Proses Produksi Teh Botol

March 3, 2016 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

PROSES PRODUKSI TEH BOTOL A. Penerimaan Bahan Baku dan Bahan Pembantu (I ncoming Material) 1. Bahan Baku a. Teh Kering T...

Description

SISTEM INFORMASI INDUSTRI “PRODUKSI TEH BOTOL SOSRO”

DISUSUN OLEH : 1. IMAM FIRDAUS

(09111002008)

2. YANUAR FADHLI

(09111002014)

3. DEVI WAHYUNI LESTARI

(09111002036)

4. BETHARIA SRI FITRIYANTI

(09111002064)

TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Sistem Informasi Industri ini yang berjudul “Teh Botol SOSRO” . Shalawat serta salam kami junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa risalah Allah terakhir dan penyempurna seluruh risalah-Nya.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati izinkanlah kami untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berjasa memberikan motivasi dalam rangka penyelesaian makalah ini. Semoga kebaikan yang diberikan oleh semua pihak menjadi amal sholeh dan senantiasa mendapatkan balasan yang berlimpah ganda dari Allah SWT. Amin

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan tugas ini masih banyak kekurangankekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta sumber yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan penyusunan selanjutnya. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Akhir kata, kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penting bagi kami dan tentu saja sangat kami harapkan.

Palembang, Agustus 2014

Penulis

2

DAFTAR ISI Halaman

KATA PENGANTAR ………………………………………………...

2

DAFTAR ISI …………………………………………………………..

3

PROSES PRODUKSI TEH BOTOL INCOMING MATERIAL ............………………………........... REKAYASA PROSES .... ............………………………........... PENGEMASAN ............... ............………………………........... PENGAWASAN MUTU ...............………………………...........

4 7 11 16

LAMPIRAN.............................................................................................

18

3

PROSES PRODUKSI TEH BOTOL A. Penerimaan Bahan Baku dan Bahan Pembantu (Incoming Material) 1. Bahan Baku a. Teh Kering Teh yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan Teh Botol SOSRO adalah Teh kering melati superior yang merupakan campuran antara Teh hijau dan bunga melati. Teh kering disimpan didalam gudang dengan suhu ruangan yang berkisar antara 25-35 °C dengan kelembaban relative atau Relative Humidity (RH) sebesar 40-70 %. Sebelum masuk proses pengolahan, teh kering ini harus melalui beberapa tahap pemeriksaan yaitu :  Pemeriksaan visual dan orgaloptik Keberadaan jamur dan benda asing (logam maupun kotoran lainnya) harus bernilai negative, selain itu warna, aroma, dan rasa harus skor 3 sesuai dengan skor organoleptic.  Pemeriksaan Kimia Meliputi kadar air yang diukur dengan alat Infra Red Moisture Balance dan kadar tannin dengan metode titrasi menggunakan KMnO4.

b. Gula Pasir Gula pasir yang digunakan adalah gula impor yang bersal dari Belanda, Afrika, Vietnam dan yang paling sering berasal dari Inggris. Gula ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gula local seperti warnanya yang lebih putih, ukuran kristalnya lebih kecil, kadar kapur atau kesadahan yang rendah kemudian gula ini disimpan dalam gudang kering dengan suhu antara 25-45 °C.

c. Air Air yang digunakan berasal langsung dari air bawah tanah yang sebelumnya telah melalui unit pengolahan air (WT) agar diperoleh air standar yang layak.

4

2. Bahan Pengemas a. Botol Pemeriksaan botol dilakukan secara visual maupun alat ukur dan terbagi atas tiga kategori, yaitu :  A (Critical Defect), yaitu tidak adanya kelebihan gelas tajam baik permukaan mulut botol maupun pada sambungan mould, tidak terdapat bentuk gelas yang melintang didalam botol (bird wings) dan juga printing logo yang sesuai.  B (Major Defect), meliputi ring harus sesuai (tidak bergelombang, tidak miring atau bengkok, tidak retak).  C (Minor Defect), meliputi tidak adanya tonjolan runcing diantara ring dan leher, badan botol harus bulat, sambungan mould tidak kasar serta printing harus sempurna.

b. Crown Cork (Tutup Botol) Sama halnya dengan botol, pemeriksaan CC juga dilakukan secara visual yang terbagi atas tiga kategori yaitu :  A (Critical Defect), antara lain meliputi tidak terdapatnya karat, tidak bengkok, tidak kotor dan tidak terkena oli.  B (Major Defect), meliputi ketepatan logo (off center) pada tutup atas botol tidak melebihi 0,5mm, tidak terdapat goresan.  C (Minor Defect), meliputi tidak terdapat cacat printing sepanjang tangan.

