SEJARAH AGRARIS DAN MARITIM: KERAJAAN-KERAJAAN DAN

October 10, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

KERAJAAN-KERAJAAN DAN PELABUHAN BESAR DI NUSANTARA Diajukan Untuk ..... Letak kerajaan Cirebon secara geografis di pesis...

Description

KERAJAAN-KERAJAAN DAN PELABUHAN BESAR DI NUSANTARA Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Sejarah Agraris dan Maritim Dosen Pengampu: Suparman, M.Ag., Widiati Isana, M.Ag.

.

Oleh: Fitri Annisa

1155010048

Gilang Agus Budiman

1145010051

Jawad Mughofar KH

1145010071

JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2016

KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrohiim, Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan apapun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Sejarah Agrars dan Maritim. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin.

Bandung, 01 April 2016

Penyusun,

i

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...............................................................................

1

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

2

C. Tujuan ............................................................................................

2

BAB II PEMBAHASAN A. Kerajaan-Kerajaan di Nusantara ....................................................

3

B. Pelabuhan Besar di Nusantara ........................................................

22

BAB III PENUTUP A. Simpulan ........................................................................................

36

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebelum perdagangan maritim dengan melalui rute rempah-rempah (spice route) berkembang semenjak awal abad masehi, rempah-rempah dari kepulauan Indonesia belum menjadi komoditi perdagangan global. Rempah-rempah yang dikonsumsi oleh bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi awal tentu tidak berasal dari kepulauan Indonesia tetapi berasal dari daerah lain seperti lada dari Gujarat (India) dan kayu manis dari Srilangka. Seiring berjalannya waktu permintaan terhadap berbagai komoditi dagang dari negeri-negeri sebrang kian bertambah. Hal ini membuat india tidak mampu lagi menopang permintaan tersebut disamping persediaan rempah-rempah yang tak lengkap, berbeda dengan indonesia yang dapat menghasilkan pelbagai jenis rempah-rempah membuat terjadinya revolusi transportasi yang asalnya terfokus dengan jalur darat yaitu di jalur sutera, kini mulai merambah ke jalur laut. Perubahan rute perdagangan global ini di samping dipicu oleh ketidakamanan jalan darat melalui Asia Tengah juga permintaan produk rempah-rempah yang semakin meningkat yang mampu dihasilkan juga daerah daerah kepulauan di Nusantara. Sejak saat itu geliat perdagangan rempah-rempah menjadi sangat spektakuler. Perdagangan rempah-rempah ini menjadi driving force bagi kegiatan perdagangan dan pelayaran secara umum selama berabad abad. Perdagangan maritim telah memberikan dampak bagi lahirnya berbagai kerajaan di Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, Demak, Ternate, Tidore, Tuban, dan sebagainya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:

1

2

1. Bagaimana Kerajaan-Kerajaan di Nusantara? 2. Bagaimana Pelabuhan Besar di Nusantara? C. Tujuan Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk: 1. Mengetahui Kerajaan-Kerajaan di Nusantara 2. Mengetahui Pelabuhan Besar di Nusantara

BAB II PEMBAHASAN A. Kerajaan-Kerajaan di Nusantara a. Kerajaan Barus Kesultanan Barus merupakan kelanjutan kerajaan di Barus paska masuknya Islam ke Barus. Islam masuk ke Barus pada awal-awal munculnya agama Islam di semenanjung Arab. Dalam sebuah penggalian arkeologi, ditemukan Makam Mahligai sebuah perkuburan bersejarah Syeh Rukunuddin dan Syeh Usuluddin yang menandakan masuknya agama Islam pertama ke Indonesia pada Abad ke VII Masehi di Kecamatan Barus. Kuburan ini panjangnya kira-kira 7 meter dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan unik dengan bertulisan bahasa Arab, Tarikh 48 H dan Makam Mahligai merupakan Objek Wisata Religius bagi umat Islam se-Dunia yang Letaknya 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan. Raja pertama yang menjadi muslim adalah Raja Kadir yang kemudian diteruskan kepada anak-anaknya yang kemudian bergelar Sultan. Raja Kadir merupakan penerus kerajaan yang telah turuntemurun memerintah Barus dan merupakan keturunan Raja Alang Pardosi, pertama sekali mendirikan pusat Kerajaaannya di Toddang (tundang), Tukka, Pakkat – juga dikenal sebagai negeri Rambe, yang bermigrasi dari Balige dari marga Pohan. Pada abad ke-6, telah berdiri sebuah otoritas baru di Barus yang didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu, yang akhirnya membentuk Dulisme kepemimpinan di Barus. b. Kerajaan Samudera Pasai

3

4

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kemunculan kerajaan ini diperkirakan berdiri mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8, dan seterusnya. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh. Kerajaan Samudra Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Perlak. Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi.1 Ada sejumlah sumber tertulis yang menjelaskan tentang berdirinya Kerajaan Samudra Pasai, diantaranya yaitu dua berasal dari Nusantara, beberapa dari Cina, satu dari Arab, satu dari Italia, dan satu dari Portugis. Sumber Nusantara antara lain Hikayat Raja Pasai (HRP) dan Sejarah Melayu (SM). Sumber Cina antara lain Ying-yai Sheng-lan dari Ma Huan, berita Arab dari Ibn Battutah, kisah pelayaran Marko Polo dari Italia.2 Antara tahun 1290 dan 1520 kesultanan Pasai tidak hanya menjadi kota dagang terpenting di

selat Malaka,

tetapi

juga pusat

perkembangan Islam dan bahasa sastra Melayu. Selain berdagang, para pedagang Gujarat, Persia, dan arab menyebarkan agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam tradisi lisan dan Hikayat Raja-raja Pasai, raja pertama kerajaan Samudra Pasai sekaligus raja pertama yang memeluk Islam adalah Malik Al-Saleh yang sekaligus juga merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal itu dapat diketahui melalui 1 2

Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Hlm 35 Ibid hlm-36

5

tradisi Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Melayu, dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan para sarjana Barat terutama Belanda seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan syarif Makkah yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik AlSaleh. Nisan itu didapatkan di Gampong Samudra bekas kerajaan Samudra Pasai tersebut.3 Raja-raja yang pernah memerintah : 1. Sultan Malik Al-Saleh 2. Muhammad Malik Al-Zahir 3. Mahmud Malik Al-Zahir 4. Manshur Malik Al-Zahir 5. Ahmad Malik Al-Zahir 6. Zain Al-Abidin Malik AL-Zahir 7. Nahrasiyah 8. Abu Zaid Malik Al-Zahir 9. Mahmud Malik Al-Zahir 10. Zain Al-Abidin 11. Abdullah Malik Al-Zahir 12. Zain Al-Abidin Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan serta pelayaran itu merupakan sendi-sendi kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan internasional pertama untuk mengekspor sutera dan lada. Hubungan dagang antara Pasai dan Jawa berkembang pesat. Para 3

Dea Edhie. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV DEA ART PUSTAKA. Hlm 12

6

pedagang Jawa membawa beras ke Pasai, dan sebaliknya dari kota pelabuhan ini mereka mengangkut lada ke Jawa. Di Samudra Pasai, para pedagang Jawa mendapat hak istimewa, dibebaskan dari bea dan cukai.4 Dalam catatan Tome Pirse di Pasai ada mata uang dirham. Diceritakan juga bahwa setiap kapal yang membawa barang-barang dari Barat dikenakan pajak 6%. Dalam catatannya juga disebutkan bahwa Pasai mengekspor lebih kurang 8.000-10.000 bahan lada per tahun, atau 15.000 bahar bila panen besar. Selain lada, Pasai juga mengekspor sutera, Cara pembuatan sutera diajarkan orang Cina kepada penduduk Pasai. Pada saat itu, jika ditinjau dari segi geografis dan sosial ekonominya Samudra Pasai memang merupakan suatu daerah

yang penting sebagai

penghubung antara pusat-pusat

perdagangan yang ada di kepulauan Indonesia, India, Cina, dan Arab. Hal itu menyebabkan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan yang sangat penting. Adanya mata uang pada saat itu membuktikan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang makmur.5 Samudra

