

Penyusun

viii

Oktober 2010

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………... ii HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN……………………….. iii PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI………………………………… iv ABSTRACT.......................................................................................................... v ABSTRAK……………………………………………………………………. vi KATA PENGANTAR……………………………………………………….... vii DAFTAR TABEL……………………………………………………………... xii DAFTAR GAMBAR………………………………………………………….. xiii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….. xiv BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………. 1 1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………….. 1 1.2 Rumusan Masalah……………………………………………… 6 1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian………………………………. 7 1.4 Sistematika Penulisan………………………………………….. 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………........ 9 2.1 Landasan Teori………………………………………………… 9 2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory)………………………. 9 2.1.2 Teori Agensi (Principal-Agency Theory)……………... 10 2.1.3 Teori Kontingensi (Contingency Theory)……………... 11 2.1.4 Nilai Perusahaan………………………………………. 13 2.1.5 Kinerja Keuangan……………………………………... 14 2.1.6 Corporate Social Responsibility (CSR)………………. 16 2.1.7 Good Corporate Governance (GCG)………………… 18 2.1.8 Mekanisme Corporate Governance…………………... 21 2.1.9 Kepemilikan Manajerial………………………………. 22 2.2 Penelitian Terdahulu………………………………………….. 22 2.3 Kerangka Pemikiran Teoretis…………………………………. 26 2.4 Perumusan Hipotesis………………………………………….. 27 BAB III METODE PENELITIAN………………………………………….. 32 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel………. 32 3.1.1 Variabel Independen………………………………….. 32 3.1.2 Variabel Pemoderasi………………………………….. 32 3.1.3 Variabel Dependen…………………………………… 33 3.2 Populasi dan Sampel…………………………………………. 34 3.3 Jenis dan Sumber Data……………………………………….. 35 3.4 Metode Pengumpulan Data…………………………………… 35 3.5 Metode Analisis………………………………………………. 35 ix

3.5.1

Uji Asumsi Klasik……………………………………... 3.5.1.1 Uji Normalitas…………………………………. 3.5.1.2 Uji Heteroskedastisitas………………………… 3.5.1.3 Uji Autokorelasi………………………………. 3.5.1.4 Uji Multikolinearitas…………………………… 3.5.2 Uji Model……………………………………………… 3.5.2.1 Uji R² / Koefisien Determinasi………………… 3.5.2.2 Uji Statistik F…………………………………. 3.5.2.3 Uji Statistik t…………………………………... 3.5.2.4 Uji Moderated Regression Analysis (MRA)….. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………… 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian…………………………………… 4.2 Hasil Analisis Data…………………………………………… 4.2.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif…………………….. 4.2.2 Hasil Uji Asumsi Klasik………………………………. 4.2.2.1 Hasi Uji Normalitas…………………………… 4.2.2.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas………………….. 4.2.2.3 Hasil Uji Autokorelasi………………………… 4.2.2.4 Hasil Uji Multikolinearitas…………………….. 4.2.3 Penormalan Data dengan Logaritma Natural………….. 4.2.3.1 Hasil Uji Normalitas…………………………… 4.2.3.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas………………….. 4.2.3.3 Hasil Uji Autokorelasi………………………… 4.2.3.4 Hasil Uji Mutikolinearitas…………………….. 4.2.4 Hasil Uji Model Hipotesis 1………………………….. 4.2.4.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi……………… 4.2.4.2 Hasil Uji Statistik F…………………………... 4.2.4.3 Hasil Uji Statistik t…………………………… 4.2.5 Hasil Uji Model Hipotesis 2 dengan MRA…………… 4.2.5.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi……………… 4.2.5.2 Hasil Uji Statistik F…………………………… 4.2.5.3 Hasil Uji Statistik t…………………………… 4.2.6 Hasil Uji Model Hipotesis 3 dengan MRA…………… 4.2.6.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi……………… 4.2.6.2 Hasil Uji Statistik F………………………….. 4.2.6.3 Hasil Uji Statistik t…………………………… 4.2.7 Hasil Pengujian Hipotesis…………………………….. 4.3 Intepretasi Hasil………………………………………………. 4.3.1 Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan.. 4.3.2 Pengaruh pengungkapan CSR terhadap hubungan kinerja keuangan dengan nilai perusahaan…………… x

36 36 36 37 38 38 39 39 40 40 41 41 43 43 45 45 45 46 46 47 47 48 48 49 49 49 50 50 51 51 51 52 53 53 53 54 54 56 56 57

4.3.3

Pengaruh GCG terhadap hubungan kinerja keuangan dengan nilai perusahaan……………………………… BAB V PENUTUP……………………………………………………….. 5.1 Simpulan…………………………………………………….. 5.2 Keterbatasan…………………………………………………. 5.3 Saran………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………. LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………….

xi

58 60 60 61 62 63 66

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Tabel 3.1 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13 Tabel 4.14 Tabel 4.15 Tabel 4.16 Tabel 4.17 Tabel 4.18 Tabel 4.19 Tabel 4.20 Tabel 4.21

Penelitian Terdahulu………………………………………………. Tabel Autokorelasi………………………………………………... Hasil Penentuan Sampel………………………………………….. Daftar Perusahaan yang menjadi Sampel Penelitian……………… Hasil Uji Statistik Deskriptif……………………………………… Hasil Uji Normalitas Data dengan Uji Statistik KolmogorovSmirnov ………………………………………………………….. Hasil Uji Heteroskedastisitas……………………………………... Hasil Uji Autokorelasi……………………………………………. Hasil Uji Multikolinearitas………………………………………... Hasil Uji Kolmogorov –Smirnov Setelah Transformasi Data……. Hasil Uji Glejser Setelah Transformasi Data……………………... Hasil Uji Auto Korelasi Setelah Transformasi Data……………… Hasil Uji Multikolinearitas Setelah Transformasi Data………….. Hasil Uji Goodness Fit of Test ROE Terhadap Tobins Q……….. Hasil Uji F ROE Terhadap Tobins Q…………………………….. Hasil Uji t ROE terhadap Tobins Q…………………………….... Hasil Uji Koefisien Determinasi ROE, CSR, dan Moderasi CSR.. Hasil Uji Statistik F ROE, CSR, dan Moderasi CSR…………..... Hasil Uji Statistik t ROE, CSR, dan Moderasi CSR…………….. Hasil Uji Koefisien Determinasi ROE, KM, dan Moderasi KM… Hasil Uji Statistik F ROE, KM, dan Moderasi KM……………… Hasil Uji Statistik t ROE, KM, dan Moderasi KM………………. Hasil Perhitungan Regresi………………………………………...

xii

24 37 41 42 43 45 46 46 47 48 48 49 49 50 50 51 51 52 52 53 53 54 55

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran Teoretis………………………………….

xiii

27

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Lampiran E Lampiran F

Daftar ROE Perusahaan Sampel………………………………. Daftar Item Pengungkapan CSR……………………………… Daftar Indeks Pengungkapan CSR…………………................. Daftar Prosentase Kepemilikan Manajerial Tahun 2007-2009.. Daftar Rasio Tobins Q………………………………………… Hasil Output Pengolahan Data Menggunakan SPSS 17……….

xiv

67 68 71 74 75 79

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Banyak penelitian yang memeriksa pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan diantaranya yang dilakukan oleh Ulupui (2007), Makaryawati (2002), Carlson dan Bathala (1997). Teori yang mendasari penelitian-penelitian tersebut adalah semakin tinggi kinerja keuangan yang biasanya diproksikan dengan rasio keuangan, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Melalui rasio-rasio keuangan tersebut dapat dilihat seberapa berhasilnya manajemen perusahaan mengelola aset dan modal yang dimilikinya untuk memaksimalkan nilai perusahaan.

Penilaian prestasi suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan itu untuk menghasilkan laba. Laba perusahaan selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi para penyandang dananya juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang.

Hasil penelitian Suranta dan Pratana (2004); Maryatini (2006) menemukan bahwa struktur resiko keuangan dan perataan laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Andri dan Hanung (2007) juga menemukan investment opportunity set dan leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut

1

2

mendukung pernyataan bahwa semakin baik kinerja keuangan yang diperoleh, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan ketidak konsistenan mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini return on equity (ROE) terhadap nilai perusahaan.

Hanafi dan Halim (1996) menyatakan bahwa ROE merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham. Ukuran dari keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE yang berhasil dicapai. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Hal ini berdampak terhadap peningkatan nilai perusahaan. Ross (2002) menyatakan Return bagi pemegang saham bisa berupa penerimaan dividen tunai ataupun adanya perubahan harga saham pada suatu periode. Kennedy JSP (2003) meneliti pengaruh ROA, ROE, EPS, Profit Margin, Asset Turnover, Rasio Leverage, dan DER terhadap Return saham. Sampel yang digunakan adalah LQ 45 di BEJ tahun 2001 dan 2002. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan hanya variabel asset turnover, ROA, ROE, leverage ratio, DER, dan EPS memberikan hubungan yang nyata dengan return saham. Saepudin (2008) memeriksa tentang pengaruh rasio profitabilitas dan IOS terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2005-2007. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa ROE, ROA, NPM memiliki korelasi positif terhadap harga saham.