c. Krat Pemeriksaan krat yang dilakukan meliputi pengukuran sisi luar atas dan bawah serta bagian tumpuan, pemeriksaan berat dasar, peinting dan sambungan mould dengan syarat sebagai berikut :  Sisi luar atas : panjang 413 ± 3 mm; lebar 248 ± 4 mm dan tinggi 255 ± 5 mm  Sisi luar bawah : panjang 413 ± 3 mm; lebar 248 ± 4 mm  Bagian Tumpuan : panjang 383 ± 3 mm; lebar 254 ± 4 mm dan tinggi 11 ± 2 mm  Berat 1,38 ± 0,2 kg  Dasar tidak bergelombang atau miring, printing dan sambungan mouldbaik.

5

3. Bahan Pembantu a. Poly Aluminium Chloride (PAC) PAC befungsi sebagai koagulan dalam proses awal penanganan air sebagai bahan bakuTeh Botol. PAC akan membantu mengendapkan ion-ion besi menjad gumpalangumpalan besar sehingga mudah dipisahkan.

b. Kaporit Digunakan sebagai desinfektan dan juga sebagai oksidator yang akan mengoksidasi ion besi dalam iar yang nantinya akan didendapkan.

c. Garam Garam berperan dalam proses regenerasi larutan dalam tangki softener bila telah jenuh.

d. AdjunctHL dan Amercor 8750 Kedua bahan ini berfungsi untuk meningkatkan pH didalam proses pada unit boiler water treatment.

e. Caustic dan coustic additive Causticberfungsi sebgai detergen dan juga desinfektan sedangkan coustic additive berperan dalam membuat kilap botol.

f. Catalyzed Sulfit Berfungsi untuk mengikat oksigen bebas.

g. Pasir silica dan corbon black Pasir silica berperan dalam tangki Sand Filter untuk menyaring kotoran, lumpur dan ion besi. Sedangkan carbon black berfungsi untuk menyerap aroma, warna, dan rasa pada Carbon Filter.

h. Advantage Berfungsi untuk memberi lapisan film pada boiler 6

i. Asam Jenis asam yang digunakan adalah HCI dan HNO3.

j. Filter Aids Berfungsi sebagai media penyaringan datu filtrasi didalam cosmos sirup dan cosmos Teh cair Pahit.

k. Asepto dan minya diesel Berperan dalam proses sanitasi yang menggunkan chlorine sedangkan minyak diesel berfungsi sebagai bahan bakar

B. Rekayasa Proses 1. Unit Water Treatment Merupakan tahap perlakuan awal proses produksi untuk mendapatkan air yang berkualitas sebagai bahan pembuatan Teh Botol. Air yang digunakan adalah air sumur yang merupakan air alam yang kemungkinan besar masih mengandung berbagai kotoran baik berupa padatan yang terendap ataupun cemaran lainnya. Untuk mengatasi hal ini diperlukan beberapa tahap pengolahan yaitu : a. Tangki Kerucut Air sumur dipo,pa ke tangki kerucut dengan kapasotas 9000 liter untuk mendapatkan perlakuan awal berupa penambahan PAC dan juga penambahan kaporit.

b. Bak Reservoar Berfungsi untuk menampung air bersih dari tangki kerucut, dilakukan proses pengendapan ion-ion besi yang lolos dari tangki kerucut.

c. Tangki Sand Filter 1A dan 1B Berisi pasir silica yang berfungsi untuk menyaring endapan atau pertikel dan juga lumpur. Dilakukan proses pencucian dari bawah dengan tekanan udara dan pembilasan.

7

d. Tangki Carbon Filter 1A dan 1B Berisi karbon aktif yang berkemampuan untuk mengadsirbsi atau menyerap warna, aroma dan rasa dari air.

e. Tangki Cation Exchanger Berisi resin positif dan didalamnya terjadi proses pertukaran ion dengan pelepasan ion H serta pengikatan senyawa kation.

f. Tangki Softener 2A dan 2B Berisi resin positif yang berdasarkan sifatnya dapat menggantikan ion Ca dan Mg dengan ion Na. Berfungsi untuk menurunkan kesadahan air yang dihasilkan dari tangki Carbon Filter dan digunakan untuk beberapa proses seperti pencucian, pemasakan gula, dll.

g. Tangki Softener 3 Sifat dan fungsi dalam tangki ini sama dengan tangki softener 2A dan 2B, tetapi tangki ini hanya dipakai dalam prose pembuatan air buffer.

h. Tangki Carbon Filter II Berfungsi sebagai tangki mix atau mencampur air yang berasal dari tangki Cation Exchanger, tangki Softener 3 dan tangki Carbon Filter 1.

i. Tangki Buffer I dan II Digunakan untuk air minum yang sebelumnya telah melalui proses penyaringan melalui saringan micron dengan ukuran mesh yang kecil.