Pasai

sebagai

pelabuhan

dagang

yang

maju,

mengeluarkan mata uang dirham berupa uang logam emas. Saat hubungan dagang antara Pasai dan Malaka berkembang setelah tahun 1400, pedagang Pasai menggunakan kesempatan mengenalkan dirham ke Malaka. Raja pertama Malaka, Prameswara, menjalin persekutuan dengan Pasai tahun 1414 memeluk Islam dan menikah dengan putri Pasai. Uang emas dicetak di awal pemerintahan Sultan Muhammad (1297-1326) dan pengeluaran uang emas harus mengikuti aturan

4

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium jilid 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm 89 5 Muljana, Slamet. 2007. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. Hlm 24

7

sebagai berikut. Seluruh Sultan Samudra Pasai perlu menuliskan frasa al-sultan al-adil pada dirham mereka.6 Mata uang dirham dari Samudra Pasai itu pernah diteliti oleh H.K.J Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan, diantaranya yaitu Sulatan Alauddin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid, dan Abdullah. Pada tahun 1973 M, ditemukan lagi 11 mata uang dirham, diantaranya bertuliskan nama Sultan Muhammad Malik AlZahir, Sultan Ahmad, dan Sultan Abdullah yang semuanya merupakan raja-raja.7 c. Kerajaan Ternate Masyhur Malamo adalah raja pertama yang memerintah pada tahun 1257-1272. Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam “Moloku Kie Raha” lainya. Sepeninggalan Masyhur Malamo, Ternate dipimpin secara berturut-turut oleh Kaicil Yamin (1298-1304), dan Kaicil Ngara Lomo (1304-1317). Kaicil Ngara lomo dapat dianggap sebagai Kolano Ternate yang pertama kali meletakan dasardasar politik ekspansionaisme. Pada masa pemerintahan Sida Arif Malamo, Ternate mulai berkembang sebagai bandar niaga yang didatangi oleh berbgai pedagang dari Makassar, Jawa, Melayu, Cina, Gujarat, dan Arab Pedagang ini menetap dan membuka pos-pos perdagangan di Ternate. Sida Arif Malamo sebagai penguasa Ternate memeberikan kemudahan, sehingga para pedagang semakin senang berdagang di Ternate.8 Di masa–masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. 6

Ibid hlm 25-26 Dea Edhie. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV DEA ART PUSTAKA. Hlm 15 8 Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Hlm 117 7

8

Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar kolano dan menggantinya dengan gelar sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan. Setelah sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan jogugu (perdana menteri) dan fala raha sebagai para penasihat. Fala raha atau empat rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole pada masa lalu, masing–masing dikepalai seorang kimalaha. Mereka yaitu Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat–pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan–klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji. Sultan Bayanullah Sultan Bayanullah dari Ternate (1500-1521) adalah putera pertama Sultan Zainal Abidin (1486-1500). Namanya seringkali berbeda dalam berbagai sumber sejarah, ia sering juga disebut Sultan Bolief atau Abu Alif dan sewaktu muda ia lebih dikenal dengan sebutan Kaicil Leliatur.Bayanullah dibesarkan dalam lingkungan Islam yang ketat. Sejak resmi menjadi kesultanan pada masa kakeknya Kolano Marhum (1465-1486), Ternate tak henti-hentinya melakukan perubahan dengan mengadopsi segala hal yang berbau Islami. Sultan Bayanullah menetapkan Syariat Islam sebagai hukum dasar kerajaan. Seluruh rakyat Ternate diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat. Ia membentuk struktur baru dan lembaga pemerintahan sesuai Islam yang segera diadopsi oleh kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Tindakannya ini berhasil membawa Maluku keluar dari alam animisme ke monoteisme (Islam). Sultan Baabullah Sultan Baabullah (10 Februari 1528 - permulaan 1583), juga ditulis Sultan Babullah atau Sultan Baab (tulisan Eropa) adalah sultan dan penguasa Kesultanan Ternate ke-24 yang berkuasa antara tahun 1570 -

9

1583. Ia dikenal sebagai sultan Ternate dan Maluku terbesar sepanjang sejarah, yang berhasil mengalahkan Portugis dan mengantarkan Ternate ke puncak keemasan di akhir abad ke-16. Sultan Baabullah juga dijuluki sebagai penguasa 72 pulau berpenghuni yang meliputi pulau–pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan dan kepulauan Marshall. d. Kerajaan Tidore Kesultanan Tidore mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan yang oleh kawula Tidore dikenal dengan sebutan Jou Barakati. Pada masa kekuasaannya 1797 – 1805), wilayah Kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Tanah Papua. Sultan Nuku adalah pemimpin yang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Beberapa usaha yang dilakukan oleh sultan Nuku adalah sebagai berikut: Menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apaapa kecuali hubungan dagang biasa. Memperluas wilayah kekuasaan, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Menata sistem pemerintahan dengan baik, sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan baik dan rakyatnya sejahtera. Berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk

Ternate,

Bacan

dan

Jailolo.

Perjuangan

tersebut

membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing. Ia memiliki gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan”. e. Kerajaan Buton

10

Salah satu sumber yang menerangkan kerajaan Buton terdapat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni. Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi (pendeta) yang dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari Semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M.9 Dengan Wa Kaa Kaa sebagai raja, Kerajaan Buton semakin berkembang hingga Islam masuk ke Buton melalui Ternate pada pertengahan abad ke-16 M. Selama masa pra Islam, di Buton telah berkuasa enam orang raja, dua di antaranya perempuan. Perubahan Buton menjadi kesultanan terjadi pada tahun 1542 M (948 H), bersamaan dengan pelantikan Lakilaponto sebagai Sultan Buton pertama, dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Setelah Raja Lakilaponto masuk Islam, kerajaan Buton semakin berkembang dan mencapai masa kejayaan pada abad ke 17 M. Ikatan kerajaan dengan agama Islam sangat erat, terutama dengan unsurunsur sufistik. Kerajaan Buton secara resminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, yaitu Timbang Timbangan atau Lakilapoto atau Halu Oleo. Beliau yang diIslamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke 9

Zuhdi, Susanto. 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Selatan Kesultanan Buton. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

11

Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian beliau sekeluarga berhijrah pula ke Pulau Batu Gatas yang termasuk dalam pemerintahan Buton.10 Pendapat lainnya, kertas kerja Susanto Zuhdi berjudul Kabanti Kanturuna Mohelana Sebagai Sumber Sejarah Buton, menyebut bahwa Sultan Murhum, Sultan Buton yang pertama memerintah dalam lingkungan tahun 1491 M – 1537 M. Di dalam bukunya, Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki Dalam Lembaga Kitabullah, bahwa “Kesultanan Buton menegakkan syariat Islam pada tahun 1538 Masehi. Jika kita bandingkan tahun yang sebutkan diatas (1564 M), dengan tahun yang disebutkan oleh La Niampe (948 H/1541 M) dan tahun yang disebutkan oleh Susanto Zuhdi (1537 M), berarti dalam tahun 948 H/1541 M dan tahun 1564 M, Sultan Murhum tidak menjadi Sultan Buton lagi karena masa beliau telah berakhir pada tahun 1537 M. Setelah meninjau berbagai aspek, nampaknya kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton dua kali (tahun 933 H/1526 M dan tahun 948 H/1541 M) yang diberikan oleh La Niampe adalah lebih meyakinkan.11 Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari hasil transmisi ajaran Islam di Nusantara, maka kerajaan Buton juga sangat dipengaruhi oleh model kebudayaan Islam yang berkembang di Nusantara, terutama dari tradisi tulis-menulis. Bahkan, dari peninggalan tertulis yang ada, naskah peninggalan Buton jauh lebih banyak dibanding naskah Ternate, negeri dimana Islam di Buton berasal. Peninggalan naskah Buton sangat berarti untuk mengungkap sejarah negeri ini, dan dari segi lain, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa kebudayaan Buton telah berkembang dengan baik. Naskah-naskah tersebut mencakup bidang hukum, sejarah, silsilah, upacara dan adat, 10

Yusuf, Mundzirin dkk. 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Pustaka. Hlm 76 11