3

Namun, hasil yang berbeda diperoleh oleh Sasongko dan Wulandari (2006) yang memeriksa pengaruh EVA dan rasio profitabilitas antara lain; ROA, ROE, ROS, EPS, BEP terhadap harga saham. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hanya EPS yang berpengaruh terhadap harga saham. Begitu pula dengan Wibowo (2005), yang meneliti tentang pengaruh EVA, ROA, dan ROE perusahaan terhadap return pemegang saham. Hasil pengujian statistik secara parsial terhadap masing – masing variabel bebas yaitu EVA, ROA, dan ROE tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap return pemegang saham, sehingga variabel – variabel tersebut tidak mempunyai pengaruh secara parsial terhadap return pemegang saham perusahaan manufaktur. Ketidakkonsistenan hasil penelitian yang meneliti pengaruh ROE terhadap nilai perusahaan menunjukkan adanya variabel kontingen yang mempengaruhi hubungan diantara keduanya. Di Indonesia, telah ada penelitian yang menggunakan CSR dan GCG sebagai variabel kontingensi untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan karena adanya

ketidakkonsistenan hasil

penelitian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2007). Di dalam penelitiannya, Yuniasih dan Wirakusuma (2007) menggunakan sampel penelitian sebanyak 27 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006. Yuniasih dan Wirakusuma menggunakan ROA sebagai proksi dari variabel kinerja keuangan, 78 item pengungkapan CSR sebagai proksi dari variabel CSR, dan kepemilikan manajerial sebagai proksi dari variabel GCG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA berpengaruh positif

4

statistis pada nilai perusahaan, demikian juga dengan pengungkapan CSR sebagai variabel pemoderasi terbukti berpengaruh positif secara statistis pada hubungan antara ROA dan nilai perusahaan yang berarti bahwa selain melihat kinerja keuangan, pasar juga memberikan respons terhadap pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan. Namun kepemilikan manajerial tidak terbukti berpengaruh terhadap hubungan antara ROA dan nilai perusahaan, hal ini dimungkinkan karena struktur kepemilikan manajerial di Indonesia masih sangat kecil dan didominasi oleh keluarga. Penelitian ini mereplikasi penelitian yang dilakukan oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2007), akan tetapi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah variabel ROE sebagai proksi dari kinerja keuangan, karena variabel ROE merupakan salah satu variabel yang terpenting yang dilihat investor sebelum mereka berinvestasi. ROE juga merupakan suatu basic test seberapa efektif manajemen perusahaan menggunakan uang investor dibandingkan dengan ROA yang hanya mengukur keefisienan suatu perusahaan dalam menghasilkan return dari asetnya (Mc Clure, 2009). Penelitian ini juga menggunakan 78 item pengungkapan sebagai proksi dari CSR dan kepemilikan manajerial sebagai proksi dari GCG. Penelitian ini akan menganalisa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta antara tahun 2005-2007, sehingga hasilnya dapat digeneralisasi dan dapat mempresentasikan semua perusahaan manufaktur yang ada.

5

Akhir-akhir

ini,

banyak

perusahaan

semakin

menyadari

pentingnya

menerapkan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari strategi bisnisnya. Menurut Wirakusuma dan Yuniasih (2007), akuntabilitas dapat dipenuhi dan asimetri informasi dapat dikurangi jika perusahaan melaporkan dan mengungkapkan kegiatan CSRnya ke para stakeholders. Dengan pelaporan dan pengungkapan CSR, para stakeholders akan dapat mengevaluasi bagaimana pelaksanaan CSR dan memberikan penghargaan/sanksi terhadap perusahaan sesuai hasil evaluasinya. Menurut Herdinata (2008), perusahaan di Indonesia memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan perusahaan di Asia pada umumnya, dimana perusahaan dimiliki dan dikontrol oleh keluarga. Meskipun perusahaan tersebut tumbuh dan menjadi perusahaan publik, namun kendali keluarga masih signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Claessens, Stijin, Simeon Djankov dan Larry H.P dalam Herdinata (2008), ditemukan bahwa dalam tahun 1996 kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 10 perusahaan keluarga di Indonesia mencapai 57,7%. Untuk Filipina dan Thailand mencapai 52,5% dan 46,2%. Sedangkan kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 15 perusahaan keluarga di Korea sebesar 38,4% dan Malaysia sebesar 28,3%. Hal ini menunjukkan rendahnya struktur kepemilikan manajerial karena sebagian besar masih didominasi oleh keluarga. Pola dan kepemilikan usaha seperti ini akan mendorong praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang pada akhirnya akan menjatuhkan nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial merupakan salah satu mekanisme GCG yang dapat mempengaruhi insentif

6

bagi manajemen untuk melaksanakan kepentingan terbaik dari pemegang saham (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). GCG muncul dan berkembang dari teori agensi, yang menghendaki adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan manajerial diharapkan pihak manajemen akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan para pemegang saham. Hal ini disebabkan oleh pihak manajemen juga akan memperoleh keuntungan bila perusahaan memperoleh laba. Berdasarkan uraian di atas memberikan inspirasi perlu diadakannya sebuah penelitian tentang bagaimana pengungkapan CSR dan GCG memoderasi pengaruh antara ROE terhadap nilai perusahaan.

1.2

Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dirumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Apakah kinerja keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta?

b. Apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility akan dapat memperkuat atau justru memperlemah hubungan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Busa Efek Jakarta?

7

c. Apakah Good Corporate Governance akan dapat memperkuat atau bahkan memperlemah hubungan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta?

1.3

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah CSR dan GCG sebagai variabel situasional nantinya akan memperkuat atau memperlemah hubungan kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan manufaktur karena ketidak konsistenan pengaruh kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan manufaktur tersebut.

Penelitian ini berguna untuk memberikan wacana tentang pengaruh CSR dan GCG sebagai variabel situasional antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan serta untuk melihat bagaimana pengaruh CSR dan GCG dalam menilai perusahaan.

1.4

Sistematika Penulisan Penelitian ini dibagi menjadi lima bab. Bab I, yaitu Pendahuluan yang akan

menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika pembahasan. Bab II, yaitu Tinjauan Pustaka yang menguraikan teori-teori yang terkait dengan topik penelitian serta penelitian terdahulu berkaitan dengan masalah yang diteliti. Bab III, yaitu Metode Penelitian yang menguraikan tentang bagaimana penelitian akan dilakukan mencakup penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data serta metode analisis yang

8

digunakan dalam penelitian. Bab IV, yaitu Hasil dan Pembahasan yang menjelaskan tentang analisis terhadap data dan beberapa pengujian yang dilakukan serta temuan empiris yang diperoleh. Bab V, yaitu Penutup yang berisi kesimpulan tentang hasil penelitian, diuraikan pula tentang keterbatasan penelitian serta saran-saran yang berguna untuk penelitian selanjutnya.

9

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori Penelitian

2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory) Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor, kreditor). Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindingi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang (Wolk et al, 2000).

Teori

sinyal

mengemukakan

tentang

bagaimana

seharusnya

sebuah

perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan

10

bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain (Sari dan Zuhrohtun, 2006).

2.1.2 Teori Agensi (Principal-Agency Theory)

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak antara principal dengan agent. Menurut Darmawati et al. (2005), inti dari hubungan keagenan adalah adanya pemisahan antara kepemilikan (principal/investor) dan pengendalian (agent/manajer). Kepemilikan diwakili oleh investor yang mendelegasikan kewenangan kepada agen dalam hal ini manajer untuk mengelola kekayaan investor. Investor mempunyai harapan bahwa dengan mendelegasikan wewenang pengelolaan tersebut, mereka akan memperoleh keuntungan dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor. Setyapurnama dan Norpratiwi (2004) menyatakan hubungan keagenan dapat menimbulkan masalah pada saat pihak-pihak yang bersangkutan mempunyai tujuan yang berbeda. Pemilik

modal menghendaki bertambahnya kekayaan dan

kemakmuran para pemilik modal, sedangkan manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan bagi para manajer. Dengan demikian muncullah konflik kepentingan antara pemilik (investor) dengan manajer (agen). Pemilik lebih tertarik untuk memaksimumkan return dan harga sekuritas dari investasinya, sedangkan manajer mempunyai kebutuhan psikologis dan ekonomi yang luas, termasuk memaksimumkan kompensasinya. Kontrak yang dibuat antara pemilik dengan

11

manajer diharapkan dapat meminimumkan konflik antar kedua kepentingan tersebut. Alijoyo dan Zaini (2004) beranggapan bahwa pemisahan fungsi eksekutif dan fungsi pengawasan pada teori keagenan menciptakan “checks and balances”, sehingga terjadi independensi yang sehat bagi para manajer untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang maksimum dan return yang memadahi bagi para pemegang saham. 2.1.3 Teori Kontingensi (Contingency Theory) Teori kontingensi mula-mula diperkenalkan oleh Lawrence dan Lorsch (1967) kemudian dipakai oleh Kazt dan Rosenzweig (1973) yang menyatakan bahwa tidak ada cara terbaik dalam mencapai kesesuaian antara faktor organisasi dan lingkungan untuk memperoleh prestasi yang baik bagi suatu organisasi. Menurut Sari (2006) dalan Azli dan Azizi (2009), teori kontingensi merupakan suatu teori yang cocok digunakan dalam hal yang mengkaji reka bentuk, perancangan, prestasi dan kelakuan organisasi serta kajian yang berkaitan dengan pengaturan strategik. Menurut Raybun dan Thomas (1991) dalam Azli dan Azizi (2009), teori kontingensi menyatakan pemilihan sistem akuntansi oleh pihak manajemen adalah tergantung pada perbedaan desakan lingkungan perusahaan. Teori ini penting sebagai media untuk menerangkan perbedaan dalam struktur organisasi. Variabel yang sering dipakai dalam bidang ini adalah organisasi, lingkungan, teknologi,

cara pembuatan keputusan , ukuran

perusahan, struktur, strategi, dan budaya organisasi (Raybun dan Thomas, 1991), serta ketidakpastian, teknologi, industri, misi dan strategi kompetitif, observabilitas (Fisher, 1999).

12

Dalam konteks penelitian ini akan digunakan variabel kontingen CSR dan GCG untuk melihat pengaruhnya terhadap hubungan antara kinerja keuangan dengan nilai perusahaan. CSR merupakan strategi yang digunakan oleh perusahaan sebagai akibat dari desakan lingkungan di sekitar perusahaan. Dalam UU No. 40, 2007, dinyatakan bahwa perusahaan yang aktifitasnya dalam sektor atau yang berhubungan dengan sumber daya alam harus menerapkan CSR. Tuntutan dari para stakeholder dan lingkungan telah ‘memaksa’ perusahaan agar keberadaan perusahaan diapresiasi secara positif oleh stakeholder sehingga tercapai tingginya nilai perusahaan.

Menurut IICG (2010), GCG dapat didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ-organ perusahaan sebagai upaya untuk memberikan nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang. Menurut Daniri (2008), GCG dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda dunia, agar krisis tidak terulang kembali maka dikembangkan sistem dan struktur pengelolaan perusahaan yang lebih baik. Penerapan GCG mewajibkan suatu perusahaan menerapkan struktur dan sistem tertentu. Dalam kaitannya dengan struktur, perusahaan diwajibkan menciptakan perangkat organisasi tertentu (seperti komisaris iindependen, komite audit, komite remunerasi) untuk menjalankan fungsi spesifik, sedangkan dalam hal sistem, manajemen perusahaan diwajibkan mengikuti proses atau aturan tertentu dalam pengambilan keputusan dan dalam menjalankan kegiatannya secara umum.