2. Unit Boiler Merupakan unit penghasi uap panas atau steam yang nantinya digunakan dalam proses produksi baik pad unit kitchen maupun pada proses bottling. Unit Biler juga terdiri dari serangkaian proses yaitu:

8

a. Condensat Tank Tangki ini berfungsi sebagai penampung awal air softener 2 yang berasal dari Water Treatment dan juga uap hasil proses kondensasi dari uni produksi.

b. Feed Water Tank Bertujuan untuk tahap persiapan awal air sebagai bahan baku untuk membuat uap panas. Suhu dipertahankan antara 90-100 °C.

c. Boiler/ Ketel Uap Pemanasan air dengan suhu tinggi dengan menggunakan bunga api dari elektroda hingga dihasilkan uap panas.

d. Header Uap panas yang dihasilkan pada tahap sebelumnya akan melalui header dan dialirkan untuk prose produksi.

3. Unit Kitchen Merupakan bagian yang paling penting dalam proses produksi, sebab di uni inilah proses pembuatan Teh Botol dilakukan hingga dihasilkan produk siap konsumsi. Unit kitchen terbagi atas 4 tahapan utama yaitu : 1. Unit Pembuatan Sirup Gula Proses pembuatan sirup gula meliputi : a. Tangki Pelarut Berfungsi untuk menampung air softener 2 dengan total kesadahan maksimal 1°dH. Air softener 2 mempunyai suhu 100 ± 5 °C setelah dipanaskan lewat Plate Heat Exchanger (PHE) dengan menggunakan steam dari boiler. Kemudian gula dimasukkan melalui hopper kedalam tangki pelarut dan diaduk hingga diperoleh kadar gula yang sesuai dengan suhu 80-90°C kemudian dimasukkan kedalah Niagara filter.

9

b. Niagara Filter Berfungsi sebagai penyaring awal larutan sirup gula khususnya dari kotoran kemudian akan disaring kembali dalam Cosmos Filter Sirup.

c. Cosmos Filter Sirup CFS menggunakan bantuan filter aids yaitu larutan penyaring sirup yang berbentuk powder putih yang sebelumnya dilarutkan dalam air yang kemudian dilapiskan pada permukaan piringan didalam CFS.

d. Tangki Penampungan Sirup Merupakan tangki penampungan awal larutan sirup gula dalam pembuatan Teh Cair Manis (TCM). Tangki ini mempunyai volume 3500 liter yang mana didalamnya terjadi proses pemanasan dengan menggunakan uap panasa dari boiler sehingga suhu mencapai 80-90°C.

2. Unit Ekstraksi Teh Merupakan tahap penyeduhan atau pembuatan Teh Cair Pahit yang terjadi melalui beberapa peralatan yaitu : a. Tangki Ekstrak Teh dari ektraksi pertama dimasukkan kedalam tangki ekstrak yang selanjutnya diseduh menggunakan air buffer yang berasal dari unit Water Treatment. Jumlah teh kering yang digunakan 51kg untuk 1 batch pemasakan dengan waktu ±45 menit. Setelah selang waktu 20 menit Teh Cair Pahit mulai masak, dilakukan proses sirkulasi kembali selama 10 menit. Suhu mencapai 105 ± 5 °C melalui pemanasan Plate Heat Exchanger, kemudian diambil sample untuk dianalisa dan harus memenuhi standar mutu.

b. Niagara Filter

10

Sama halnya dengan proses pembuatan larutan sirup, Niagara filter juga digunakan untuk menyaring awal Teh Cair Pahit dari partikel atau kotoran selama proses penyeduhan. c. Cosmos Filter Teh Cair Pahit (TCP) Digunakan untuk menyaring kembali TCP yang dihasilkan agar dihasilkan produk dengan warna yang lebih jernih.