Ibid hlm 76-77

12

obat-obatan, primbon, bahasa dan hikayat yang ditulis dalam huruf Arab, Buri Wolio dan Jawi. Bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu dan Wolio. Selain itu, juga terdapat naskah yang berisi surat menyurat antara Sultan Buton dengan VOC Belanda12 Dalam bidang ekonomi, kehidupan berjalan dengan baik berkat relasi perdagangan dengan negeri sekitarnya. Dalam negeri Buton sendiri, telah berkembang suatu sistem perpajakan sebagai sumber pendapatan kerajaan. Jabatan yang berwenang memungut pajak di daerah kecil adalah tunggu weti. Dalam perkembangannya, kemudian tejadi perubahan, dan jabatan ini ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena. Dengan perubahan ini, maka Bonto Ogena tidak hanya berwenang dalam urusan perpajakan, tapi juga sebagai kepala Siolimbona (lembaga legislatif saat itu). Sebagai alat tukar dalam aktifitas ekonomi, Buton telah memiliki mata uang yang disebut Kampua. Panjang Kampua adalah 17,5 cm, dan lebarnya 8 cm, terbuat dari kapas, dipintal menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain secara tradisional.13 f. Kerajaan Demak Kerajaan Islam yang pertama di Jawa adalah Demak, dan berdiri pada tahun 1478 M. Hal ini didasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit yang diberi tanda Candra Sengkala: Sirna hilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun saka 1400 atau 1478 M. Kerajaan Demak itu didirikan oleh Raden Fatah. Beliau selalu memajukan agama Islam di bantu oleh para wali dan saudagar Islam. Raden Fatah nama kecilnya adalah Pangeran Jimbun. Menurut sejarah, dia adalah putera raja Majapahit yang terakhir dari garwa Ampean, dan Raden Fatah dilahirkan di Palembang. Karena Arya Damar sudah masuk Islam

12 13

Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Hlm 108 Ibid hlm-120

13

maka Raden Fatah dididik secara Islam, sehingga jadi pemuda yang taat beragama Islam.14 Secara geografis Kerajaan Demak terletak di daerah Jawa Tengah, tetapi pada awal kemunculannya kerajaan Demak mendapat bantuan dari para Bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama Islam. Pada sebelumnya, daerah Demak bernama Bintoro yang merupakan daerah vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan pemerintahannya diberikan kepada Raden Fatah (dari kerajaan Majapahit) yang ibunya menganut agama Islam dan berasal

dari

Jeumpa

(Daerah

Pasai).

Letak

Demak

sangat

menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Tetapi sudah sejak abad XVII jalan pintas itu tidak dapat dilayari setiap saat.15 Setelah Raden Fatah wafat, tahta kerajaan Demak dipegang oleh Adipati Unus. Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M. Masa pemerintahan Adipati Unus tidak begitu lama, karena ia meninggal dalam usia yang masih muda dan tidak meninggalkan seorang putera mahkota. Walaupun usia pemerintahannya tidak begitu

pasukan

Demak menyerang Portugis di Malaka. Setelah Adipati Unus meninggal, tahta kerajaan Demak dipegang oleh saudaranya yang bergelar Sultan Trenggana. Sejak tahun 1509 Adipati Unus anak dari Raden Patah, telah bersiap untuk menyerang Malaka. Namun pada tahun 1511 telah didahului Portugis. Tapi adipati unus tidak mengurungkan niatnya, pada tahun 1512 Demak mengirimkan armada perangnya menuju Malaka. Namun setalah armada sampai dipantai 14

I Wayan Badrika. 2006. Sejarah untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, 2003, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti 15

14

Malaka, armada pangeran sabrang lor dihujani meriam oleh pasukan portugis yang dibantu oleh menantu sultan Mahmud, yaitu sultan Abdullah raja dari Kampar. Serangan kedua dilakukan pada tahun 1521 oleh pangeran sabrang lor atau Adipati Unus. Tetapi kembali gagal, padahal kapal telah direnofasi dan menyesuaikan medan.16 Sulltan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Dibawah pemerintahannya, kerajaan Demak mencapai masa kejayaan. Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah Jawa Barat. Pada tahun 1522 M kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah. Daerahdaerah yang berhasil di kuasainya antara lain Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Penguasaan terhadap daerah ini bertujuan untuk menggagalkan hubungan antara Portugis dan kerajaan Padjajaran. Armada Portugis dapat dihancurkan oleh armada Demak pimpinan Fatahillah. Dengan kemenangan itu, fathillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 juni 1527 M itu kemudian di peringati sebagai hari jadi kota Jakarta. Dalam usaha memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur, Sultan Trenggana memimpin sendiri pasukannya. Satu persatu daerah Jawa Timur berhasil di kuasai, seperti Maduin, Gresik, Tuban dan Malang. Akan tetapi ketika menyerang Pasuruan 953 H/1546 M Sultan Trenggana gugur. Usahanya untuk memasukan kota pelabuhan yang kafir itu ke wilayahnya dengan kekerasan ternyata gagal. Dengan demikian, maka Sultan Trenggana berkuasa selama 42 tahun. Di masa jayanya, Sultan Trenggana berkunjung kepada Sunan Gunung Jati. Dari Sunan gunung jati, Trenggana memperoleh gelar Sultan Ahmad

16

Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Hlm 64

15

Abdul Arifin. Gelar Islam seperti itu sebelumnya telah diberikan kepada raden patah, yaitu setelah ia berhasil mengalahkan Majapahit.17 g. Kerajaan Tuban Tuban disebut sebagai salah satu kota pelabuhan utama di pantai utara jawa yang kaya dan banyak penduuk TiongHoanya.orang cina menyebut tuban dengan nama Duban atau nama lainnya adalah Chumin.pasukan cina-mongolia(tentara Tar-tar)yang pada tahun 1292 datang menyerang jawa bagian timur(kejadian yang menyebabakan berdirinya kerajaan majapahit)mendarat di pantai Tuban.dari sana pulalah sisa-sisa tentaranya kemudian meninggalkan P.jawa untuk kembali ke negaranya tapi sejak abad ke 15 dan 16 kapal-kapal dagang yang berukuran sedang saja sudah terpaksa membuang sau di laut yang cukup jauh dari garis pantai.sesudah abad ke 16 itu memang pantai tuban menjadi angkal oleh endapan lumpur.keadaan geografis semacam ini membuat kota tuban dalam perjalanan sjarah selanjutnya sudah tidak menjadi kota pelabuhan yang penting lagi.18 Pemerintahan Kabupaten Tuban ada sejak tahun 1293 atau sejak pemerintahan Kerajaan Majapahit. Pusat pemerintahannya dulu adalah di Desa Prunggahan Kulon kecamatan Semanding dan kota Tuban yang sekarang dulunya adalah Pelabuhan karena dulu Tuban merupakan armada Laut yang sangat kuat. Asal nama Tuban sudah ada sejak pemerintahan Bupati Pertama yakni Raden Dandang Wacana. Namun, pencetusan tanggal harijadi Tuban berdasarkan peringatan diangkatnya Raden Haryo Ronggolawe pada 12 November 1293. Tuban dulunya adalah tempat yang paling penting dalam masa Kerajaan Majapahit karena memiliki armada laut yang sangat kuat.Berikut sejarah perjalanan Ronggolawe sebagai salah satu Bupati

17

Dea Edhie. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV DEA ART PUSTAKA. Hlm 79-80 18 http:/sejarah-keraajaan-tuban

16

yang memiliki jasa besar bagi kota Tuban sekaligus sebagai pemberontak kerajaan Majapahit yang pertama kali. Ronggolawe diangkat sebagai Bupati Tuban karena jasa-jasanya yang besar terhadap Majapahit.Namun beliau menjadi pemberontak pertama Majapahit.Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan daripada Nambi.Dan

Ronggolawe

akhirnya

berperang

dengan

pasukan

Majapahit dan terbunuh oleh Kebo Anabrang. Begitulah akhir kisah dari Ronggolawe.Beliau meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan Majapahit.Namun nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur sampai saat ini h. Kerajaan Banten Sultan pertama Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan Demak berkuasa, daerah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Demak. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) membuat para pedagang muslim memindahkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar-dasar bagi kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.19 19

Dea Edhie. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV DEA ART PUSTAKA. Hlm 109

17

Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk agama Islam. Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad

(1580-1596).

Muhammad

menyerang

Pada

akhir

Kesultanan

kekuasaannya,

Palembang.