13

2.1.4 Nilai Perusahaan

Menurut Christiawan dan Tarigan (2007), terdapat beberapa konsep nilai yang menjelaskan nilai suatu perusahaan antara lain: a. Nilai nominal yaitu nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan, dan juga ditulis jelas dalam surat saham kolektif. b. Nilai pasar, sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawarmenawar di pasar saham. Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham. c. Nilai intrinsik merupakan nilai yang mengacu pada perkiraan nilai riil suatu perusahaan. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsik ini bukan sekadar harga dari sekumpulan aset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan di kemudian hari. d. Nilai buku, adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi. e. Nilai likuidasi itu adalah nilai jual seluruh aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai sisa itu merupakan bagian para pemegang saham. Nilai likuidasi bisa dihitung berdasarkan neraca performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan likuidasi. Berbagai macam faktor dapat mempengaruhi nilai perusahaan antara lain kepemilikan manajerial, kinerja keuangan suatu perusahaan, kebijakan deviden, corporate governance dan lain sebagainya. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan

14

oleh Suranta dan Machfoedz (2003) mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu menyatakan bahwa nilai perusahaan akan lebih tinggi ketika direktur memiliki bagian saham yang lebih besar. Minguez and Francisco (2000) yang melakukan penelitian tentang struktur kepemilikan terhadap perusahaan-perusahaan publik di Spanyol mengungkapkan bahwa struktur kepemilikan perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2006) menemukan bahwa kebijakan dividen memberikan pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian

Siallagan (2006) juga menunjukkan bahwa mekanisme corporate

governance berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan menggambarkan seberapa baik atau buruk manajemen mengelola kekayaannya, hal ini bisa dilihat dari pengukuran kinerja keuangan yang diperoleh.

Suatu

perusahaan

akan

berusaha

untuk

memaksimalkan

nilai

perusahaannya. Peningkatan nilai perusahaan biasanya ditandai dengan naiknya harga saham di pasar.

2.1.5 Kinerja Keuangan

Kinerja adalah suatu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan perusahaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu perusahaan. Sedangkan kinerja keuangan adalah prestasi kerja yang telah dicapai oleh perusahaan dalam

15

suatu periode tertentu dan tertuang pada laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan (Munawir, 1998).

Tujuan manajemen adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus memanfaatkan keunggulan dari kekuatan perusahaan dan secara terus menerus memperbaiki kelemahan – kelemahan yang ada. Salah satu caranya adalah mengukur kinerja keuangan dengan menganalisa laporan keuangan menggunakan rasio-rasio keuangan. Hasil pengukuran terhadap capaian kinerja dijadikan dasar bagi manajemen atau pengelola perusahaan untuk perbaikan kinerja pada periode berikutnya dan dijadikan landasan pemberian reward and punishment terhadap manajer dan anggota organisasi. Pengukuran kinerja yang dilakukan setiap periode waktu tertentu sangat bermanfaat untuk menilai kemajuan yang telah dicapai perusahaan dan menghasilkan informasi yang sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan manajemen serta mampu menciptakan nilai perusahaan itu sendiri kepada para stakeholder. Menurut Putri (2009), ada dua macam kinerja yang diukur dalam berbagai penelitian, yaitu kinerja operasi perusahaan dan kinerja pasar. Kinerja operasi perusahaan diukur dengan melihat kemampuan perusahaan yang tampak pada laporan keuangannya. Untuk mengukur kinerja operasi perusahaan biasanya digunakan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuangan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu, rasio yang sering digunakan adalah ROE, yaitu rasio keuangan yang berfungsi

untuk mengukur

16

kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dengan modal tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pemegang saham (Hanafi & Halim, 1996). ROE merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang menyebut rentabilitas modal sendiri (Sutrisno, 2000:267). Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham, ukuran yang digunakan dalam pencapaian alasan ini adalah tinggi rendahnya angka ROE yang berhasil dicapai. Semakin tinggi ROE, maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk para pemegang saham. 2.1.6 Corporate Social Responsibility (CSR) Seperti dikemukakan oleh Robins (2005), definisi CSR yang mencerminkan maksud CSR dan digunakan oleh Uni Eropa adalah sebagai berikut: CSR is a concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operations and stakeholder relations on a voluntary basis; it is about managing companies in a socially responsible manner (Holand, 2003). Definisi lain dari CSR adalah sebagai berikut: The obligation of the firm to use its resources in ways to benefit society, through commited participation as a member of society, taking into account the society at large, and improving welfare of society at large independently of direct gains of the company (Kok et al, 2001, p. 287).

17

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CSR dijalankan terintegrasi dengan bisnis perusahaan, memperhatikan kepentingan stakeholders (pemangku kepentingan) dengan harapan memberikan manfaat/kesejahteraan bagi masyarakat. Menurut Daniri (2007), CSR lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang biasanya selalu fokus untuk memaksimalkan laba, menyejahterakan para pemegang saham., dan mengabaikan tanggung jawab sosial seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, dan lain sebagainya. Pada intinya, keberadaan perusahaan berdiri secara berseberangan dengan kenyataan kehidupan sosial. Konsep dan praktik CSR saat ini bukan lagi dipandang sebagai suatu cost center tetapi juga

sebagai suatu strategi perusahaan yang dapat memacu dan

menstabilkan pertumbuhan usaha secara jangka panjang. Oleh karena itu penting untuk mengungkapkan CSR dalam perusahaan sebagai wujud pelaporan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Pengungkapan tanggung jawab sosial atau sering disebut sebagai corporate social reporting adalah proses pengkomunikasian efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara keseluruhan (Gray et. al., 1987). Dampak negatif

perusahaan

terhadap

lingkungan

sekitar

mengakibatkan

hilangnya

kepercayaan masyarakat. Untuk meminimalisir dampak negatif tersebut adalah dengan

mengungkapkan

informasi-informasi

mengenai

operasi

sehubungan dengan lingkungan sebagai tanggung jawab perusahaan.

perusahaan

18

2.1.7 Good Corporate Governance (GCG) Menurut Daniri (2004), dengan mengutip riset Berle dan Means pada tahun 1934, isu GCG muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Pemisahan ini memberikan kewenangan kepada pengelola (manajer/direksi) untuk mengurus jalannya perusahaan, seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan atas nama pemilik. Pemisahan ini didasarkan pada principal-agency theory yang dalam hal ini manajemen cenderung akan meningkatkan keuntungan pribadinya daripada tujuan perusahaan. Selain memiliki kinerja keuangan yang baik, perusahaan juga diharapkan memiliki tata kelola yang baik. Definisi dan prinsip CG yang saat ini masih bertahan dan dapat diakomodasi serta diadaptasi oleh berbagai regulasi yang ada khususnya di negara Indonesia (Utama, 2004), yaitu: 1.

Cadbury Committee Menurut Komite Cadburry (2004), yang kemudian dikutip oleh FCGI dalam

publikasi pertamanya, corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak – hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Komite Cadburry dalam laporannya juga menyatakan bahwa GCG terdiri dari 3 prinsip utama yaitu, keterbukaan, integritas, dan akuntabilitas.

19

2.

OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)

Sebagaimana yang diuraikan oleh OECD (2004), yang dikutip oleh FCGI dalam terbitannya ada 4 unsur penting dalam CG yaitu:

a. Keadilan (Fairness), yaitu kepastian perlindungan atas hak seluruh pemegang dari penipuan (fraud) dan penyimpangan lainnya serta adanya pemahaman yang jelas mengenai hubungan berdasarkan kontrak diantara penyedia sumber daya perusahaan dan pelanggan. b. Transparansi (Transparancy), yaitu keterbukaan mengenai informasi kinerja perusahaan, baik ketepatan waktu maupun akurasinya. Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi akuntansi yang dihasilkan., c. Akuntabilitas (Accountability), yaitu penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian wewenang, peranan, hak dan tanggung jawab dari pemegang saham, manajer, dan auditor. d. Pertanggungjawaban (Responsibility), yaitu pertanggungjawaban perusahaan kepada stakeholders dan lingkungan dimana perusahaan itu berada. CG timbul karena kepentingan perusahaan untuk memastikan kepada pihak penyandang dana (principal/investor) bahwa dana yang ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien. Selain itu dengan CG, perusahaan memberikan kepastian bahwa manajemen

(agent)

bertindak

yang

(Setyapurnama dan Nor Pratiwi, 2004).

terbaik

demi

kepentingan

perusahaan

20

Penerapan good corporate governance diyakini mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan landasan yang kokoh untuk menjalankan operasional perusahaan yang baik, efisien dan menguntungkan.

Coombes dan Watson (2000) dalam

Fachrurozi (2007) menyatakan bahwa pemegang saham saat ini sangat aktif dalam meninjau kinerja perusahaan karena mereka menganggap bahwa CG yang lebih baik akan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi bagi mereka. Tujuh puluh lima persen dari investor mengatakan bahwa praktek CG paling tidak sama pentingnya dengan kinerja keuangan ketika mereka mengevaluasi perusahaan untuk tujuan investasi. Bahkan 80% dari investor mengatakan bahwa mereka akan membayar lebih mahal untuk saham perusahaan yang memiliki CG yang lebih baik (wellgoverned company atau WGC) dibandingkan perusahaan lain dengan kinerja keuangan relatif sama. Dey Report (1994) mengemukakan bahwa CG yang efektif dalam jangka panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan para pemegang saham. Morck, Shleifer dan Vishny (1988) dalam Bernhart dan Rosenstein (1998) yang menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan komposisi dewan komisaris terhadap nilai perusahaan menemukan bahwa nilai perusahaan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan manajerial sampai dengan 5%, kemudian menurun pada saat kepemilikan manajerial 5%-25%, dan kemudian meningkat kembali seiring dengan adanya peningkatan kepemilikan manajerial secara berkelanjutan. Black et al. (2003) berargumen bahwa pertama, perusahaan yang dikelola dengan lebih baik akan dapat lebih menguntungkan sehingga mendapat dividen yang lebih tinggi. Kedua, disebabkan oleh karena investor luar dapat menilai