d. Unit Mixing Prose Mixing atau pencampuran antara sirup gula dengan TCP terjadi di mix tank. Ada dua tank mixing yang bekerja secara bergantian yang dilengkapai pipa saluran untuk mengalirkan larutan sirup, TCP dan TCM kembali ke dalam mix tank. Di mix tank dilakukan pengadukan untuk menghomogenkan TCM. Suhu yang diharapkan sebesar 90 ±5°C dan bila kurang akan dilakukan proses pemanasan langsung dari tangki.

e. Unit Pasteurisasi TCM yang telah sesuai dengan standar mutu selanjutnya dipasteurisasi di dalam pasteurizer. Prinsip proses ini adalah pemanasan Teh yang dialirkan melalui saluran berliku-liku (leher angsa) sehingga suhu mencapai 93 ± 3°C dengan menggunakan uap panas dari boiler.

C. Pengemasan Proses pengemasan Teh Botol SOSRO dilakukan melalui unit Bottling Line. 1. Proses Sortasi Awal Botol Proses dimulai dari pengambilan botol-botol kosong dalam krat dari gudang Peti Botol (PB) dengan menggunakan bantuan forklift masuk ke unit produksi dan dilewatkan pada rol conveyor (rol berjalan). Selanjutnya, proses sortasi botol terjadi melalui beberapa peralatan, yaitu 1. Depalletizer Mesin ini bertujuan untuk memisahkan krat yang berisi botol kosong dari pallet yang berada di bawahnya. Sebelumnya, krat-krat berisi botol tersusun di atas pallet, dimana 11

untuk 1 pallet berisi 60 krat dan 1 krat berisi 24 botol. Krat berisi botol kosong diangkat oleh mesin depalletizer dan dipindahkan sebanyak 12 krat untuk tiap satu kali pemisahan. Krat dan botol kosong selanjutnya menuju pos 1 gudang PB untuk proses penyotiran.

2. Pos I Gudang PB Di pos ini terjadi proses sortir awal untuk menyeleksi botol serta krat yang tidak layak untuk dipakai dalam proses produksi dengan kriteria berikut :  Botol gumpil / retak

 Botol berisi benda asing

 Botol asing

 Botol bertutup

 Botol berisi cairan

 Krat asing

 Botol dengan flek semen / kotor

 Krat rusak

 Botol berlabel

 1 krat 24 botol

Untuk botol non standar selanjutnya dipisahkan tersendiri dalam krat :  Krat kuning untuk botol gumpil, retak dan asing yang siap untuk dimusnahkan  Krat merah untuk botol berisi cairan, kotor / flek semen, botol berlabel, botol bertutup, botol berisi benda asing. Untuk botol ini selanjutnya masuk ke dalam bagian cuci manual untuk dibersihkan. Bagian pencucian manual bertugas untuk membersihkan awal botol yang kotor karena debu atau kotoran, botol berisi benda asing, botol berlabel serta bibir botol yang berkarat. Sebelumnya, botol ini dipisahkan terlebih dahulu untuk menentukan langkah proses pencucian. a. Proses dengan Bahan Kimia Proses ini dilakukan untuk botol dengan bibir berkarat, flek semen, logo berkarat dan bercak. Pencucian dilakukan dengan mencampurkan bahan kimia yaitu HCI dan air dengan perbandingan 1:4 dalam bak plastik. Botol dibilas sampai bersih. Untuk botol bibir berkarat, diolesi dengan HCI :1 hingga bersih. Botol yang telah dibersihkan kemudian disusun kembali dalam krat.

12

b. Proses dengan Air Proses dilakukan untuk botol yang berdebu (kotor) dan berlabel. Air dimasukkan delam bak pencucian, kemudian botol tersebut dibilas bagian luarnya serta dibersihkan bagian dalamnya dengan menggunakan sikat. Setelah bersih botol disusun kembali dalam krat. 3. Decrater Alat ini berfungsi untuk memisahkan botol kosong dari krat dan untuk satu kali pengambilan sebanyak 72 botol kosong. Botol kosong berjalan menuju pos 1 A & 1 B Produksi untuk diseleksi lebih lanjut sedangkan krat menuju krat washer untuk proses pencucian. Sebelum masuk krat washer, krat diseleksi oleh seorang petugas untuk memisahkan krat yang rusak atau pecah dan tidak digunakan lagi. Sumber air digunakan dalam krat washer berasal dari air Hot Water II dengan suhu 60

serta dilengkapi

dengan sprayer atau penyemprot.