Maulana

Dalam

usaha

menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.20 Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga para pedagang Islam tidak lagi singgah di Malaka namun langsung menuju Banten; (3) Banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada. Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagangpedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang Arab mendirikan Kampung Pakojan, orang Cina mendirikan Kampung Pacinan, orang20

Ibid hlm 110

18

orang Indonesia mendirikan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.21 Sejak Banten di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan

ajaran-ajaran

Islam.

Setelah

Banten

berhasil

mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam makin kuat di daerah pedalaman. Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yakni ke daerah Banten Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka disebut Pasundan Kawitan yang artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menolak pengaruh Islam. Kehidupan sosial masyarakat Banten semasa

Sultan

Ageng

Tirtayasa

cukup

baik,

karena

sultan

memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni budaya masyarakat ditemukan pada bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten. Di samping itu juga bangunan istana yang dibangun oleh Jan Lukas Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang telah menganut agama Islam. Susunan istananya menyerupai istana raja di Eropa.22 i. Kerajaan Cirebon Letak Kerajaan Cirebon semula termasuk kedalam daerah Sunda Pajajaran, bahkan menjadi salah satu kota pelabuhan. Pelabuhan ini sudah ramai dari perahu pedagang-pedagang luar negri. Pedahang itu dari Arab, Cina, Pesia. Letak kerajaan Cirebon secara geografis di pesisir pantai pulau Jawa, merupakan mata rantai dalam jalan perdagangan internasional pada wwaktu itu yang antara lain

21 22

Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Hlm 83 Ibid hlm 85

19

membentang dari kepukauan Maluku hingga teluk Persi.23 Awal mula berdirinya Kerajaan Cirebon pada tahun 1302 cirebon mempunyai 3 daerah otonom di bawah kekuasaan keraajaan pajajaran yang masingmasing dikuasai oleh seorang Mangkubumi. Kerajaan Islam yang terletak di pantai sebelah utara pulau Jawa ini merupakan Kesultanan Islam pertama yang berdiri di tatar Pasundan. Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon itu adalah Pangeran Walasungsang, putera mahkota Kerajaan Pajajaran. Namun, orang yang berhasil meningkatakan statusnya menjadi Kesultanan, adalah Syarif Hidayatullah.24 Adapun sumber-sumber naskah tentang Cirebon yang disusun oleh para keturunan kesultanan dan para pujangga kraton umumnya berasal adari abad ke-17. Diantara itu yang dianggap tertua adalah naskah babad yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta yang disebut Nagara Karthabumi. Namun selain itu juga sumber yang disebut Suma Oriental yang berasal dari seorang pengelana bangsa Portugis yang bernama Tome Pires, yang pernah berkunjung ke Cirebon pada tahun 1513M. Sumber lokal tersebut menyebutkan pula bahwa Syarif Hidayatullah adalah keponakan sekaligus pula sebagai pengganti Pangeran Cakrabuana.25 Sumber-sumber lokal terutama naskah Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari, menyatakan bahwa pendiri kerajaan Islam Cirebon adalah Sunan Gunung Jati. Cirebon pada mulanya adalah sebuah desa nelayan yang tidak berarti, yang bernama Dukuh Pasambangan yang dimana dulunya dibuat pemukiman oleh Ki Gedeng Alang-Alang. Tokoh ini merupakan penguasa Pajajaran dan

23

Kerajaan-cirebon.blogspot.com/2013/03/awal-berdirinya-kerajaan-cirebon-pada.html?m=1 diaskes tanggal 29 Maret 2016 jam 17:43 24 Dea Edhie. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV DEA ART PUSTAKA. Hlm-101 25 Ibid hlm-101

20

berganti nama menjadi Walangsungsang, ia berhasil menaklukan Singapura.26 Sebagaimana disebutkan dalam Babad Cirebon, di gunung Jati telah tumbuh pesantren yang cukup ramai, yang dipimpin oleh Syekh Datu Khafi. Ketika Tom Pies mengunjungi Cirebon pada 1513, ia mengatakan bahwa Cirebon merupakan sebuah pelabuhan yang berpenduduk sekitar 1.000 keluarga dan penguasanya telah bergama Islam. Pires selanjutnya menyatakan, Islam telah hadir Cirebon sekitar tahun 1470-1475. De graaf menyatakan Cirebon merupakan daerah pertama di Jawa Barat yang telah memeluk Islam. Menurut Babad Cirebon, Cakrabhuni melakukan perjalanan ibadah ke haji ke Mekkah bersama adiknya yang bernama Rara Santang. Disebutkan bahwa Rara Santang dinikahi Sultan Mesir dan berputera Syekh Syarif. Selanjutnya Syekh Syarif atau Syarif Hidayatullah menerima pemerintahan Cirebon dari pamannya, Cakrabhumi yang pada sekitar 1479 M serta membuat pusat pemerintahan di Lemah Wungkuk. Ia membangun istana yang diberi nama Pangkuwati. Pangkuwati inilah kelak menjadi tempat tinggal raja-raja Cirebon. Berita yeng terkandung dalam dua teks lokal diatas memang sulit dibuktikan sebagai fakta sejarah.27 Islam berkembang di Cirebon dalam dua aliran, Sunni dan Syi’ah. Penyebar-penyebar Islam generasi pertama adalah para da’i, pedagang, musafir, para ahli kyai dan seniman di berbagai bidang. Cirebon menjadi salah satu bandar perdagangan yang pesat pada masanya, sekaligus menjadi pusat peradaban Islam yang memiliki beberapa karakter antara lain sebagai berikut : 1. Pertumbuhan kehidupan kota bernafaskan Islam dengan polapola penyusutan masyarakat serta hirarki sosial yang kompleks.

26

Besata Besuki Kertawibawa. 2009. Dinasti Raja Petapa II Syarif Hidayatullah Sang Pengembang Kerajaan Cirebon. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama. Hlm-130 27 Muarif Ambary Hasan. 1998. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: PT LOGOS Wancana Ilmu. Hlm-109

21

2. Berkembangnya arsitektur baik sakra maupun profan, misalnya Mesjid

Agung

Cirebon,

keraton-keraton

Kasaepuhan,

Kanoman, Kacerbonan, dan Kaprabonan. 3. Pertumbuhan seni lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi Islam yang sangat khas Cirebon. 4. Perkembangan bidang kesenian lainnya seperti tari, membatik, musik, dan berbagai seni di pertunjukan tradisioal bernafaskan Islam, ragam hias awan yang khas Cirebon. 5. Pertumbuhan

penulisan

naskah-naskah

keagamaan

dan

pemikiran keagamaan yang sisa-sisanya masih tersimpan di keraton-keraton Cirebon. 6. Tumbuhnya aliran tarekat Syatariah yang kemudian melahirkan karya-karya sastra dalam bentuk serat suluk yang mengadung ajaran wujudiniyah atau martabat yang tujuh.28 Dari Babad Cirebon dan Purwaraka Carubati Nagari, diketahui adanya dua tempat penting yang menjadi pusat penyeberan Islam paling awal di Jawa Barat, yakni Kuro (Karawang), dan Gunung Jati (Pasambangan di Cirebon). Dilihat dari segi kronologisnya, pesantren Kuro dianggap lebih tua, dam disebutkan bahwa pesantren ini telah berhasil membina dan mengislmakan seorang tokoh wanita yaitu Nyi Subang Larang yang telah menikah dengan Prabu Siliwangi, dan menurunkan putera-puterinya yakni Kian Santang dan Nyi Subang Larang.29 Cirebon menjadi basis sosialisasi Islam kearah barat maupun ke selatan. Dengan dukungan geografi yang startegis, Cirebon berada pada jaringan sosialisasi dan institusinalisasi Islam mulai dari arah Timur seperti Demak, Mataram, Gresik, dan Giri, dan dari Barat yaitu Quro (Karawang). Posisi tersebut sekaligus menempatkan Cirebon pada 28

Muarif Ambary Hasan. 1998. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: PT LOGOS Wancana Ilmu. Hlm-110 29 Ibid hlm-111

22

posisi tengah benturan kepentingan, termasuk hubungan dengan Mataram yang tidak selalu mulus. 30