21

earnings atau dividen yang sama dengan lebih tinggi untuk perusahaan yang menerapkan CG yang lebih baik. Hasil menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa perusahaan dengan CG yang baik lebih menguntungkan atau membayar dividen yang lebih tinggi, tetapi ditemukan bukti bahwa investor menilai earnings atau arus dividen yang sama dengan lebih tinggi untuk perusahaan yang menerapkan CG yang lebih baik. 2.1.8 Mekanisme Corporate Governance Mekanisme CG merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan control, pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme CG diarahkan untuk menjamin dan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi (Walsh dan Schward, 1990 dalam Arifin, 2005). Menurut Barnhart dan Rosenstein (1998) dalam Lastanti (2004), mekanisme CG dibagi menjadi dua, yaitu internal mechanism (mekanisme internal), seperti komposisi dewan direksi/komisaris, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif. Mekanisme yang kedua yaitu external mechanism (mekanisme eksternal), seperti pengendalian oleh pasar dan level debt financing. Mekanisme CG yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepemilikan manajerial, karena keterbatasan data mekanisme yang lain. Dalam penelitian ini semakin tinggi kepemilikan manajerial diharapkan pihak manajemen akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan para pemegang saham. Hal ini disebabkan

22

oleh pihak manajemen juga akan memperoleh keuntungan bila perusahaan memperoleh laba. 2.1.9 Kepemilikan Manajerial Salah satu elemen CG yang mempengaruhi insentif bagi manajemen untuk melaksanakan kepentingan terbaik dari pemegang saham adalah pemilikan saham oleh manajemen. Kepemilikan manajemen didefinisikan sebagai persentase saham yang dimiliki oleh manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan yang meliputi komisaris dan direksi (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Menurut Shleifer dan Vishny (1986) dalam Siallagan dan Mahfoedz (2006) kepemilikan saham yang besar dari segi ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Hal ini dapat terjadi karena dengan memberikan saham kepada manajemen maka manajemen sekaligus merupakan pemilik perusahaan sehingga akan bertindak demi kepentingan perusahaan, untuk itu kepemilikan manajerial dipandang sebagai alat untuk menyatukan kepentingan manajemen dengan pemilik. 2.2

Penelitian Terdahulu Klapper dan Love (2002) dalam Darmawati, dkk.(2005) menemukan adanya

hubungan positif antara corporate governance dengan kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA dan Tobins Q. Penemuan penting lain adalah bahwa penerapan corporate governance di tingkat perusahaan lebih memiliki arti dalam negara berkembang dibandingkan dalam negara maju.

23

Wahyuni (2005) meneliti pengaruh antara Current ratio, ROE, Total Asset Turn Over dan DER terhadap harga saham. Hasilnya menunjukkan bahwa current ratio, ROE, total asset turn over (TAT), dan DER berpengaruh secara signifikan terhadap harha saham.

Siallagan dan Machfoedz (2006) meneliti hubungan mekanisme corporate governance, kualitas laba dan nilai perusahaan. Dalam penelitian ini mekanisme corporate governance diproksi oleh kepemilikan manajerial, keberadaan komite audit, dan proporsi dewan komisaris independen. Hasil menunjukkan bahwa mekanisme corporate governance mempengaruhi nilai perusahaan (Tobin’s Q)

Yuniasih dan Wirakusuma (2007) meneliti pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan mempertimbangkan CSR dan corporate governance sebagai variabel moderasi. Kinerja keuangan diproksikan dengan ROA, sedangkan corporate governance diproksikan dengan kepemilikan manajerial. Hasilnya mengindikasikan bahwa ROA berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, pengungkapan CSR dapat memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan, akan tetapi kepemilkan manajerial tidak dapat memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan.

Sasongko dan Wulandari (2006) meneliti pengaruh antara EVA dengan rasio profitabilitas yang diproksikan dengan ROA, ROE, ROS, EPS, BEP terhadap harga saham. Penelitian ini mengambil 45 sampel perusahaan manufaktur dan hasil yang

24

didapat bahwa hanya EPS yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham, artinya EPS dapat digunakan untuk menentukan nilai perusahaan, sedangkan ROA, ROE, ROS, BEP, dan EVA tidak berpengaruh terhadap harga saham yang berarti tidak dapat digunakan untuk menentukan nilai perusahaan. Saepudin (2008) meneliti pengaruh antara rasio profitabilitas dan investment opportunity set terhadap harga saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005 sampai 2007. Dari penelitian tersebut hasilnya adalah bahwa ROA berpengaruh terhadap harga saham sedangkan ROE, NPM dan PER tidak berpengaruh terhadap harga saham.

No.

Peneliti

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Variabel Variabel Obyek Dependen Indepanden Penelitian

1.

Klapper CG yang Kinerja dan Love diproksikan Perusahaan (2002) dengan ROA

Hubungan antara corporate governance dengan kinerja perusahaan

2.

Wahyuni (2005)

pengaruh antara Current ratio, ROE, Total Asset Turn Over dan DER terhadap harga saham

Curent Harga Ratio, ROE, Saham Total Asset Turnover (TAT), dan DER

Hasil Penelitian Adanya hubungan positif antara CG dengan kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA dan Tobins Q Variable Current Ratio, ROE, Total Asset Turnover (TAT), dan DER berpengaruh secara

25

3.

Siallagan dan Machfoed z (2006)

4.

Yuniasih dan Wirakusu ma (2007)

5.

Sasongko dan Wulandari (2006)

Kepemilika n manajerial, komisaris independen, komite audit, leverage, firm size kualitas laba ROA dengan variabel pemoderasi CSR dan GCG

Nilai Perusahaan

hubungan mekanisme corporate governance, kualitas laba dan nilai perusahaan.

Nilai Perusahaan

pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan mempertimban gkan CSR dan corporate governance sebagai variabel moderasi.

ROA, ROE, Harga ROS, EPS, Saham Basic Earning Power, EVA

Pengaruh antara EVA dengan rasio profitabilitas yang diproksikan dengan ROA, ROE, ROS,

signifikan terhadap harga saham. Mekanisme CG mempengaruhi nilai perusahaan (Tobins Q).

ROA berpengaruh positif terhadap nillai perusahaan, CSR mampu memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan, akan tetapi kepemilikan manajerial tidak mampu memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan. Hanya EPS yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham, artinya EPS dapat digunakan

26

6.

Saepudin (2008)

IOS, ROA, Harga ROE, NPM Saham PER

EPS, BEP untuk terhadap harga menentukan saham. nilai perusahaan, sedangkan ROA, ROE, ROS, BEP, dan EVA tidak berpengaruh terhadap harga saham yang berarti tidak dapat digunakan untuk menentukan nilai perusahaan. pengaruh ROA antara rasio berpengaruh profitabilitas terhadap harga dan investment saham opportunity set sedangkan terhadap harga ROE, NPM dan saham PER tidak perusahaan berpengaruh yang terdaftar terhadap harga di Bursa Efek saham. Indonesia tahun 2005 sampai 2007

Sumber: Ringkasan berbagai hasil penelitian 2.3

Kerangka Pemikiran Teoritis Perbedaan hasil penelitian yang meneliti pengaruh kinerja keuangan terhadap

nilai perusahaan mengindikasikan terdapat variabel lain yang ikut mempengaruhi. Dalam hal ini penulis memasukkan variabel CSR dan GCG yang nantinya akan dapat dilihat apakah variabel ini akan mempengaruhi hubungan kinerja keuangan terhadap

27

nilai perusahaan atau tidak. Oleh karena itu dapat digambarkan suatu kerangka pemikiran sebagai berikut:

Kinerja Keuangan

Nilai Perusahaan

(ROE)

(Tobin’s Q)

Corporate Social Responsibility (Pengungkapan CSR) Good Corporate Governance (Kepemilikan Manajerial)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoretis 2.4

Perumusan Hipotesis Para investor melakukan overview suatu perusahaan dengan melihat rasio

keuangan sebagai alat evaluasi investasi, karena rasio keuangan mencerminkan tinggi rendahnya nilai perusahaan. Jika investor ingin melihat seberapa besar perusahaan menghasilkan return atas investasi yang akan mereka tanamkan, yang akan dilihat pertama kali adalah rasio profitabilitas, terutama ROE, karena rasio ini mengukur seberapa efektif perusahaan menghasilkan return bagi para investor. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin besar nilai profitabilitas perusahaan, yang pada akhirnya dapat menjadi sinyal positif bagi investor dalam melakukan

28

investasi untuk memperoleh return tertentu. Tingkat return yang diperoleh menggambarkan seberapa baik nilai perusahaan di mata investor. Apabila perusahaan berhasil membukukan tingkat keuntungan yang besar, maka hal ini akan memotivasi para investor untuk menanamkan modalnya pada saham, sehingga harga saham dan permintaan akan saham pun akan meningkat. Harga saham dan jumlah saham yang beredar akan mempengaruhi nilai Tobins Q sebagai proksi dari nilai perusahaan, jika harga saham dan jumlah saham yang beredar naik, maka nilai Tobins Q juga akan naik. Tobins Q yang bernilai lebih dari 1, menggambarkan bahwa perusahaan menghasilkan earning dengan tingkat return yang sesuai dengan harga perolehan asset-asetnya ( Tobins dan Brainard, 1977). Hal ini selaras dengan penelitian Wahyuni (2005) yang menunjukkan bahwa rasio profitabilitas ROE berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, H1 : Kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Adanya ketidakkonsistenan hubungan antara kinerja keuangan dalam hal ini ROE terhadap nilai perusahaan, seperti yang telah disebutkan dalam Bab I, bahwa terdapat berbagai hasil penelitian yang mengungkapkan ROE mempunyai pengaruh positif dan negatif terhadap nilai perusahaan, diduga terdapat variabel kontingen yang turut menginteraksi. Dalam penelitian ini, variabel kontingen yang akan digunakan adalah pengungkapan CSR.

29

Variabel kontingen CSR akan turut menginteraksi hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan pada suatu kondisi tertentu. Desakan lingkungan perusahaan menuntut perusahaan agar menerapkan strategi untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Strategi perusahaan seperti CSR dapat dilakukan untuk memberikan image

perusahaan

yang

baik

kepada

pihak

eksternal.

Perusahaan

dapat

memaksimalkan modal pemegang saham, reputasi perusahaan, dan kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan dengan menerapkan CSR. Telah disebutkan dalam UU bahwa perusahaan yang aktivitasnya berhubungan dengan lingkungan alam wajib menerapkan CSR. Perusahaan tidak hanya memandang laba sebagai satu-satunya tujuan dari perusahaan tetapi ada tujuan yang lainnya yaitu kepedulian perusahaan terhadap lingkungan, karena perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya mencari laba untuk pemegang saham (Gray et. al., 1987).