4. Pos I A & I B Produksi Pos ini bertugas untuk menyeleksi ulang botol dari pos 1 Gudang PB dan memisahkan dengan kriteria berikut :  Botol gumpil bibir

 Botol bertutup

 Botol pecah

 Botol berlabel

 Botol asing

 Botol berisi benda asing

 Botol berisi cairan

 Botol bibir berkarat

 Botol kotor

2. Pencucian Botol atau Bottle Washer Merupakan unit pencucian botol baik berupa baru atau lama yang terdiri dari beberapa tahapan : a. Presoaking Tahap terjadinya pembuangan isi botol baik berupa teh maupun cairan lain. Pada bak presoaking, botol diisi dengan air Hot Water II dengan suhu ±60

bertujuan sebagai

pemanasan awal agar pada pemanasan tahap berikutnya, botol tidak pecah.

13

b. Ley 1 Setelah proses pencucian awal, botol kosong selanjutnya masuk ke Ley 1. Tahap ini terjadi proses pencucian botol dengan cara penyemprotan air dan juga perendaman dalam caustic dengan konsentrasi 1.5 %. Penambahan caustic dimaksudkan selain sebagai detergen juga sebagai desinfektan. Selama pencucian akan dihasilkan busa yang distabilkan dengan stabilon berfungsi untuk membuat kilap botol. Suhu Ley I antara 90±5 . Pengecekan kadar caustic dilakukan 4 jam sekali.

c. Ley 2 Dalam Ley 2 , botol dalam posisi terbalik disemprot dari bawah dengan menggunakan air panas yang dipanaskan dari boiler melalui Tube Heat Exchanger (THE) dengan suhu 90±5 . Di Ley 2 masih terdapat sisa caustic dengan kadar 0,5 %.

d. Hot Water I & II Berfungsi sebagai pembilas botol khususnya dari sisa caustic dengan suhu 90±5 .

e. Fresh Water Berasal dari air softener dengan suhu 90±5

berfungsi sebagai pembilasan akhir botol

agar terbebas dari sisa caustic. Air softener yang digunakan berasal dari unit Water Treatment melalui Plate Heat Exchanger (PHE). Botol yang keluar dari Bottle Water berupa botol bersih dengan suhu minimal 85 .

3. Proses Sortasi Lanjutan Setelah botol bersih, dilakukan proses seleksi dan penyotiran botol oleh orang petugas atau mesin otomatis melalui pos penjagaan berikut a. Pos II a & II B Dipos ini terjadi kembali proses sortir botol bersih dengan kriteria berikut :  Botol gumpil bibir

 Botol buram / kusam

 Botol ¾ utuh

 Botol bibir karat

 Botol asing

 Botol flek semen

 Botol kotor 14

b. Mesin EBI ( Empty Bottle Inspection) Mesin ini dilengkapi dengan sensor cahaya untuk memeriksa masing-masing bagian botol yaitu central, intermediate, outer, corner, large object dan liquid. Bila terdapat kotoran pada masing-masing bagian maka botol tersebut disendirikan.

c. Pos II C, II D & II E Sama dengan pos II A & II B, terjadi proses penyortiran kembali botol bersih dengan kriteria yang sama oleh beberapa orang petugas.

4. Pengisian Teh Cair Manis Proses pengisian ini dilakukan oleh mesin filler merupakan mesin pengisi Teh Cair Manis (TCM) ke dalam botol yang telah dipasteurisasi dalam unit pasteurizer dan suhu minimal 88 . Kecepatan pengisian filler ini adalah 36.000 botol tiap jam. Botol yang telah berisi TCM selanjutnya ditutup dengan menggunakan crown cork menggunakan crowner. Proses penutupan ini dalam keadaan panas dan steril. Setelah selesai proses pengisian dan penutupan, selanjutnya produk Teh Botol SOSRO masuk dalam mesin printer untuk proses pencetakan kode produksi serta tanggal kadaluarsa.

5. Proses Sortasi Akhir Merupakan tahap akhir seleksi dan sortasi teh Botol SOSRO yang dilakukan di pos III oleh beberapa petugas. Kriteria ditetapkan untuk pemisahan produk antara lain :  Botol berisi benda asing

 Volume non standar

 Botol luar kotor

 Tutup miring

 Botol gumpil

 Botol tanpa tutup

 Botol bawah retak

 Botol kosong tertutup

 Botol ¾ utuh

 Botol flek semen

 Botol asimh

Teh botol SOSRO yang lolos seleksi diangkut oleh mesin crater untuk dimasukkan ke dalam krat dan setelah itu masuk tahap akhir pemeriksaan di pos III Gudang Peti Isi (PI) dengan kriteria yang sama dengan pos III, yang terpenting adalah pengecekan jumlah botol 15

dalam krat yang harus berjumlah 24 botol. Setelah tersusun dalam krat, Teh Botol SOSRO ditumpuk dalam palet menggunakan mesin palletizer sebanyak 60 krat untuk tiap 1 pallet. Pallet Teh Botol SOSRO dikarantina pada gudang PI.