B. Pelabuhan Besar di Nusantara Dikutip dari sebuah diskusi panel yang berjudul “Rempah-Rempah, Imperialisme dan Perubahan Peta Maritim di Nusantara Abad XVI-XVII,” oleh Singgih Tri Sulistyono, menjelaskan bahwa, pada awal abad Masehi, ekonomi Eropa menjadi semakin baik menyusul terbangunnya Pax Romana. Hal ini juga mengkondisikan terjadinya kenaikan permintaan terhadap berbagai komoditi dagang dari negeri-negeri seberang. India barangkali tidak mampu lagi memenuhi permintaan untuk pasar Eropa. Lagi pula rempah-rempah dari India tidaklah lengkap karena hanya menyediakan lada. Dalam hal ini kepulauan Indonesia menghasilkan semua jenis rempah-rempah baik lada, kayu manis, pala, cengkeh, dan sebagainya. Jadi revolusi transportasi maritim pertama kali di Nusantara terjadi pada awal abad masehi ketika terjadi perubahan rute perdagangan dari rute daratan (jalan sutra) ke jalan maritim (jalan rempahrempah). Perubahan rute perdagangan global ini di samping dipicu oleh ketidakamanan jalan darat melalui Asia Tengah juga permintaan produk rempah-rempah yang semakin meningkat yang mampu dihasilkan juga daerah daerah kepulauan di Nusantara. Sejak saat itu geliat perdagangan rempah-rempah menjadi sangat spektakuler. Perdagangan rempah-rempah ini menjadi driving force bagi kegiatan perdagangan dan pelayaran secara umum selama berabad abad. Perdagangan maritim telah memberikan dampak bagi lahirnya berbagai emporium di Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, Demak, Ternate, Tidore, Makassar, dan sebagainya. Tuban merupakan sebuah bagaimana contoh yang tipikal mengenai proses perubahan dari kota pelabuhan yang sangat penting sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur menjadi pelabuhan yang juga 30

Ibid hlm-112

23

penting pada awal berkembangnya kerajaan-kerajan Islam di pantai utara Jawa. Fungsi sebagai pelabuhan internasional inilah yang memungkinkan Tuban menjadi kota yang bersifat kosmopolitan. Bangsa-bangsa asing yang datang di Tuban antara lain Orang India Utara, India Selatan, Srilangka, Burma, Kamboja, dan Champa. Menurut cerita dalam Babad Tuban bahwa Aria Wilatikto adalah anak dan pengganti Aria Tejo, yaitu seorang ulama keturunan Arab yang berhasil meyakinkan Raja Tuban, Arya Dikara, untuk memeluk agama Islam. Oleh karena jasanya ia dinikahkan dengan putrinya. Nama Arab Aria Teja adalah Abdurrahman. Hal ini sesuai dengan kesaksian Tome Pires bahwa penguasa Tuban pada sekitar tahun 1500 adalah cucu raja islam yang pertama di kota Tuban. Pada masa kejayaan Demak, sikap Tuban mendua. Di samping mengakui Demak sebagai kesultanan Islam, Tuban juga masih menjaga hubungan baik dengan Majapahit. Hal ini bisa dipahami karena letak Tuban tidak begitu jauh dari Majapahit sehingga masih ada kemungkinan Majapahit akan menghancurkannya jika Tuban melakukan penentangan secara frontal sebagaimana yang terjadi terhadap Juana. Setelah Majapahit hancur, Tuban masih tetap mengakui Sultan Demak sebagai Maharaja wilayah-wilayah Islam bahkan ketika Sultan Hadiwijaya memindahkan kratonnya di Pajang, Tuban masih mengakuinya. Namun demikian setelah Pajang dijatuhkan oleh Mataram, Tuban berusaha berdiri sendiri sebagai negara merdeka. Tuban merupakan kekuatan pantai utara Jawa yang menentang penaklukan Mataram. Beberapa kali Tuban diserang oleh Mataram sejak masa pemerintahan Senopati yaitu tahun 1587, 1598 dan 1599. Namun demikian baru tahun 1619, Tuban betul-betul takluk kepada Sultan Agung dari Mataram. Setelah itu bupati-bupati Tuban diangkat oleh Mataram. Reputasi Tuban sebagai kota dagang di pantai utara Jawa masih bertahan hingga abad XVI ketika Islam memperoleh pijakan yang kuat di kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa. Pada awal abad XVI, seorang musyafir Portugis, Tome Pires, mengungkapkan bahwa Tuban merupakan

24

salah satu bandar penting di Jawa.

Jaringan perdagangan Tuban

mencakup daerah-daerah dari Malaka hingga Maluku, termasuk Makassar, Banjarmasin, Palembang, Jambi. Bahwa Tuban memiliki hubungan dagang yang dengan Maluku dapat diketahui dari sebuah catatan Portugis bahwa ketika ada pedagang Portugis pada akhir abad XVI yang berusaha menemui Raja Tuban dalam usahanya untuk mencari pemandu setempat untuk mengantarkannya ke Maluku, Raja Tuban lancar berbahasa Portugis. Ia menyarankan agar pedagang Portugis itu tidak usah datang ke Maluku dan cukup menunggu di Tuban, karena tiga bulan lagi akan datang lebih dari 40 jung dari Maluku dengan membawa rempah-rempah. Ini berarti bahwa Tuban telah menjalin hubungan dagang secara reguler dengan Maluku dan Malaka. Komoditi dagang yang diperdagangkan di pasar lokal di Tuban antara lain lada (yang didatangkan dari Banten dan Palembang), bermacammacam jenis burung, tulang penyu, cula badak, gading, mutiara, kayu cendana, rempah-rempah, kapur barus, dan sebagainya. Pada masa Majapahit komoditi dagang lokal yang utama adalah beras. Sementara itu barang impor yang paling disukai masyarakat setempat adalah porselen pola biru dari Cina, gading, kain sutera bersulam emas, dan manik-manik. Kelompok orang kaya di Tuban juga menyukai bahan pakaian impor yang mahal seperti dari Cina. Selera tinggi ini sudah muncul sejak jaman Majapahit hingga abad XVI ketika agama Islam berkembang di kota ini. Komoditi lain yang juga diperjualbelikan oleh masyarakat Tuban pada abad XVI adalah emas, perak, berbagai macam piring dari emas dan perak, kain damas, dan barang-barang pecah belah dari porselen. Perkembangan Tuban tersebut seiring dengan kedatangan dan rangkaian penaklukan yang dilakukan oleh Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Sementara itu, kerajaan Demak sedang dalam puncak kejayaan ketika Portugis datang di perairan Nusantara, meskipun hal itu tidak berlangsung lama. Menurut Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental, kakek raja Demak yang memerintah pada tahun 1513 adalah seorang budak belian

25

dari Gresik yang telah mengabdi di Demak saat masih menjadi vasal Majapahit. Dalam karirnya dia diangkat menjadi capitan dan dipercaya memimpin ekspedisi melawan Cirebon, sehingga dapat berhasil pada tahun 1470. Secara

geografis,

Demak

memiliki

letak

yang

sangat

menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada waktu itu Kerajaan Demak merupakan kerajaan maritim yaitu sebuah kerajaan yang perekonomiannya lebih didasarkan atas sektor perdagangan dan pelayaran. Berdsarkan geo-morfologi bahwa pada abad XV kota Demak berada di tepi pantai dan memiliki pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara. Menurut cerita babad dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, pengganti Raden Patah adalah Pangeran Sabrang Lor. Nama itu ternyata berasal dari daerah tempat tinggalnya di seberang utara, yaitu Jepara sebuah daerah yang pada waktu itu masih terpisah oleh sebuah selat dengan Demak. Sementera itu menurut Tome Pires penguasa kedua di Demak adalah Pate Rodim Sr. Dia mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal jung. Kekuatan Demak terpenting adalah kota pelabuhan Jepara, yang merupakan kekuatan laut terbesar di laut Jawa dan sekaligus juga pemasok beras yang utama ke Malaka. Pada masa Trenggana, dia berusaha memimpin suatu koalisi Islam yang mungkin menghancurkan kerajaan Hindu-Budha utama terakhir yang berpusat di Kediri. Ia memang tidak merebut suatu kerajaan Jawa yang mapan, tetapi sekembali di pusat kekuasaannya di Demak Sultan Trenggana terus-menerus menyerang sejumlah musuh yang masih memeluk agama Hindu. Gelar Sultan yang menurut tradisi disandangnya sejak tahun 1524 dengan hak (otorisasi) yang di bawa Sunan Gunung Jati dari Mekkah merupakan indikasi bahwa Demak adalah sebuah kerajaan berbentuk baru di Jawa. Gambaran itu menunjukkan bahwa Demak benar-benar merupakan kekuatan yang signifikan di Jawa pada abad ke-16. Pada masa Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, tepatnya tahun 1512 dan 1513, Demak menyerang Malaka

