Standar Perancangan TEMPAT WUDHU dan TATA ... .edu

October 28, 2016 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

Wudhu yang dilaksanakan dengan baik adalah prasyarat diterimanya shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat salah seoran...

Description

1

“Mengapa Tempat Wudhu?”

Dalam Rukun Islam yang kedua, shalat lima waktu merupakan hal yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Sebelum melaksanakan shalat, umat Islam diwajibkan untuk berwudhu sebagai cara untuk menyucikan diri sebelum menghadap Allah SWT dan sebagai syarat sahnya shalat. Dengan demikian, dapat dikatakan kesempurnaan dan sahnya shalat sangat bergantung dari kesempurnaan wudhu. Al Quran dan Hadits sebagai 2 sumber hukum Islam yang utama telah memberikan petunjuk mengenai tata cara wudhu yang baik, dan disempurnakan dengan ijtihad para ulama. Wudhu yang dilaksanakan dengan baik adalah prasyarat diterimanya shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat salah seorang diantara kalian tidak akan diterima apabila ia berhadas hingga ia berwudhu”. (H.R. Abu Hurairah) Dari aspek tata ruang, masih seringnya ditemui tempat wudhu dengan sirkulasi yang kurang baik, diantaranya adalah aksesibilitas tempat wudhu yang harus dicapai dengan memutar tempat shalat, tempat wudhu dan tempat shalat tidak berada dalam satu batas suci, serta letak toilet yang berada di dekat tempat wudhu sehingga dikhawatirkan air cipratan toilet tercampur ke dalam tempat wudhu dan menyebabkan najis. Permasalahan tata ruang dan morfologitempat wudhu tersebut masih dijumpai di berbagai tempat wudhu di masjid maupun mushola dan kondisi tersebut masih kurang disadari oleh para pengguna masjid atau mushola. Hingga sekarang belum terdapat rekomendasi bagaimana penggunaan air yang efisien dalam kegiatan wudhu, baik ditinjau dari komponen jenis kran maupun pemanfaatan kembali limbah air wudhu. Permasalahan lain yang menjadi ganjalan bagi pelaku wudhu adalah fasilitas tempat wudhu yang cukup penting bagi pengguna, diantaranya adalah tempat untuk meletakkan barang-barang yang masih melekat pada tubuh ketika memasuki area wudhu, seperti jam tangan, kacamata, pecis/kopiah, sarung, jilbab, asesoris, dan sebagainya. Selain itu, permukaan lantai yang licin menjadi permasalahan penting, karena dapat membahayakan pengguna.

[1]

2

“Kondisi Saat Ini …?”

Melihat masjid sebagai bagian dari hasil kebudayaan masyarakat, maka tempat wudhu pun menjadi bagian dari sebuah budaya masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi, maka tempat wudhu semakin memiliki banyak variasi, mulai dari yang sangat sederhana dan hanya memenuhi secara fungsional, hingga yang sangat memperhatikan estetika tempat wudhu dan kenyamanan pengguna.Beberapa aspek teknis yang mendapat perhatian dalam membangun sebuah tempat wudhu antara lain kenyamanan dan efisiensi pemanfaatan air dengan tetap memperhatikan kaidah wudhu seperti yang telah disyari’atkan dalam ajaran agama.Untuk berwudhu, hal yang pokok adalah bagaimana cara mendapatkan air. Cara termudah untuk mengambil air wudhu ialah melalui pancuran atau kran air. Penggunaan kran dalam tempat wudhu berkaitan dengan efisiensi penggunaan air. Wudhu dilaksanakan melalui serangkaian gerakan tubuh. Dalam melakukan serangkaian gerakan tubuh tersebut, daat dilakukan baik pada posisi berdiri ataupun duduk. Masing-masing posisi berdiri ataupun duduk tersebut memiliki dimensi standar yang akan berguna dalam sebuah perancangan. Pada posisi berdiri maka kaki menerima beban seluruh badan, sedangkan pada posisi duduk beban badan langsung disalurkan ke tempat duduk, sehingga kaki terasa lebih rileks.Secara ergonomis, gerakan wudhu lebih nyaman jika dilakukan dalam posisi duduk. Untuk jarak ke samping, jarak antar kran minimal adalah 2,375 meter atau 2,40 meter dibagi dua yaitu 1,20 meter. Akan lebih baik jika antar kran atau masing-masing tempat wudhu diberi penyekat untuk menghindari air cipratan. Sejumlah tempat wudhu di Indonesia sebagian besar dibuat untuk melakukan wudhu dengan cara berdiri. Gerakan wudhu yang dilakukan dengan berdiri akan berbeda dengan cara duduk, karena pada cara wudhu berdiri, kaki yang bersangkutan menanggung beban badannya. Sedangkan pada cara wudhu duduk akan lebih rileks karena kaki yang bersangkutan tidak menanggung beban tubuhnya melainkan tubuh dibebankan pada tempat duduk.