Disamping kinerja keuangan yang akan dilihat investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam suatu perusahaan, adanya pengungkapan item CSR dalam laporan keuangan diharapkan akan menjadi nilai plus yang akan menambah kepercayaan para investor, bahwa perusahaan tersebut akan terus berkembang dan berkelanjutan (sustainable). Para konsumen akan lebih mengapresiasi perusahaan yang

mengungkapkan

CSR

dibandingkan

dengan

perusahaan

yang

tidak

mengungkapkan CSR, mereka akan membeli produk yang sebagian laba dari produk tersebut disisihkan untuk kepentingan sosial lingkungan, misalnya untuk beasiswa, pembangunan fasilitas masyarakat, program pelestarian lingkungan, dan lain

30

sebagainya. Hal ini akan berdampak positif terhadap perusahaan, selain membangun image yang baik di mata para stakeholder karena kepedulian perusahaan terhadap sosial lingkungan, juga akan menaikkan laba perusahaan melalui peningkatan penjualan. Dengan demikian nilai ROE akan tinggi, dan akan menarik perhatian para investor untuk berinvestasi serta berpengaruh bagi peningkatan kinerja saham di bursa efek. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis alternatif yang diajukan adalah sebagai berikut.

H2 :Pengungkapan CSR mempengaruhi hubungan antara kinerja keuangan dengan nilai perusahaan. Peneliti juga memasukkan variabel kontingen GCG sebagai suatu struktur yang sistematis untuk memaksimalkan nilai perusahaan. GCG mensyaratkan adanya tata kelola perusahaan yang baik. Tata kelola perusahaan yang baik menggambarkan bagaimana usaha manajemen mengelola aset dan modalnya dengan baik agar menarik para investor. Pengelolaan aset dan modal suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja keuangan yang ada. Jika pengelolaannya dilakukan dengan baik maka otomatis akan meningkatkan nilai perusahaan. Proksi dari GCG yang digunakan adalah kepemilikan manajerial. Menurut Wahyudi dan Pawestri (2006), penyatuan kepentingan pemegang saham, debtholders, dan manajemen yang notabene merupakan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap tujuan perusahaan seringkali menimbulkan masalah-masalah (agency

31

problem). Agency problem dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional). Struktur kepemilikan dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan.

Hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki.

Hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan akan diperkuat oleh kepemilikan manajerial karena semakin besar proporsi kepemilikan manajerial pada perusahaan, maka manajemen cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang saham dimana pemegang saham adalah dirinya sendiri (Gray et.al,1998). Dengan adanya motivasi tersebut, maka manajer akan berusaha semaksimal mungkin untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Jadi, jika perusahaan menerapkan sistem GCG, diharapkan kinerja perusahaan tersebut akan meningkat menjadi lebih baik, dengan meningkatnya kinerja perusahaan diharapkan juga dapat meningkatkan harga saham perusahaan sebagai indicator dari nilai perusahaan, sehingga nilai perusahaan meningkat. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis alternatif yang diajukan adalah sebagai berikut. H3 : Good Corporate Governance mempengaruhi hubungan antara kinerja keuangan dengan nilai perusahaan.

32

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

3.1.1 Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan yang diproksikan dengan return on equity (ROE). Dari semua rasio fundamental yang dilihat oleh investor, salah satu rasio yang terpenting adalah ROE. ROE menunjukkan apakah manajemen meningkatkan nilai perusahaan pada tingkat yang dapat diterima (Investopedia, 2009). Untuk memperoleh nilai ROE, dihitung dengan rumus: ROE

= Laba Bersih untuk pemegang Saham Biasa x 100% Ekuitas Saham Biasa

(3.1)

3.1.2 Variabel Pemoderasi Variabel moderasi adalah variabel yang mempunyai pengaruh ketergantungan (contingent effect) yang kuat dengan hubungan variabel terikat dan variabel bebas (Sekaran, 2006). Terdapat dua variabel moderasi dalam penelitian ini yaitu: a. Pengungkapan CSR Pengungkapan CSR adalah pengungkapan informasi yang berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan di dalam laporan tahunan. Pengukuran CSR mengacu pada 78 item pengungkapan yang digunakan oleh Siregar (2008). Pengukuran variabel ini dengan indeks pengungkapan sosial, selanjutnya ditulis CSR dengan membandingkan jumlah pengungkapan yang diharapkan. Pengungkapan sosial

33

merupakan data yang diungkap oleh perusahaan berkaitan dengan aktifitas sosialnya yang meliputi 13 item lingkungan, 7 item energi, 8 item kesehatan dan keselamatan kerja, 29 item lain-lain tenaga kerja, 10 item produk, 9 item keterlibatan masyarakat, dan 2 item umum, seperti nampak pada lampiran A. b. Good Corporate Governance Good Corporate Governance diproksikan dengan kepemilikan manajerial. Pengukuran kepemilikan manajerial menggunakan rumus: Kepemilikan Manajerial = % kepemilikan saham oleh manajer, direktur, komisaris (KM) Jumlah saham beredar

(3.2)

3.1.3 Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Pengukuran nilai perusahaan menggunakan Tobin’s Q yang dikembangkan oleh White at al, 2002. Tobin’s Q diukur dengan rumus: Q

= ( EMV + D) ( EBV + D)

(3.3)

Keterangan: EMV ( Nilai Pasar Ekuitas) = P (Closing Price) x Qshares (Jumlah saham yang beredar) D ( Debt )

= Nilai buku dari total hutang

EBV

= Nilai buku dari total aktiva

34

3.2

Populasi dan Sampel Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang

mempunyai karakteristik tertentu, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan sebagai objek penelitian (Indriantoro dan Supomo, 2002). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang termasuk dalam kelompok industri manufaktur yang telah terdaftar di BEJ. Dipilihnya satu kelompok industri yaitu industri manufaktur sebagai populasi dimaksudkan untuk menghindari bias yang disebabkan oleh efek industri (industrial effect), dan selain itu sektor manufaktur memiliki jumlah terbesar perusahaan dibandingkan sektor lainnya. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan purposive sampling yang berarti pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Adapun kriteria perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel antara lain: a. Semua perusahaan yang termasuk dalam kelompok industri manufaktur yang terdaftar di BEJ dan mempublikasikan laporan keuangan berturut-turut dari tahun 2007 sampai dengan 2009. Dipilihnya rentang tahun 2007-2009, karena pada rentang tahun tersebut terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2008, dan peneliti ingin melihat pengaruh krisis global tersebut pada perusahaan manufaktur di Indonesia. b. Perusahaan sampel tidak mengalami delisting selama periode pengamatan. c. Tersedia laporan keuangan perusahaan secara lengkap selama tahun 2008-2009, baik secara fisik maupun melalui website www.idx.co.id atau pada website masing-masing perusahaan.

35

d. Memiliki data keuangan yang berkaitan dengan variabel penelitian secara lengkap. 3.3

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

penelitian diambil dari laporan tahunan perusahaan yang telah diaudit dan dipublikasikan. Data diperoleh antara lain dari: a. Bursa Efek Jakarta, www.idx.co.id, b. ICMD (Indonesian Capital Market Directory), c. Pojok BEJ Fakultas Ekonomi Undip Semarang. 3.4

Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi,

yaitu mempelajari catatan-catatan perusahaan yang diperlukan yang terdapat didalam annual report perusahaan yang menjadi sampel penelitian seperti informasi pengungkapan CSR, ROE, kepemilikan manajerial, dan data lain yang diperlukan. Pengukuran kinerja CSR adalah melalui laporan kegiatannya, yakni dengan metode content analysis yang merupakan suatu cara pemberian skor pada pengukuran pengungkapan sosial laporan tahunan yang dilakukan dengan pengamatan mengenai ada tidaknya suatu item informasi yang ditentukan dalam laporan tahunan, apabila item informasi tidak ada dalam laporan keuangan maka diberi skor 0, dan jika item informasi yang ditentukan ada dalam laporan tahunan maka diberi skor 1. 3.5

Metode Analisis Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ROE berpengaruh terhadap

nilai perusahaan, serta untuk menguji apakah pengungkapan CSR dan struktur

36

kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara ROE dan nilai perusahaan. Untuk itu akan digunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Sebelum analisis ini dilaksanakan, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi klasik untuk menghasilkan nilai parameter model penduga yang sah. Nilai tersebut akan terpenuhi jika hasil uji asumsi klasiknya memenuhi asumsi normalitas, serta tidak terjadi heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas. 3.5.1 Uji Asumsi Klasik 3.5.1.1 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2007). Ada dua cara untuk mengetahui apakah residual terdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Karena analisis grafik dapat menyesatkan, maka dipilih uji statistik Kolmogorov-Smirnov dengan melihat tingkat signifikansinya. Uji ini dilakukan sebelum data diolah. Pendeteksian normalitas data apakah terdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Residual dinyatakan terdistribusi normal jika nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov >0,05. 3.5.1.2 Uji Heteroskedastisitas Tujuan uji heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya ( Ghozali, 2007). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas, yaitu jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji grafik plot dan uji statistik. Uji

37

statistik Glejser dipilih karena lebih dapat menjamin keakuratan hasil dibandingkan dengan uji grafik plot yang dapat menimbulkan bias. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan variabel bebas terhadap nilai absolute residualnya (Gujarati, 2003). Interpretasi heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat signifikansi ROE terhadap nilai absolute residual. Gangguan heteroskedastisitas terjadi jika terdapat pengaruh yang signifikan antara ROE terhadap absolute residualnya. Apabila tingkat probabilitas signifikansi ROE < 0.05, maka dapat dikatakan mengandung heteroskedastisitas. 3.5.1.3 Uji Autokorelasi Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah didalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Ghozali, 2005). Pendeteksian ada atau tidaknya autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson. Pengambilan keputusan dapat dilihat melalui tabel autokorelasi berikut ini. Tabel 3.1 Tabel Autokorelasi Hipotesis nol Keputusan Tidak ada autokorelasi positif Tolak Tidak ada autokorelasi positif No decision Tidak ada korelasi negatif Tolak Tidak ada korelasi negatif No decision Tidak ada autokorelasi positif atau negatif Tidak ditolak Sumber: Ghozali, 2005.