26

yang pada waktu itu dikuasai oleh Portugis dengan menggunakan gabungan seluruh angkatan laut bandar-bandar Jawa, dan Sumatra namun berakhir dengan hancurnya angkatan laut dari Jawa. Menurut kesaksian Tome Pires, pelabuhan Demak banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang Persia, Arab, Gujarat, Melayu, dan sebagainya. Dengan kegiatan dagangnya mereka menjadi kelompok sosial yang kaya. Mereka membangun masjid dan membangun solidaritas keislaman serta melakukan perkawinan campur dengan masyarakat setempat. Sebagai bandar utama di Nusantara, jangkauan jaringan pelayaran Demak mencakup hampir seluruh wilayah Nusantara dari Maluku hingga Malaka. Bahkan dengan datangnya pedagang asing sebagaimana yang disebutkan di atas berarti jaringan perdagangan Demak juga telah mencapai kawasan di sebelah barat Selat Malaka hingga dunia Arab. Sejalan dengan perpindahan pusat kekuasaan dari kota Demak ke Pajang dan proses perubahan ekologi di ‘Selat Muria’ yang menempatkan Demak tidak lagi sebagai kota pelabuhan, maka kehidupan maritim Demak menjadi mundur. Fungsi Demak digantikan oleh Jepara hingga VOC mengalihkan kegiatan dagang dari Jepara ke Semarang pada abad XVII. Akibat dari situasi ini, maka pelabuhan laut kota Demak menjadi kurang berarti pada akhir abad ke-XVI. Namun sebagai produsen beras dan hasil pertanian lain daerah Demak masih lama mempunyai kedudukan penting dalam perekonomian kerajaan Mataram. Di Banten, perkembangan perniagaan kaum Muslim memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam proses formasi kekuatan politik Islam. Perpaduan antara perkembangan perdagangan dan kekuatan politik akhirnya menempatkan kerajaan sebagai sebuah imporium yang besar di kawasan Selat Sunda yang mendasarkan perekonomiannya pada pelayaran dan perdagangan. Banten memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai sebuah kota pelabuhan. Kota Banten yang terletak di ujung bagian Barat pulau Jawa dan berada di pintu Selat Sunda ini dapat dikatakan berfungsi

27

sebagai pintu gerbang barat dari kepulauan Nusantara. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 dapat dikatakan sebagai blessing in disguise bagi Banten. Sejak saat itu, para pedangang Muslim yang sebelumnya biasa berdagang di Malaka memindahkan pusat kegiatan mereka ke Banten yang pada akhirnya menyebabkan Banten berkembang menjadi pelabuhan transito komoditi-komoditi yang diperdagangkan oleh para pedagang Islam. Tome Pires juga pernah datang ke Banten antara tahun 1512-1513. Dalam catatannya, Tome Pires menggambarkan Banten sebagai suatu pelabuhan yang ramai. Banyak perahu jung Cina yang berlabuh

di

tempat

tersebut.

Disebutkannya

komoditi

yang

diperdagangkan di Banten adalah beras, bahan makanan dan lada. Hubungan antara Banten dengan Demak memang sangat erat. Proses Islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dan putranya dapat berhasil secara baik karena dibantu oleh kekuatan militer dari Demak. Dalam pertengahan abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Demak telah dapat menggalang kekuasaan politik yang membentang di sepanjang pantai Jawa bagian Barat yaitu dari Cirebon, Sunda Kelapa hingga ke Banten. Perdagangan lada membuat Banten menjadi kota pelabuhan yang penting. Kapal-kapal dagang Cina, India dan Eropa singgah dan berdagang di Banten. Dalam melaksanakan perdagangan, Banten menerapkan sistem perdagangan terbuka. Artinya semua pedagang dari berbagai bangsa dibebaskan untuk berdagang di Banten. Masa kejayaan Banten sebagai pelabuhan pusat perdagangan di bagian Barat Nusantara berlangsung dari pertengahan abad ke-16 hingga menjelang akhir abad ke-17. Puncak kurun niaga yang disebut oleh sejarawan Anthony Reid berlangsung antara tahun 1570 hingga 1630 rupanya bertepatan dengan masa kejayaan Banten sebagai kota palabuhan. Selain komoditi utama berupa lada, komoditi rempah-rempah lainnya seperti cengkeh dari Maluku Utara maupun pala dari Banda juga diperdagangkan

di

Banten.

Tidak

hanya

rempah-rempah

yang

diperdagangkan di Banten namun juga komoditi-komoditi lainnya seperti

28

beras, keramik dan tekstil. Berbagai barang dagangan tersebut di bawa ke Banten oleh para pedagang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Pedagang dari berbagai bangsa bertemu dan saling melakukan kontak budaya. Dalam masa kejayaannya Banten dapat dikatakan sebagai pelabuhan dagang terbesar di Nusantara. Di Banten ditemukan para pedagang dari berbagai bangsa seperti Bugis, Jawa, Melayu, Portugis, Arab, Turki, Cina, Keling, Pegu, Bengali, Gujarat, Malabar dan Abesenia. Semaraknya

kegiatan

perdagangan

di

Banten

telah

menarik

kedatangan para penduduk dari berbagai suku bangsa untuk menetap di sana. Sebagaimana lazimnya kota-kota pelabuhan di Nusantara pada saat itu, di Banten juga terdapat perkampungan orang-orang Cina yang disebut dengan Pecinan. Pada abad XVII di kota Banten terdapat komunitas etnis lainnya seperti orang-orang Jawa, Makassar, Melayu, Bengal, Arab, Gujarat dan sebagainya. Bahkan orang-orang Eropa juga turut bermukim dan membuka kantor dagang di Banten. Di kota pelabuhan tersebut terdapat kantor dagang milik orang Portugis, Perancis, Denmark, Inggris dan kantor dagang milik orang Belanda. Sebagai penunjang bagi keberhasilan dari kegiatan perdagangan internasional, Banten juga menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai bangsa. Pada tahun 1681 tercatat bahwa Banten memiliki seorang duta besar yang ditempatkan di kota London, Inggris. Keberadaan duta besar Banten di Inggris itu mencerminkan bahwa kesulatanan Banten pada abad ke-XVII mendapat pengakuan internasional dan dipandang sejajar dengan negara-negara besar berdaulat lainnya. Sementara itu proses Islamisasi dan formasi politk Islam di Cirebon juga tidak banyak berbeda dengan Demak dan Banten. Hanya saja sumbersumber tradisional mengesankan adanya transfer kekuasaan dari Hindu ke Islam secara elegan dalam sebuah proses kontinuitas. Sumber-sumber tradisional setempat menyebutkan bahwa pendiri dinasti Cirebon yaitu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bukanlah orang dari Pasai tetapi dia