[2]

Doa sebelum wudhu: “Allaahummaghfir lii dzanbii, Wawassi lii fii daarii, wabaarik Lii fii rizqii” Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosaku, lapangkanlah rumahku, dan berkahilah rejekiku.” Niat wudhu: “Nawaitul wudu‟a liraf‟il hadasil asgari farda lillahi ta‟ala” Artinya: “Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil fardu karena Allah Taala.” Doa sesudah wudhu:

, “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan „abduhu warasuluhu. Allahummaj‟alni minat tawwabina, waj‟alni minal mutatahhirina waj‟alni min „ibadikas-salihina” Artinya: “Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukan bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.” Untuk mengetahui rancangan tempat wudhu yang ideal dan mengakomodasi kenyamanan pengguna, perlu untuk mengetahui gerakan wudhu yang sesuai syariat. Berikut adalah gerakan wudhu sesuai dengan syariat Islam dan ergonomi ukuran tubuh dengan posisi berdiri:

[3]

Membasuh kedua telapak tangan 3 kali sampai pergelangan tangan dan menyelanyelai jari mulai dari yang kanan. Kondisi tubuh berdiri agak membungkuk mengikuti ketinggian kran air

[4]

Berkumur-kumur masing-masing 3 kali. Sikap tubuh berdiri agak membungkuk mengikuti ketinggian kran air

Membasuh lubang hidung dan menghirup air kedalam hidung (istinsyaq) dengan sungguh-sungguh, setelah itu mengeluarkan kembali sebanyak 3 kali.

Mencuci atau membasuh muka 3 kali mulai dari tempat tumbuhnya rambut. Batas muka yang wajib dibasuh yaitu mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala sebelah atas sampai kedua tulang dagu sebelah bawah, dan arah sampingnya mulai dari telinga kanan hingga ke telinga tiri.

[5]

Membasuhdan menggosok lengan dari siku sampai ujung jari mulai yang kanan masing-masing 3 kali.

[6]

Mencuci telinga dengan caramembasahi telinga dengan tangan dan memasukkan jari telunjuk dan ibu jari yang basah untuk membersihkan daun telinga, sebanyak 3 kali

Mengusap kepala sebanyak 3 kali. Mengusap kepala (bedakan dengan mencuci dan membasuh) beserta kedua telingan satu kali, yang dimulai dari bagian depan kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu mengembalikan ke depan kepalan

[7]

Mencuci kedua kaki sampai mata kaki sebanyak tiga kali. Yang dimaksud dengan mata kaki adalah benjolan yang ada dibawah tepian betis kiri dan kanan. Bagi orang yang cacat, tangan atau kakinya terpotong, maka ia harus mencuci bagian tangan atau kaki yang tersisa yang wajib dicuci.

3

“Model Rancangan Tempat Wudhu”

1.

Model Tempat Wudhu Berdiri

[8]

Untuk model tempat wudhu berdiri, tinggi kran berada pada kisaran 80cm-109cm. Jarak antar kran berkisar 80cm-100cm. Tempat wudhu memiliki tempat pijakan kaki(grill) dengan kemiringan 30° yang dapat mempermudah pengguna dalam melaksanakan kegiatan wudhu.

[9]

Potongan Tempat Wudhu Berdiri

[10]

2.

Model Tempat Wudhu Duduk

[11]

Untuk model tempat wudhu duduk, tinggi kran sama dengan posisi wudhu berdiri yaitu kisaran 80cm-109cm, dan jarak antar kran pada kisaran 80cm-100cm. Tempat duduk memiliki tinggi 40cm dan jarak dudukan dengan grill antara 30cm-40cm.