Jika 0 < d < dl dl ≤ d ≤ du 4 – dl < d < 4 4 – du ≤ d ≤ 4 - dl du < d < 4 - du

38

Jumlah n (sampel) sebanyak 68, dan jumlah variabel independen k = 3. Jumlah n yang akan digunakan adalah n = 100. Nilai dl dan du jika dilihat pada tabel DW, tingkat signifikansi 0,05 adalah 1,613 dan 1,736. 3.5.1.4 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2005). Untuk menguji multikolinearitas dengan cara melihat nilai VIF masing-masing variabel independen, jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala multikolinearitas. 3.5.2 Uji Model Model persamaan regresi yang akan diuji adalah sebagai berikut: Tobins Q = a + b1 ROE + e

( 3.4 )

Tobins Q = a + b1ROE + b2CSR + b3 ROE.CSR + e

( 3.5 )

Tobins Q = a + b1ROE + b2 KM + b3 ROE.KM + e

( 3.6 )

Keterangan : Tobins Q

: Nilai Perusahaan

a

: Konstanta

b1, b2, b3

: Koefisien regresi

ROE

: Variabel ROE

CSR

: Variabel pengungkapan CSR

KM

: Variabel Kepemilikan Manajerial

e

: Error

39

Menurut Ghozali (2007), ketepatan fungsi regresi tersebut dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fit-nya, yang secara statistik dapat diukur dari koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. 3.5.2.1 Uji R² atau Koefisien Determinasi Koefisien determinasi merupakan ikhtisar yang menyatakan seberapa baik garis regresi mencocokkan data (Ghozali, 2007). Nilai R² berkisar antara 0-1. Nilai yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Sebaliknya, nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. 3.5.2.2 Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji Statistik F) Uji statistik F menunjukkan apakah variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel dependennya. Kriteria pengambilan keputusannya, yaitu: a. Bila F hitung > F tabel atau probabilitas < nilai signifikan ( Sig ≤ 0,05), maka hipotesis tidak dapat ditolak, ini berarti bahwa secara simultan variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. b. Bila F hitung < F tabel atau probabilitas > nilai signifikan ( Sig ≥ 0,05), maka hipotesis diterima, ini berarti bahwa secara simultan variabel independen tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

40

3.5.2.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh masing-masing variabel independen secara individu dalam menerangkan variasi variabel dependen. Pada uji statistik t, nilai t hitung akan dibandingkan dengan nilai t tabel, dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Bila t hitung > t tabel atau probabilitas < tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka Ha diterima dan Ho ditolak, variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. b. Bila t hitung < t tabel atau probabilitas > tingkat signifikansi (Sig > 0,05), maka Ha ditolak dan Ho diterima, variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. 3.5.2.4 Analisis Regresi Moderasi (Moderated Regression Analysis) Tujuan analisis ini untuk mengetahui apakah variabel moderating akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Terdapat tiga model pengujian regresi dengan variabel moderating, yaitu uji interaksi (MRA), uji nilai selisih mutlak, dan uji residual. Dalam penelitian ini akan digunakan uji MRA, hipotesis moderating diterima jika variabel Moderasi CSR (ROE-CSR) dan variabel Moderasi KM (ROE-KM) mempunyai pengaruh signifikan terhadap Tobins Q.

41

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

4.1

Deskripsi Objek Penelitian Berdasarkan data yang diperoleh dari IDX dan ICMD, diketahui bahwa

perusahaan publik yang terdaftar berjumlah 393 perusahaan. Sampel dari penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur dalam rentang tahun 2007-2009. Dipilihnya kelompok industri ini sebagai populasi dimaksudkan untuk menghindari bias yang disebabkan oleh efek industri (industrial effect), selain itu sektor manufaktur merupakan kelompok dengan jumlah emiten terbesar perusahaan dibandingkan dengan sektor lainnya. Sampel awal yang diperoleh berjumlah 193 perusahaan, namun setelah diseleksi berdasarkan kriteria yang ditetapkan maka diperoleh sampel akhir sebanyak 34 perusahaan. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria yang telah ditentukan dalam BAB III. Penentuan sampel dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini. Tabel 4.1 Hasil Penentuan Sampel Kriteria Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Perusahaan yang tidak sesuai kriteria Perusahaan dengan data keuangan tidak lengkap Perusahaan yang menggunakan mata uang asing Jumlah Sampel Sumber: data yang diolah

Jumlah 193 (129) (28) (2) 34

42

Data keuangan diperoleh melalui laporan keuangan dan laporan tahunan dari perusahaan sampel selama tahun 2007-2009, sehingga dilakukan 102 observasi. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat dalam Tabel 4.2 berikut.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

Tabel 4.2 Daftar Perusahaan yang menjadi Sampel Penelitian Nama Perusahaan PT. Siantar Top Tbk PT. Ultrajaya Milk Tbk PT. Pan Brothers Tex PT. Indo Acidatama Tbk PT. Barito Pasific Tbk PT. AKR Corporindo Tbk PT. Budi Acid Jaya Tbk PT. Lautan Luas Tbk PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk PT. Argha Karya Prima Industri Tbk PT. Asiaplast Industries Tbk PT. Berlina Tbk PT. Dynaplast Tbk PT. Langgeng Makmur Plastik Industry Ltd Tbk PT. Betonjaya Manunggal Tbk PT. Lion Mesh Prima Tbk PT. Kedaung Indah Can Tbk PT. Metrodata Electronics Tbk PT. Indo Kordsa Tbk PT. Intraco Penta Tbk PT. Prima Alloy Steel Tbk PT. Perdana Bangun Pusaka PT. Inter Delta Tbk PT. Pyridam Farma Tbk PT. Mandom Indonesia Tbk PT. Steady Safe Tbk PT. Samudera Indonesia Tbk PT. Pelayaran Tempuran Mas Tbk PT. Akbar Indo Makmur Stimec Tbk PT. Multi Indocitra Tbk PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk PT. Millenium Pharmacon Internasional Tbk

Kode STTP ULTJ PBRX SRSN PBRX AKRA BUDI LTLS DPNS AKPI APLI BRNA DYNA LMPI BTON LMSH KICI MTDL BRAM INTA PRAS KONI INTD PYFA TCID SAFE SMDR TMAS AIMS MICE RALS SDPC

43

33 PT. Tigaraksa Satria Tbk 34 PT. Toko Gunung Agung Tbk Sumber: Data IDX 2009

TGKA TKGA

Variabel-variabel yang diteliti dari perusahaan sampel meliputi ROE sebagai variabel independen, Tobins Q sebagai variabel dependen, serta indeks CSR dan proporsi kepemilikan manajerial sebagai variabel moderat. Untuk menghitung nilai Tobins Q diperlukan data mengenai harga penutupan saham akhir tahun, jumlah saham beredar akhir tahun, total utang, dan total modal dari masing-masing perusahaan sampel. 4.2

Hasil Analisis Data

4.2.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif Hasil dari pengujian statistik deskriptif dari variabel Tobins Q, ROE, CSR, dan KM dari tahun 2007-2009 disajikan dalam tabel dibawah ini. Tabel 4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

Tobins_Q

102

.14

4.80

.7332

.54002

ROE

102

-54.42

65.85

7.1929

16.00312

CSR

102

.09

.55

.2865

.12460

KM

102

.00

25.61

6.4986

8.14632

Valid N (listwise)

102

Sumber: Data sekunder diolah melalui SPSS 17, 2010

Dari hasil uji statistik deskriptif pada tabel diatas, didapatkan informasi sebagai berikut: Variabel Tobins Q memiliki rentang nilai dari 0,14 hingga 4,80. Nilai terendah dimiliki oleh PT. Indo Kordsa pada tahun 2009, dan nilai tertinggi dimiliki

44

oleh PT. Indo Acidatama Tbk pada tahun 2007. Nilai rata-rata Tobins Q 0,7332 dan deviasi standarnya bernilai 0,54002. Tobins Q yang bernilai lebih dari 1 mempunyai arti bahwa perusahaan menghasilkan earning dengan tingkat return yang sesuai dengan harga perolehan aset-asetnya. Variabel ROE memiliki rentang nilai dari -54,42 hingga 65,85. Nilai terendah dimiliki oleh PT. Pelayaran Tempuran Mas Tbk pada tahun 2009, sedangkan nilai tertinggi dimiliki oleh PT. Toko Gunung Agung Tbk tahun 2007. Nilai rata-rata ROE menunjukkan nilai 7,1929. Sedangkan standar deviasi menunjukkan nilai 16,00312. Variabel pengungkapan CSR memiliki rentang nilai dari 0,09 hingga 0,55. Rentang nilai terendah dimiliki oleh PT. Betonjaya Manunggal pada tahun 2008 dan PT. Pyridam Farma pada tahun 2009. Rentang nilai tertinggi dimiliki oleh PT. AKR Corporindo pada tahun 2009. Nilai rata-rata dari variabel CSR 0,2865 dan deviasi standarnya bernilai 0,12460. Jika dilihat dari nilai rata-rata variabel CSR, dapat diperoleh informasi bahwa rata-rata jumlah item yang diungkapkan oleh para emiten kurang lebih hanya 22 dari 78 item pengungkapan. Variabel prosentase kepemilikan manajerial memiliki rentang nilai dari 0,00 hingga 25,61. Prosentase kepemilikan terendah dimiliki oleh PT. Millenium Pharmacon International, PT. Akbar Indo Makmur, PT. Steady Safe, PT. Inter Delta, PT. Pan Brothers pada tahun 2007, PT. Indo Acidatama pada tahun 2008, PT. Budi Acid Jaya, PT Indo Acidatama pada tahun 2009, dan prosentase kepemilikan manajerial tertinggi dimiliki oleh PT. Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2009. Rata-

45

rata prosentase kepemilikan manajerial menunjukkan angka 6,4986 dan deviasi standar 8,14632. 4.2.2 Hasil Uji Asumsi Klasik 4.2.2.1 Hasil Uji Normalitas Pengujian normalitas mengggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas pada tabel 4.4 terlihat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov 2,085 dan signifikan pada 0,000 hal ini berarti data residual terdistribusi tidak normal. Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data dengan Uji Statistik Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N Normal Parametersa,,b

102 Mean Std. Deviation

Most Extreme Differences

Absolute

.0000 .53219 .206

Positive

.206

Negative

-.198

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

2.085 .000

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber: Data sekunder diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.2.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas Dari hasil Uji Glejser diperoleh nilai signifikansi dari ROE yaitu 0,087, CSR 0,807, dan KM 0,250. Apabila tingkat probabilitas signifikansi ROE, CSR, dan KM < 0,05, maka dapat dikatakan mengandung heteroskedastisitas, jadi dapat disimpulkan bahwa data residual tidak terjadi heteroskedastisitas.

46

Tabel 4.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B

Std. Error

Standardized Coefficients Beta

t

Sig.