adalah

cucu

raja

Siliwangi

dari

Pajajaran

dan

menantu

29

Walangsungsang, seorang penguasa pelabuhan Muara Jati. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah inilah Cirebon yang sudah Islam memutuskan hubungan dengan kerajaan Galuh yang masih Hindu dengan di bawah perlindungan kerajaan Demak. Dengan begitu berdirilah kerajaan Islam Cirebon yang mendasarkan perekonomiannya pada aktivitas perniagaan. Baru setelah periode itu, perluasan kekuasaan kerajaan Cirebon dilakukan. Pada tahun 1528 kerajaan Galuh bisa ditaklukkan demikian juga daerah Kuningan pada tahun 1530. Sementara itu daerah Babadan, Luragung, Indramayu dan Krawang menerima daulah Islamiyah dengan cara damai. Perkembangan pelabuhan Cirebon didukung oleh beberapa faktor antara lain geografis dan kekayaan alam di daerah pedalaman. Hal ini bisa dijumpai pada kesaksian Tome Pires: ‘This Cherimon has a good port… It has a great deal of rice and abundant foodstuffs. This place has better wood for making junks than anywhere else in Java’. Perkembangan pelabuhan Cirebon pada masa Islam didorong oleh beberapa faktor antara lain: pertama, Cirebon bertindak sebagai penyedia barang kebutuhan bekal perjalanan kapal. Di samping itu Cirebon juga mengekspor beras ke Malaka sebelum jatuh ke tangan Portugis. Kedua, Cirebon telah menjadi tempat bermukimnya para pedagang besar. Setelah Portugis menguasai Malaka, beberapa pedagang mulai berpindah ke pelabuhan Islam lainnya termasuk Cirebon. Tome Pires waktu itu memperkirakan bahwa penduduk Cirebon sekitar 1000 orang. Di kota pelabuhan ini tinggal kurang lebih 7 orang pedagang besar, satu di antaranya adalah Pate Quedir seorang bangsawan pedagang yang pernah menjadi kepala perkampungan Jawa di Malaka yang diusir oleh tentara Portugis karena dituduh berkomplot dengan tentara Demak yang menyerbu Malaka. Sebelum dianeksasi oleh VOC, pelabuhan Cirebon memiliki peranan sebagai pusat perdagangan yang cukup besar. Pelabuhan ini memiliki

30

hubungan dagang dengan Batavia. Arsip-arsip Belanda menginformasikan dengan cukup detail mengenai aktivitas pelabuhan Cirebon dengan Batavia. Barang-barang yang dibongkat di Batavia yang berasal dari Cirebon adalah beras, padi, lada, kayu jati, gula merah, tembakau, minyak kelapa, ikan, garam, bawang merah, bawang putih, kelapa, buah pinang, kapas, sapi, kambing, kulit kerbau, kulit rusa, tembikar, rotan, dan sebagainya. Sudah tentu komoditi ini tidak semuanya diproduksi oleh Cirebon tetapi juga berasal dari pelabuhan di sekitarnya seperti Pekalongan dan Tegal dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur dan Madura serta dari Palembang. Sebaliknya dari pelabuhan-pelabuhan lain, khususnya dari Batavia, pelabuhan Cirebon mengimpor pakaian, candu, arak, gula putih, porselin, lilin, tembaga, besi tua, panci besi, perunggu Jepang dan sebagainya. Pada tahun 1681, Mataram menyerahkan Cirebon kepada VOC. Dengan tampilnya penguasa baru ini, perdagangan pribumi mendapatkan pengawasan dan tekanan yang ketat. Dalam perjanjian tahun 1681 itu disebutkan bahwa Kumpeni mendapatkan hak monopoli impor pakaian, kapas, opium, dan monopoli ekspor untuk komoditi lada, kayu, gula, beras, dan produk apapun yang dikehendaki Kumpeni yang semuanya itu bebas bea ekspor dan impor yang sebelumnya pernah dikenakan sebesar 2% dari nilai barang. Perjanjian itu juga mengatur bahwa pelayaran pribumi harus mendapatkan lisensi dari VOC dan sangat dibatasi. Tidak semua kapal boleh masuk, kecuali atas ijin Kumpeni. Tanaman lada yang diusahakan di wilayah Cirebon diatur oleh Kumpeni dan Kumpeni pula yang menetapkan harganya. Sementara itu, Aceh merupakan kerajaan maritim yang tampaknya tidak memiliki basis historis sebagai kekuatan politik dan kultural praIslam yang kuat. Berdasarkan sumber sejarah lokal, yaitu kitab Adat Aceh dikisahkan bahwa pada tahu 601 Hijriyah Aceh di-Islamkan oleh seseorang yang bernama Sultan Jauhansyah yang datang dari “negeri di atas angin”. Bersamaan dengan proses islamisasi tersebut diangkatlah

31

seorang sultan yang pertama dengan gelar Sultan Johan Syah. Pada sekitar awal abad ke-16 kesultanan Aceh yang masih kecil berhasil melepaskan diri

dari

pengaruh

negara

tetangganya,

Pedir.

Bahkan

dalam

perkembangan selanjutnya kesulatanan Aceh berkembang menjadi semakin besar setelah berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam kecil yang ada di sekitarnya. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, para pedagang Islam yang biasa mengunjungi Malaka untuk berdagang mulai menghindari kota pelabuhan tersebut. Salah satu pelabuhan terdekat yang paling potensial untuk dijadikan pelabuhan pengganti sebagai tempat tujuan berdagang di Selat Malaka adalah Aceh. Sejak saat itu Aceh menjadi bandar dagang utama bagi para pedagang Islam yang membawa cengkeh dan pala dari Maluku dan Banda serta Lada dari Sumatra Selatan dan Aceh sendiri ke laut Merah di Asia Barat. Dari Laut Merah barangbarang dagangan tersebut diangkut menuju Eropa. Di Aceh terdapat beraneka ragam hasil alam yang diperdagangkan seperti minyak tanah, belerang, kapur, kemenyan, dan emas. Komoditi yang cukup diandalkan selain lada adalah sutera. Para pedagang yang telah sejak lama berdagang di Aceh adalah para pedagang dari Arab dan India. Mereka senang berdagang di Aceh karena kesultanan ini menganut agama Islam, sama dengan agama yang mereka yakini. Para pedagang India membawa komoditi seperti tembikar, besi, baja, kapas dan intan. Di Aceh, mereka membeli kemenyan, kapur dari Barus, lada dan porselen dari Cina. Perahu-perahu dagang Cina (jung) juga banyak terdapat di Aceh. Selain memperdagangkan porselen, orang-orang Cina memperkenalkan cara budidaya sutera kepada orang Aceh. Selain mereka terdapat pula para pedagang dari Turki, Siam, Jawa dan orangorang Eropa yang terdiri dari orang Portugis, Perancis dan Inggris. Ketika orang Inggris pertama kali mendarat di Aceh, mereka mendapat kesan bahwa Aceh adalah sebuah kota yang besar. Mengenai seberapa banyak jumlah penduduk Aceh kiranya sukar untuk diperkirakan.

32

Namun demikian menurut kesaksian orang Perancis yang mengunjungi Aceh dinyatakan bahwa sultan Iskandar Muda dapat mengerahkan sekitar 40.000 pasukan. Sebagaimana kota-kota pelabuhan lainnya di Asia Tenggara pemukiman penduduk di kota Aceh dikelompokkan menurut latar belakang etnis dari penghuninya. Oleh karena itu di Aceh terdapat nama-nama kampung seperti; kampung Portugis, kampung Gujarat, kampung Arab, kampung Bengali, kampung Cina dan kampung Pegu. Pada awal abad ke-17 Sultan Aceh pernah mengirim utusan ke negeri Belanda. Perutusan itu merupakan balasan atas misi persahabatan yang dikirim oleh Prins Maurits dari Belanda ke Aceh. Delegasi yang dikirim Aceh ke Belanda terdiri dari Abdul Hamid sebagai ketua dengan anggota delegasi Laksamana Laut Sri Muhammad dan Mir Hasan. Pada tanggal 20 Juli 1602 perutusan Aceh tiba di Zeeland negeri Belanda. Pengiriman misi diplomasi tersebut merupakan perutusan pertama dari negara Asia yang memberi pengakuan kepada Belanda ketika mereka sedang terlibat perang 80 tahun (1568-1648) melawan Spayol dan Portugis. Dalam masa kunjungan di negeri Belanda ketua delegasi Abdul Hamid yang telah berusia 71 tahun wafat dan kemudian dikebumikan di gereja Saint Peter di Middelburg. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, daerah kekuasaan Aceh meluas meliputi pelabuhan-pelabuhan di Pesisir Barat maupun Timur Sumatera seperti Pasai, Pedir, Deli, Aru, Pasaman, Tiku dan Pariaman. Di luar pulau Sumatera kekuasaan Aceh bahkan mencapai semenanjung Malaka yang meliputi wilayah Johor, Pahang, Kedah dan Perak. Sultan Iskandar Muda sangat menyadari bahwa daerah Sumatera barat sangat penting bagi perdagangan lada dan emas. Untuk dapat mengendalikan jalannya kegitan perdagangan di Sumatera Barat Iskandar Muda mengirimkan para panglima Aceh ke daerah-daerah penghasil emas dan lada dan pelabuhan-pelabuhan di mana barang-barang tersebut dikirimkan. Para pedagang asing tidak dijinkan untuk berdagang secara langsung ke daerah-daerah penghasil lada dan emas. Mereka hanya