[12]

Detil Grill

[13]

4

“Alternatif Desain”

Alternatif Desain Fasilitas Tempat Wudhu Tempat wudhu yang baik, biasanya terdapat fasilitas tambahan untuk meletakkan asesoris tubuh yang masih terpakai saat memasuk i tempat wudhu. Oleh sebab itu, alternatif desain fasilitas tambahan tersebut sangat penting untuk disampaikan.

1. Alternatif Wudhu 1

Tempat

Pada alternatif 1, desain rak asesoris sangat sederhana, hanya menambahkan rak di samping dinding dengan jarak dari batas dinding keramik sekitar 30 cm. Lebar rak dari sisi dinding adalah 15 cm, cukup untuk meletakkan kacamata, jam tangan, maupun asesoris lainnya.

Tampak Depan Tempat Wudhu Berdiri [14]

Denah Detil

Potongan Tempat Wudhu Berdiri

Catatan:

Material yang digunakan untuk rak barang atau asesoris terbuat dari bahan yang ringan tapi kuat untuk menahan beban benda diatasnya. Dapat menggunakan alternatif dari stainless steel atau dari papan kayu.

2. Alternatif Tempat Wudhu 2 [15]

Potongan Detil

Alternatif 2 hampir sama dengan alternatif 1, hanya saja pada desain ini terdapat bagian dinding yang diceruk ke dalam sekitar ½ tebal , kemudian diberi rak tambahan ± 7,5-10 cm untuk memperlebar area tempat asesoris.

Tampak Depan Tempat Wudhu Berdiri

[16]

Denah Detil A

Potongan Tempat Wudhu Berdiri

Catatan:

Untuk rak barang atau asesoris pada desain ini sebaiknya menggunakan bahan yang ringan, karena terdapat pelubangan untuk menggantungkan jilbab. Tipe desain ini dapat diaplikasikan di tempat wudhu pria dan wanita.

[17]

Potongan Detil B

3. Alternatif Tempat Wudhu 3 Sedangkan alternatif 3 memiliki desain yang berbeda dibandingkan alternatif 1 dan 2. Terdapat sekat khusus untuk menggantungkan asesoris lain seperti jilbab, pecis, dan sarung. Ketinggian tempat asesoris tersebut lebih rendah dibandingkan dua desain sebelumnya, sehingga sekat tersebut dapat menghalangi air cipratan dari kegiatan wudhu. Material yang tepat adalah menggunakan bahan dinding partisi yang tahan terhadap air, ringan, dan tahan lama.

Tampak Depan

[18]

Denah Detil

Potongan Bangunan

[19]

Potongan Detil

Ketiga alternatif tersebut diatas merupakan desain tempat wudhu yang dilengkapi fasilitas untuk menambah kenyamanan pengguna dalam memenuhi kebutuhan ruang. Pilihan Kran Untuk Efisiensi Penggunaan Air 1. 2.

Penggunaan kran timer paling efisien disbanding dengan jenis kran lainnya, namun kelemahannya bahwa aliran air dari kran timer lebih kecil atau lemah Penggunakan kran sensor lebih efisien dalam penggunaan jenis kran lainnya selain kran timer, namun aliran air kran sensor cukup bisa dirasakan nyaman dan tidak terlalu kecil atau lemah alirannya. Karena kran sensor menggunakan tenaga listrik, maka kran sensor perlu dikembangkan dengan penggunaan energi matahari ( solar cell).

Kran Sensor Elektronik

[20]

5

“Tata Ruang Wudhu” pada Masjid

1.

Tempat wudhu yang menempel pada bangunan masjid Urutan kegiatan wudhu dan masuk masjid: b) Pengunjung (pewudhu) menuju pintu masuk masjid melepas sandal dan berjalan menuju tempat wudhu melalui jalan setapak (tidak suci) c) Membilas kaki di kolam bilas yang berada di pintu pasuk temapt wudhu dan selanjutnya melangkah mendekati kran wudhu d) Melakukan kegiatan wudhu e) Selesai wudhu langsung melangkah menuju ruang sholat di dalam masjid (sandal ada di depan masjid)

[21]

2.