D. Quality Control (QC) Bagian ini memiliki tugas untuk mengendalikan keseluruhan lingkup mutu unit operasional mulai dari bahan baku, proses produksi, alat-alat perlengkapan baik untuk proses maupun analisa, produk yang siap didistribusikan sampai pengolahan limbah yang dihasilkan. Tahap ini dilakukan sesuai kebijakan mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

1. Bahan Baku Pengawasan mutu bahan baku maupun bahan tambahan yang datang dilakukan oleh seorang petugas incoming material di bawah pengawasan Quality Control. Pemeriksaan yang dilakukan adalah secara visual atau langsung pada saat bahan datang dan secara kimia di laboraturium. Analisa visual dilakukan untuk bahan-bahan seperti crown cork, botol, dan krat, sedangkan analisa kimia dilakukan untuk bahan baku dan bahan pembantuan dalam proses produksi seperti kadar tanin untuk teh, kadar gula, kadar galam dan standar bahan kimia lainnya.

2. Proses produksi Pemeriksaan ini dilakukan oleh field inspector yang berada di bawah pengawasan Quality Control. Pada tahap pemeriksaan ini analis berada di unit produksi langsung untuk mencatat lancar tidaknya suatu produksi serta hal-hal yang erat denagn alur produksi. Pemeriksaan mutu di lakukan terhadap unit Water Treatment (pada tiap awal shift, untuk menguji standar mutu air), unit Boiler (untuk menguji kadar zat kimia pada tiap perlengkapan unit Boiler), dan pada unit Kitchen dilakukan pemeriksaan untuk mengukur kesadahan sirup gula, kadar sirup gula, teh cair manis, kadar tanin teh cair pahit dan pH teh cair manis.

3. Analisa Mikrobiologi 16

Analisa dilakukan oleh seorang analisa mikrobiologi, dimana mempunyai dua tujuan utama, yaitu  Untuk mengetahui ada atau tidaknya cemaran mikroba selama proses pembuatan Teh Botol SOSRO.  Untuk mendeteksi secara dini adanya cemaran mikroba sehingga dapat menenttukan langkah awal pencegahan dari pencemaran mikroba. Pengawasan mutu secara mikrobiologis dilakukan dengan metode pour plate count dan identifikasi coliform untuk mendeteksi keberadaan bakteri, jamur dan yeast pada produk. Sebelum proses analisa dilakukan pembuatan media berupa nutrient (NA) digunakan untuk mengidentifikasi bakteri, media yeast dan modul extract untuk mendeteksi adanya yeast dan jamur serta media lactose broth untuk identifikasi coliform. Uji coliform dilakukan dengan menggunakan tabung reaksi di dalamnya berisi tabung durham dalam posisi terbalik. Tabung durham berfungsi untuk mengetahui adanya bakteri coliform atau E.coli, dimana bernilai positif bila di dalam tabung terdapat gelembung gas.

4. Unit Sanitasi dan Weekly Maintenance Proses sanitasi dilakukan setiap awal shift, setelah waktu istirahat dan hari libur besar. Unit yang dibersihkan antara lain unit Kitchen, unit Bottling Line serta lantai tempat proses produksi berlangsung dengan air softener panas. Pada proses sanitasi ditambahkan caustic, asam HCI dan chlorin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Penambahan caustic bertujuan sebagai detergen dan desinfektan sedangkan penambahan asam dan chlorin adalah untuk menghilangkan kerak pada alat yang digunakan.

5. Pengawasan Produk Pengawasan produk atau proses inkubasi sampel dilakukan oleh seorang analis kimia. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pengambilan sampel hasil produksi tiap batch setiap shift dengan cara mengambil 2 botol tiap 10 menit dan produk awal setelah berhenti lebih dari 3 menit. Analisa yang dilakukan meliputi pemeriksaan kadar gula, kadar tanin, pH, kejernihan, warna, aroma, diameter crown serta kode produksi.

17

LAMPIRAN

DFD Level 0

18

DFD Level 1

19

ERD Chen’s Model

20

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.