33

dijinkan untuk memperdagangkan komoditi tersebut di pelabuhan Aceh di bawah pengawasan langsung dari para pegawai sultan. Masa kejayaan Sultan Iskandar Muda mulai menurun ketika pasukan yang dikirimnya untuk merebut Malaka dari tangan Portugis menderita kekalahan. Sebagai upaya untuk mendapat dukungan dari kekuatan lain, ia kemudian menjalin kerjasama dengan orang-orang Belanda dengan memberi mereka ijin untuk selama 4 tahun berdagang di seluruh wilayah Aceh dengan tanpa dikenakan pajak. Supremasi politik maupun ekonomi Aceh di kawasan Selat Malaka semakin merosot ketika pada tahun 1641 orang-orang Belanda dapat merebut Malaka. Ternate muncul dalam pangung sejarah sebagai salah satu pelabuhan dagang di kepulauan Maluku Utara berkaitan erat dengan interaksi yang semakin intensif diantara kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara sebagai akibat dari munculnya jaringan emporium di kawasan tersebut. Pemicu dari maraknya kegiatan perdagangan di Maluku Utara adalah ekspedisi kapal-kapal Cina yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dari tahun 1371 hingga 1435 Masehi. Meskipun ekspedisi tersebut tidak mencapai daerah Maluku Utara, namun mulai saat itu nampaknya orang-orang Ternate mulai menyadari nilai ekonomi dari komoditi cengkeh yang mereka hasilkan. Kata cengkeh sendiri berasal dari bahasa Mandarin Zhi Jia atau dalam dialek Kanton Zhen Ga yang artinya adalah paku. Kata cengkeh mulai umum digunakan dalam bahasa Melayu sejak abad ke-16. Ternate merupakan salah sebuah pulau yang termasuk wilayah Maluku Utara. Ternate dan wilayah maluku pada umumnya memang merupakan wilayah penghasil utama dari komoditi cengkeh. Sebagai salah satu daerah utama penghasil cengkeh Ternate sepanjang abad ke-16 hinggga 18 menjadi ajang pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi yang pada akhirnya sering berujung pada pertarungan politik maupun militer. Pada abad ke-15 ada empat pusat perdagangan cengkeh di Maluku Utara yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo (Halmahera). Pulau-pulau

34

lainnya yang mengahasilkan cengkeh lambat laun terkait dalam jaringan perdagangan melalui salah satu di antara keempat pusat perdagangan tersebut. Munculnya empat buah pusat perdagangan berkait erat dengan struktur tradisional masyarakat Maluku Utara. Sistem empat penguasa di Maluku Utara dilembagakan ke dalam suatu konsep tradisional yang disebut ‘Maluku Kie Raha’ atau Maluku Empat Gunung. Konsep ini mengacu pada adanya hubungan federatif yang damai di antara empat kekuatan politik utama di Maluku Utara demi kepentingan perdagangan cengkeh. Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16, Ternate melakukan perdagangan cengkeh dengan para pedagang yang datang dari Jawa, Melayu, Makassar, Bugis, dan Banten. Bangsa Eropa yang pertama kali tiba di Ternate ialah orang-orang Portugis. Mereka tiba pertama kali pada tahun 1512 di bawah pimpinan Fransisco Serrao. Pada tahun 1570 pecah pertempuran antara Ternate dengan Portugis yang menyebabkan Sultan ternate Hairun terbunuh. Pengganti Sultan Kahirun, Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1577. Dalam masa pemerintahan Sultan Baabullah Ternate mencapai masa kejayaanya. Armada perahu Ternate yang terkenal dengan sebutan korakora melakukan ekspedisi militer untuk memperluas wilayah kerajaan. Daerah yang dapat dikuasai Ternate terbentang dari Maluku Utara sampai pulau Buru, Seram, Sulawesi Utara dan beberapa tempat di sekitar Teluk Tomini. Wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan diwajibkan untuk membayar pajak tahunan kepada Ternate dan penduduknya diwajibkan untuk membantu Ternate jika sewaktu-waktu terjadi peperangan. Pada tanggal 22 Mei 1599 dua buah kapal Belanda (Amsterdam dan Utrech) dengan 560 awak kapal di bawah pimpinan kapten Wybrant van Warwyk untuk pertama kali tiba di Ternate. Kunjungan ini disambut dengan hangat oleh pihak Ternate. Sultan bersama 32 armada kora-kora yang mengangkut para pendayung dan para penyanyi mengitari kapalkapal Belanda tersebut sambil melantunkan lagu-lagu Ternate dan menari.

35

Setelah terjadi penyambutan yang hangat, urusan transaksi dagang menjadi lancar. Kunjungan orang-orang Belanda berikutnya ke Ternate di bawah pimpinan pimpinan Laksamana Jacob van Neck berlangsung pula dengan mulus. Cengkeraman Belanda melalui perusahaan dagang VOC semakin menguat di Ternate, setelah pada tanggal 23 Februari 1605 armada Belanda di bawah pimpinan laksamana Steven van der Hagen berhasil merebut benteng Portugis di Ambon. Selanjutnya Steven van der hagen dan para penggantinya mendapat perintah dari markas besar VOC di Amsterdam untuk menduduki seluruh Maluku dan mengusai perdagangan cengkeh. Berdasarkan perintah tersebut, maka dimulailah berbagai upaya VOC di Maluku untuk menerapkan sistem monopoli terhadap komoditi cengkeh.

BAB III PENUTUP A. Simpulan Indonesia merupakan negara kepulauan yang dulu sempat melahirkan banyak sekali kerajaan-kerajaan yang sempat berperan dalam rute perdaganagan dunia, kerajaan-kerajaan tersebut di antaranya: Barus, Samudera pasai, Ternate, Tiodre, Buton, Demak, Tuban, Banten dan Cirebon. Salah satu pelabuhan besar di Nusantara yang berperan penting dalam hal kemaritiman yaitu Pelabuhan di Kerajaan Tuban yang merupakan sebuah tipikal mengenai proses perubahan dari kota pelabuhan yang sangat penting sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, menjadi pelabuhan yang juga penting pada awal berkembangnya kerajaankerajan Islam di pantai utara Jawa. Fungsi sebagai pelabuhan internasional inilah

yang

memungkinkan

Tuban

menjadi

kota

yang

bersifat

kosmopolitan. Bangsa-bangsa asing yang datang di Tuban antara lain Orang India Utara, India Selatan, Srilangka, Burma, Kamboja, dan Champa. Menurut cerita dalam Babad Tuban bahwa Aria Wilatikto adalah anak dan pengganti Aria Tejo, yaitu seorang ulama keturunan Arab yang berhasil meyakinkan Raja Tuban, Arya Dikara, untuk memeluk agama Islam. Oleh karena jasanya ia dinikahkan dengan putrinya. Nama Arab Aria Teja adalah Abdurrahman. Hal ini sesuai dengan kesaksian Tome Pires bahwa penguasa Tuban pada sekitar tahun 1500 adalah cucu raja islam yang pertama di kota Tuban.

36

DAFTAR PUSTAKA Badrika, Wayan. 2006. Sejarah untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pusatka Al-Kautsar. Edhie, Dea. 2011. Sepuluh Kerajaan Besar Islam Nusantara. Bandung: CV Dea Art Pustaka. H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, 2003, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kertawibawa, Besata Besuki. 2009. Dinasti Raja Petapa II Syarif Hidayatullah Sang Pengembang Kerajaan Cirebon. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama. Muarif Ambary, Hasan. 1998. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: PT LOGOS Wancana Ilmu Muljana, Slamet. 2007. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negaranegara Islam di Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. Yusuf, Mundzirin dkk. 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Pustaka. Zuhdi, Susanto. 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Selatan Kesultanan Buton. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.