(Constant)

.287

.112

2.568

.012

ROE

.005

.003

.172

1.727

.087

CSR

.085

.349

.024

.245

.807

-.006

.005

-.116

-1.158

.250

KM a. Dependent Variable: Abs_Res

Sumber: data diolah melaui SPSS 17, 2010.

4.2.2.3 Hasil Uji Autokorelasi Pengujian menggunakan uji Durbin Watson yang hasilnya ditunjukkan pada tabel sebagai berikut. Nilai DW sebesar 2,139, nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan signifikansi 5%. Untuk jumlah sampel n = 100, nilai dl = 1,613 dan du = 1,736. Oleh karena nilai DW 2,139 > 1,736 dan < 2,264(4 – 1,736), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi. Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model 1

R a

.170

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

.029

.000

.54027

2.139

a. Predictors: (Constant), KM, ROE, CSR b. Dependent Variable: Tobins_Q

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.2.4 Hasil Uji Multikolinearitas Output SPSS menunjukkan semua variabel independen mempunyai nilai VIF < 10, yang berarti data terbebas dari multikolinearitas.

47

Tabel 4.7 Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B

Std. Error

Standardized Coefficients Beta

Collinearity Statistics t

Sig.

Tolerance

VIF

(Constant)

.752

.139

5.404

.000

ROE

.005

.003

.135

1.350

.180

.992

1.009

CSR

-.007

.435

-.002

-.015

.988

.986

1.014

KM

-.008

.007

-.116

-1.149

.253

.977

1.023

a. Dependent Variable: Tobins_Q

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.3 Penormalan Data dengan Logaritma Natural Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap semua variabel, ternyata semua asumsi terpenuhi kecuali asumsi normalitas data. Oleh karena itu, variabel dependen dan independen akan ditransformasikan menjadi bentuk logaritma natural (Ghozali, 2006). Data oulier akibat akibat pengubahan data sebanyak 20 observasi, sehingga data yang tersisa sebanyak 82 observasi. Persamaan regresinya menjadi LN Tobins = f (LN ROE, LN CSR, LN KM). 4.2.3.1 Hasil Uji Normalitas Tabel 4.8 menunjukkan hasil nilai Kolmogorov-Smirnov 1,134 dan tidak signifikan pada 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa residual telah terdistribusi normal.

48

Tabel 4.8 Hasil Uji Kolmogorov –Smirnov Setelah Transformasi Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N

82

Normal Parametersa,,b

Mean

.0000000

Std. Deviation Most Extreme Differences

.48690420

Absolute

.125

Positive

.125

Negative

-.105

Kolmogorov-Smirnov Z

1.134

Asymp. Sig. (2-tailed)

.153

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.3.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas Dari tabel 4.9 terlihat bahwa nilai dari variabel independen tidak ada yang signifikan pada 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Tabel 4.9 Hasil Uji Glejser Setelah Transformasi Data Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B

Std. Error

(Constant)

.490

.120

LN_ROE

.006

.026

LN_CSR

.100

.075

-.012

.015

LN_KM

Standardized Coefficients Beta

t

Sig. 4.098

.000

.024

.211

.834

.149

1.334

.186

-.091

-.802

.425

a. Dependent Variable: AbsUt

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.3.3 Hasil Uji Auto Korelasi Tampilan output SPSS pada tabel 4.10 menunjukkan nilai DW sebesar 1,747. Didapat nilai dl 1,613 dan du 1736 untuk n = 100 dan k = 3. Oleh karena DW hitung > du dan < 4 – du, berarti tidak ada autokorelasi antar residual.

49

Tabel 4.10 Hasil Uji Auto Korelasi Setelah Transformasi Data Model Summaryb Model

R

R Square .274a

1

Adjusted R Square

.075

Std. Error of the Estimate

.039

Durbin-Watson

.49618

1.747

a. Predictors: (Constant), LN_KM, LN_CSR, LN_ROE b. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.3.4 Hasil Uji Multikolinearitas Output SPSS pada tabel 4.11 menunjukkan variabel LN ROE, LN CSR, dan LN KM mempunyai nilai VIF < 10, artinya data terbebas dari multikolinearitas. Tabel 4.11 Hasil Uji Multikolinearitas Setelah Transformasi Data Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B (Constant)

Standardized Coefficients

Std. Error

Beta

Collinearity Statistics t

-.575

.182

LN_ROE

.054

.040

.150

LN_CSR

-.048

.113

LN_KM

-.050

.023

Sig.

Tolerance

VIF

-3.165

.002

1.362

.177

.981

1.019

-.046

-.421

.675

.995

1.005

-.243

-2.203

.031

.977

1.024

a. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.4 Hasil Uji Model Hipotesis 1 (H1) 4.2.4.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi Dari output SPSS pada tabel 4.12, menunjukkan besarnya nilai Adjusted R Square sebesar 0,01. Nilai ini menerangkan besarnya peran atau kontribusi variabel independen ROE yang mampu menjelaskan variabel Tobins Q hanya sebesar 0,1%. Nilai Standard Error of the Estimate (SEE) yang kecil yaitu sebesar 0,50375, membuat model regresi ini tepat digunakan dalam memprediksi variabel dependen.

50

Tabel 4.12 Hasil Uji Goodness Fit of Test ROE Terhadap Tobins Q Model Summary Model

R

R Square .112a

1

Std. Error of the Estimate

Adjusted R Square

.013

.001

.50375

a. Predictors: (Constant), LN_ROE

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.4.2 Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) Dari output hasil uji statistik F yang terdapat dalam tabel 4.13, dapat diperoleh nilai probabilitas (F hitung) sebesar 1,094 dan signifikan pada 0,299. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara simultan variabel independen tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependennya yaitu Tobins Q. Tabel 4.13 Hasil Uji F ROE Terhadap Tobins Q ANOVAb Model 1

Sum of Squares Regression

df

Mean Square

.280

1

.280

Residual

20.479

80

.256

Total

20.759

81

F

Sig. 1.094

.299a

a. Predictors: (Constant), LN_ROE b. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.4.3 Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) Dari tabel 4.14 terlihat nilai t (t-hitung) dalam regresi menunjukkan pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. LN ROE memiliki t hitung sebesar 1,046 dengan signifikansi 0,299, berarti tidak terdapat pengaruh LN ROE terhadap LN Tobins Q.

51

Tabel 4.14 Hasil Uji t ROE terhadap Tobins Q Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model

B

1

Std. Error

(Constant) LN_ROE

-.512

.098

.042

.040

Standardized Coefficients Beta

t

.116

Sig. -5.203

.000

1.046

.299

a. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.5 Hasil Uji Model Hipotesis 2 (H2) dengan Moderated Regression Analysis (MRA) 4.2.5.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi Tampilan output SPSS pada tabel 4.15 menunjukkan besarnya adjusted R² sebesar -0,020, hal ini berarti -2% variasi Tobins Q yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen ROE, CSR, dan Moderasi CSR. Dengan kata lain variasi variabel dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independennya. Tabel 4.15 Hasil Uji Koefisien Determinasi ROE, CSR, dan Moderasi CSR Model Summary Model 1

R

R Square .132a

.017

Adjusted R Square -.020

Std. Error of the Estimate .51137

a. Predictors: (Constant), Moderasi_CSR, LN_CSR, LN_ROE

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.5.2 Hasil Uji Statistik F Uji statistik F menghasilkan F hitung sebesar 0,462 dengan tingkat signifikansi 0,710. Karena probabilitas signifikansi > 0,05, maka model regresi tidak dapat digunakan untuk memprediksi Tobins Q atau dapat dikatakan bahwa ROE, CSR, dan Moderasi CSR secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap Tobins Q.

52

Tabel 4.16 Hasil Uji Statistik F ROE, CSR, dan Moderasi CSR ANOVAb Model 1

Sum of Squares Regression

df

Mean Square

.362

3

.121

Residual

20.397

78

.261

Total

20.759

81

F

Sig. .710a

.462

a. Predictors: (Constant), Moderasi_CSR, LN_CSR, LN_ROE b. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.5.3 Hasil Uji Statistik t Dari ketiga variabel yang dimasukkan dalam model regresi, tidak ada satupun variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap Tobins Q. Variabel ROE memberikan koefisien parameter 0,027 dengan tingkat signifikansi 0,890, variabel CSR memberikan koefisien parameter -0,043 dengan tingkat signifikansi 0,892. Variabel moderasi CSR yang memiliki koefisien parameter -0,010 ternyata tidak signifikan karena nilai Sig. 0,940 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Moderasi CSR bukan merupakan variabel moderating. Tabel 4.17 Hasil Uji Statistik t ROE, CSR, dan Moderasi CSR Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B (Constant)

Std. Error

Standardized Coefficients Beta

t

-.568

.465

LN_ROE

.027

.197

LN_CSR

-.043

.313

Moderasi_CSR

-.010

.130

-.046

a. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

Sig. -1.220

.226

.076

.139

.890

-.041

-.136

.892

-.076

.940

53

4.2.6 Hasil Uji Model Hipotesis 3 (H3) dengan Moderated Regression Analysis (MRA) 4.2.6.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi Tampilan output SPSS pada tabel 4.18 menunjukkan besarnya adjusted R² sebesar 0,105, hal ini berarti hanya 10,5% variasi Tobins Q yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen ROE, KM, dan Moderasi KM. Sedangkan sisanya (100% - 10,5% = 89,5%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Tabel 4.18 Hasil Uji Koefisien Determinasi ROE, KM, dan Moderasi KM Model Summary Model

R

R Square .372a

1

Std. Error of the Estimate

Adjusted R Square

.138

.105

.47891

a. Predictors: (Constant), Moderasi_KM, LN_ROE, LN_KM

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.6.2 Hasil Uji Statistik F Uji statistik F menghasilkan F hitung sebesar 4,171 dengan tingkat signifikansi 0,09. Karena probabilitas signifikansi < 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Tobins Q atau dapat dikatakan bahwa ROE, KM, dan Moderasi KM secara bersama-sama berpengaruh terhadap Tobins Q. Tabel 4.19 Hasil Uji Statistik F ROE, KM, dan Moderasi KM ANOVAb Model 1

Sum of Squares Regression

df

Mean Square

2.870

3

.957

Residual

17.889

78

.229

Total

20.759

81

a. Predictors: (Constant), Moderasi_KM, LN_ROE, LN_KM b. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

F

Sig. 4.171

.009a

54

4.2.6.3 Hasil Uji Statistik t Dari ketiga variabel yang dimasukkan dalam model regresi, hanya variabel Moderasi KM yang signifikan terhadap LN Tobins Q, mempunyai nilai t hitung 2,433, koefisien parameter -0,053 dengan probabilitas signifikansi 0,017 < 0,05. Sedangkan variabel LN ROE memberikan koefisien parameter 0,042 dengan tingkat signifikansi 0,279, variabel LN KM memberikan koefisien parameter 0,49 dengan tingkat signifikansi 0,291. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Moderasi KM merupakan variabel moderating. Tabel 4.20 Hasil Uji Statistik t ROE, KM, dan Moderasi KM Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1

B (Constant)

Std. Error -.457

.096

LN_ROE

.042

.039

LN_KM

.049

.046

-.053

.022

Moderasi_KM

Standardized Coefficients Beta

t

Sig. -4.781

.000

.117

1.091

.279

.241

1.064

.291

-.547

-2.433

.017

a. Dependent Variable: LN_Tobin

Sumber: Data diolah melalui SPSS 17, 2010.