Tempat wudhu yang terpisah dari bangunan masjid Urutan kegiatan wudhu dan masuk masjid: a) Pengunjung menuju tempat wudhu dengan menggunakan sandal b) Sandal dilepas dekat jalan setapak dan pengunjung masuk ruang wudhu lewat pintu kolam bilas c) Kegiatan wudhu d) Keluar melalui kolam bilas pintu keluar e) Pewudhu/pengunjung enggunakan sandal lewat jalan setapak f) Setelah sandal dipakai, pewudhu menuju pintu masjid, melepas sandal dan masuk tempat sholat di dalam masjid.

Catatan: jarak antara Masjid dan Tempat Wudhu bisa bervariasi sesuai kondisi lahan/pekarangan yangtersedia

[22]

Hal yang penting bahwa tempat wudhu dibuat dua buah dengan bentuk yang sama dimana tempat wudhu sebelah kiri bangunan masjid untuk wanita dan tempat sebelah kanan bangunan masjid diperuntukkan bagi pria

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, S.F. 1989, Sifat Wudhu Nabi SAW. Terjemahan: Abu Al Hasan. 2005. Yogyakarta: Maktabah Al Hanif. Albayati, Abu Abdirrohman, 2008, TATA CARA BERWUDHU MENURUT AL’QURAN DAN SUNNAH NABI, Pustaka Al Bayaty Al-Jibrin, S.A.A. 2007. Kajian Islam: Tatacara Berwudhu, diakses pada tanggal 19 Maret 2008 dari Almath, M.F. 1974, 1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad. Terjemahan Bisyaharil A.A.S (penerjemah) dan Karimah, I (editor), 1991. Jakarta: Gema Insani Press. Al-thasia.com, 2008, Tata Cara Wudhu, diakses pada tanggal 11 Februari 2008 dari http://www.al-tshia.com/html/id/ahkam/wudhu.htm Al-Washithiyah, A.H. 2007, The True Power of Wudhu: Di Balik Keanehan dan Keajaiban Wudhu. Yogyakarta: Media Insani. Gazalba, Sidi, 1989, Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Alhusna Liliana, dkk, 2007, “Pertimbangan Antropometri Pada Pendisainan” paper dalam Seminar Nasional III SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta, 21-22 November 2007 Neufert, E. 1997. Data Arsitek Jilid 1 Edisi 33. Alih Bahasa: Sunarto Tjahjadi. Editor: Purnomo Wahyu Indarto. Jakarta: Erlangga. Oborne D,J. 1982. Ergonomic at Work. Jon Wiley and Sons. Ltd. London Panero, Julius dan Zelnik, Martin. 1979. Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Penerbit Erlangga. Jakarta PlazaSMARTMUSLIM. 2008. Saniter Wudhu, diakses pada tanggal 11 Februari 2008 dari http://ads.eramuslim.com/plaza Pulat, BM. 1992. Fundamental of Industrial Ergonomic. Prectise Hall Englewood Cliffs New Jersey Rochim, Abdul, 1983, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, Bandung: Angkasa Satar, AA. 2005. A Quest of The Spirit, diakses pada tanggal 19 Maret 2008 dari Sumalyo, Yulianto, 2000, Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim, Yogyakarta: Gajah Mada University Press Suparwoko, dan Jannah, Sofwan, 2009, MODEL TEMPAT WUDHU MASJID DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERBASIS TATA RUANG, ERGONOMI, DAN EFISIENSI PEMANFAATAN AIR, Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Tahun Pertama Suparwoko, dan Jannah, Sofwan, 2010, MODEL TEMPAT WUDHU MASJID DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERBASIS TATA RUANG, ERGONOMI, DAN EFISIENSI PEMANFAATAN AIR, Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Tahun Kedua Susanta, G., Amin, C., dan Kautsar, R., 2007, Membangun Masjid dan Mushola, Jakarta: Penebar Sawdaya Wiryoprawiri, Zein. M., 1986, Perkembangan Arsitektur Masjid di Jawa Timur, Surabaya: PT. Bina Ilmu

[23]

View more...

Comments

Copyright © 2017 EDOC Inc.