4.2.7 Hasil Pengujian Hipotesis Dari model persamaan regresi yang digunakan, ada tiga hipotesis yang diuji, hasil perhitungan regresi ditunjukkan dalam Tabel 4.21 sebagai berikut.

55

Tabel 4.21 Hasil Perhitungan Regresi Hipotesis

Persamaan

Adjusted R²

F Hitung

Sig.

t hitung

Sig.

Keputusan

H1

LN Tobin = -0,512 + 0,42 LN ROE

0,001

1,094

0,299

1

0,299

Ditolak

H2

LN Tobin = -0,568 + 0,027 LN ROE - 0,043 LNCSR - 0,010 Moderasi CSR

-0,020

0,462

0,710

-0,076

0,94

Ditolak

H3

LN Tobin = -4,57 + 0,042 LN ROE + 0,049 LN KM - 0,053 Moderasi KM

0,105

4,171

0,009

-2,433

0,017

Ditolak

Uji Hipotesis Pertama (H1) Hipotesis pertama menguji pengaruh variabel LN ROE terhadap LN Tobins Q. Dari tabel 4.14 terlihat bahwa tingkat signifikansi probabilitas ROE sebesar 0,299. Karena tingkat signifikansi probabilitas LN ROE lebih besar dari 0,05, maka hipotesis pertama (h 1) ditolak.

Uji Hipotesis Kedua (H2) Hipotesis kedua menguji pengaruh variabel pengungkapan CSR yang diduga mempengaruhi hubungan antara variabel LN ROE dan LN Tobins Q. Dari tabel 4.17 ditampilkan tingkat signifikansi probabilitas LN CSR sebesar 0,892 dan tingkat signifikansi Moderasi CSR sebesar 0,940. Tingkat signifikansi keduanya sangat jauh diatas 0,05, maka dapat disimpulkan hipotesis kedua (h 2) ditolak.

56

Uji Hipotesis Ketiga (H3) Hipotesis ketiga menguji pengaruh variabel kepemilikan manajerial (KM) yang diduga mempengaruhi hubungan antara variabel ROE dan Tobins Q. Tabel 4.20 menunjukkan tingkat signifikasi probabilitas variabel LN KM dan Moderasi KM yang masing-masing diperoleh nilai sebesar 0,291 dan 0,017. Variabel moderasi KM signifikan pada 0,05, walaupun nilai t hitungnya menunjukkan nilai -2,433, yang berarti semakin tinggi moderasi KM, maka hubungan antara ROE dan Tobins Q semakin menurun. Dengan demikian, maka hipotesis ketiga (h 3) ditolak. 4.3

Interpretasi Hasil Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa hasil

penelitian. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap Tobins Q, begitu pula dengan pengungkapan CSR yang tidak mampu memoderasi hubungan antara ROE dengan Tobins Q, akan tetapi kepemilikan manajerial mampu mempengaruhi hubungan antara ROE dengan Tobins Q walaupun arahnya negatif. 4.3.1 Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan Dari hasil uji parsial ROE terhadap nilai perusahaan diketahui bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Herdiana (2003), Wibowo (2005), Sasongko dan Wulandari (2006) bahwa tidak ada pengaruh antara ROE dan nilai perusahaan. Dalam annual report perusahaan sampel, terdapat laporan kinerja emiten, diantaranya sambutan direksi, dewan komisaris yang didalamnya bisa diperoleh

57

informasi bahwa krisis ekonomi dunia yang terjadi pada tahun 2008, juga berdampak terhadap perekonomian nasional dan masih berlanjut hingga tahun 2009. Melemahnya permintaan pelanggan dan meningkatnya penawaran di pasar memaksa perusahaan untuk mengubah strategi penjualannya dengan menurunkan harga jual produk/jasa yang berarti turun pula laba yang didapat. Para investor memilih untuk mengamankan uang dengan menariknya besar-besaran, sehingga nilai perusahaan pun menyusut. Keadaan ini akan memaksa perusahaan untuk meminimalisir kerugian dengan melakukan restrukturisasi modal yang akan menambah pinjaman. Tingginya suku bunga kredit karena dampak dari krisis global harus dibayar perusahaan walaupun akan mengurangi laba bersih perusahaan dan beresiko pada turunnya nilai perusahaan. 4.3.2 Pengaruh pengungkapan CSR terhadap hubungan kinerja keuangan dengan nilai perusahaan. Dari

hasil

pengujian

diketahui

bahwa

pengungkapan

CSR

tidak

mempengaruhi hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Hasil ini mendukung penelitian Hidayat (2010). Secara teori, pengungkapan CSR seharusnya dapat menjadi pertimbangan investor sebelum berinvestasi, karena didalamnya mengandung informasi sosial yang telah dilakukan perusahaan. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk berinvestasi oleh para investor (Verecchia, 1983, dalam Basamalah et al, 2005). Akan tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investor tidak merespon atas pengungkapan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan.

58

Dalam UU Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 Bab IV mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan disebutkan bahwa perseroan yang menjalan kan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Terdapat indikasi bahwa para investor tidak perlu melihat pengungkapan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan, karena terdapat jaminan yang tertera pada UU Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007, bahwa perusahaan pasti melaksanakan CSR dan mengungkapkannya, karena apabila perusahaan tidak melaksanakan CSR, maka perusahaan akan terkena sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4.3.3 Pengaruh GCG terhadap hubungan kinerja keuangan dengan nilai perusahaan. Variabel interaksi ROE dan KM memiliki hubungan terbalik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa seiring kenaikan KM, maka hubungan ROE dan Tobins akan menurun. Hal ini mendukung penelitian Demsetz (1983), Fama dan Jensen (1983) yang menunjukkan bahwa dalam tahap tertentu, tingkat kepemilikan manajerial tidak selalu berhubungan linier positif trhadap nilai perusahaan. Teori keagenan akan menimbulkan konflik akibat perbedaan kepentingan antara agent (manajer) dan principal (pemegang saham/pemilik). Kepemilikan manajerial kemudian dipandang sebagai mekanisme control yang tepat untuk mengurangi konflik tersebut, karena kepemilikan oleh manajer dipandang dapat menyamakan kepentingan antara pemilik dan manajer, sehingga semakin tinggi kepemilikan manajer, semakin tinggi pula nilai perusahaan. Menurut Demsetz (1983),

59

Fama dan Jansen (1983), dalam kepemilikan insider yang relatif rendah, efektifitas control dan kemampuan menyamakan kepentingan antara pemilik dan manajer akan berdampak signifikan terhadap nilai perusahaan. Namun pada kepemilikan insider yang tinggi, mekanisme tersebut akan berkurang efektifitasnya. Kondisi ini memunculkan Management Entrenchment, yang menyatakan kepemilikan insider yang tinggi akan berdampak pada kecenderungan manajer untuk bertindak demi kepentingannya sendiri, dikarenakan hak voting dan bargaining power yang semakin tinggi yang dimiliki oleh insider dalam penentuan kebijakan sehingga mengakibatkan pemilik tidak mampu menjalankan mekanisme control dengan baik, hal ini akan menyebabkan turunnya nilai perusahaan karena tidak terjadi ketidaksamaan kepentingan antara manajer dan pemilik yaitu pemegang saham minoritas. Stulz (1988) dan Weston et.al (1998) secara empiris telah membuktikan adanya entrenchment hypothesis, dan menemukan bahwa manajer cenderung berperilaku oportunistik pada level kepemilikan saham yang tinggi dan membuat keputusan non optimal yang mengesampingkan kepentingan pemilik. Morck et.al (1989) menemukan tiga pola hubungan, hubungan linier positif terjadi pada tingkat kepemilikan manajer 0-5%, hubungan negatif pada tingkat kepemilikan manajer 525%, dan kembali positif pada tingkat kepemilikan diatas 25%. Angka ini mendukung tingkat rata-rata (mean) kepemilikan manajerial pada perusahaan sampel pada Tabel 4.3 Hasil Uji Statistik deskriptif yang menunjukkan angka 6,4986.

60

BAB V PENUTUP

5.1

Simpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap 102 perusahaan sampel dari tahun 2007-

2009 dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap Tobins Q. hal ini ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 1,362 dengan taraf signifikansi 0,177 (> 0,05). Dengan demikian hipotesis 1 dalam penelitian yang menyatakan “Kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan” tidak diterima. Penyebabnya dimungkinkan karena buruknya kondisi perekonomian akibat adanya krisis global pada tahun 2008. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) bukan merupakan variabel moderating terhadap hubungan antara ROE dengan Tobins Q. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan regresi dengan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang mempunyai nilai t hitung sebesar 0,192 dengan taraf signifikansi sebesar 0,848(>0,05). Dengan demikian hipotesis 2 dalam penelitian yang menyatakan “Pengungkapan CSR mempengaruhi hubungan antara kinerja keuangan dengan nilai perusahaan” tidak diterima. Diduga adanya UU Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 merupakan indikasi pengungkapan CSR bukan merupakan variabel moderating, karena dalam UU disebutkan bahwa perusahaan yang berhubungan dengan alam wajib melaksanakan CSR, oleh karena itu investor

61

merasa tidak perlu melihat pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan, karena perusahaan pasti akan melaksanakan CSR jika tidak menginginkan adanya sanksi perundang-undangan. Kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara ROE terhadap Tobins Q, walaupun mempunyai koefisien parameter negatif.. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan regresi dengan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang mempunyai nilai t hitung sebesar -2,433 dengan taraf signifikansi sebesar 0,017(
View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.